Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) belum sepenuhnya menekan mata uang Asia. Won Korea Selatan (KRW) dan yuan China (CNY) masih menarik untuk dicermati di tengah penguatan US Dollar Index (DXY) yang bertahan di atas level 101.
Berdasarkan data Trading Economics, Kamis (24/9/2026) pukul 16.00 WIB, DXY berada di level 101,085, naik 0,07% secara harian, 0,85% dalam sepekan, dan 2,17% dalam sebulan.
Di pasar Asia, won Korea Selatan berada di level 1.370,34 per dolar AS. Won melemah 0,31% secara harian, tetapi masih menguat 0,80% dalam sepekan. Penguatan mingguan won tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan sejumlah mata uang Asia yang dipantau.
Baca Juga: UU Reforma Agraria Disahkan, Ciputra (CTRA) Tegaskan Jaga Land Bank
Sementara itu, yuan China berada di level 6,71 per dolar AS. Yuan melemah 0,06% secara harian dan 0,16% dalam sepekan.
Sebagai pembanding, rupiah berada di level Rp 17.924 per dolar AS atau melemah 0,79% dalam sepekan. Rupee India melemah 0,27%, sedangkan yen Jepang melemah paling dalam sebesar 1,53% ke level 158,52 per dolar AS.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, won masih mendapat dukungan dari kuatnya industri teknologi Korea Selatan, termasuk sektor artificial intelligence (AI). Namun, pergerakan won juga cukup sensitif terhadap perubahan sentimen global.
"Won Korea paling mudah naik-turun. Won juga didukung industri teknologi Korea yang sedang kuat," kata Sutopo kepada Kontan, Kamis (24/9/2026).
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, sektor teknologi dan semikonduktor juga menjadi salah satu faktor yang menopang won. Apabila sentimen terhadap AI dan ekspor chip tetap kuat, kondisi tersebut dapat membantu menahan tekanan penguatan dolar AS terhadap won.
"KRW didukung sentimen kuat teknologi dan semikonduktor. Jika sentimen AI dan ekspor chip tetap kuat, ini bisa membantu menahan tekanan dari dolar," tuturnya.
Di sisi lain, yuan China relatif mendapat dukungan dari kebijakan bank sentral China atau People's Bank of China (PBOC) dan upaya stabilisasi yuan. Kondisi tersebut membuat yuan relatif mampu bertahan meski dolar AS menguat.
"CNY relatif menarik karena masih mendapat dukungan dari kebijakan PBOC dan stabilisasi yuan. Bahkan pada awal pekan yuan sempat mencapai level terkuat lebih dari 3,5 tahun," kata Lukman.
Menurut Sutopo, yuan juga cenderung lebih stabil dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya. Namun, perkembangan hubungan dagang AS-China masih menjadi risiko yang perlu dicermati.
"Yuan menarik sebagai mata uang yang paling stabil. Belum ada kesepakatan untuk memperpanjang gencatan tarif AS-China yang berakhir November, jadi itu perlu diwaspadai," ujarnya.
Meski demikian, pergerakan won dan yuan tetap akan dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter AS. Jika DXY mampu bertahan di atas level 100 dan The Fed kembali menaikkan suku bunga, tekanan terhadap mata uang Asia berpotensi meningkat.
Selain itu, kenaikan harga minyak juga menjadi risiko bagi mata uang Asia, termasuk won. Sutopo mengatakan, kenaikan harga minyak dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi sentimen pasar.
Hingga akhir 2026, Sutopo memperkirakan USD/KRW berada di kisaran 1.370-1.430, USD/CNY 6,70-6,78, USD/IDR Rp 17.900-Rp 18.300, dan USD/INR 96,0-97,5.
Sementara itu, Lukman memperkirakan USD/KRW berada di kisaran 1.400-1.450 dan USD/CNY 6,70-6,85 per dolar AS hingga akhir tahun.
Baca Juga: Rupiah Kembali Tertekan, Mendekati Rp 18.000 per Dolar AS
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














