Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap rupiah kembali meningkat. Penguatan dolar AS, lonjakan imbal hasil global, hingga harga minyak mentah yang masih tinggi menjadi kombinasi sentimen eksternal yang menekan pergerakan rupiah.
Melansir Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,55% secara harian ke level Rp 17.916 per dolar AS pada Kamis (24/9/2026).
Sejalan dengan itu, kurs rupiah JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) pun ikut melemah 0,53% secara harian menjadi Rp 17.898 per dolar AS.
Baca Juga: Dolar AS Makin Perkasa, Won dan Yuan Masih Menarik Dicermati
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari kondisi eksternal, terutama harga minyak mentah yang masih tinggi hingga di atas US$ 100 per barel, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Risiko tersebut semakin besar dengan adanya fenomena El Nino yang dapat meningkatkan gangguan terhadap produksi dan pasokan pangan.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap sejumlah indikator ekonomi Indonesia yang akan dirilis pada awal Oktober. Ia memperkirakan neraca perdagangan Indonesia yang sebelumnya mencatat surplus berpotensi kembali defisit pada Agustus.
Selain itu, inflasi Agustus diperkirakan lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Ibrahim juga memperkirakan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur September masih berpotensi berada di zona kontraksi.
"Cadangan devisa kemungkinan menyusut akibat intervensi di pasar NDF, sedangkan indeks keyakinan konsumen kemungkinan turun dari Agustus," ujar Ibrahim, Kamis (24/9/2026).
Di tengah kondisi tersebut, keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75% pada RDG BI September kemarin disebut perlu dilihat dari kondisi eksternal yang masih penuh tekanan.
Ibrahim mengatakan, sejumlah ekonom memperingatkan bahwa keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan selama tiga bulan berturut-turut dapat menjadi jeda sementara. Pasalnya, risiko eksternal masih tinggi seiring kenaikan imbal hasil global, harga minyak yang fluktuatif, serta ketegangan geopolitik.
Menurut dia, jika tekanan terhadap mata uang kawasan terus berlanjut, BI perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten.
Di sisi global, ekspektasi terhadap arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed) juga menjadi perhatian pasar. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan Oktober mencapai 69,7%, naik dari 48,7% pada pekan sebelumnya.
Kondisi tersebut berpotensi menjaga penguatan dolar AS sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Maka untuk perdagangan Jumat (25/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak dalam rentang Rp 17.910-Rp 18.000 per dolar AS.
Baca Juga: UU Reforma Agraria Disahkan, Ciputra (CTRA) Tegaskan Jaga Land Bank
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














