Reporter: Vivit Dewi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah akan kembali menawarkan surat berharga negara (SBN) ritel pada pengujung tahun melalui Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 dan Sukuk Tabungan (ST) seri ST017.
Kedua seri tersebut akan diterbitkan saat yield SBN masih berada di level tinggi. Berdasarkan data PHEI, Rabu (16/9/2026), yield SBN Indonesia tenor 10 tahun berada di level 7,16%, naik 0,06 poin persentase dalam sebulan terakhir dan 0,83 poin persentase dibandingkan setahun lalu.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mengatakan, kondisi yield yang tinggi membuat persaingan antar instrumen investasi semakin menjadi pertimbangan bagi investor. Karena itu, tingkat imbal hasil yang ditawarkan SBN ritel akan menjadi salah satu faktor yang menentukan daya tarik penerbitan berikutnya.
Baca Juga: The Fed Diproyeksi Kerek Suku Bunga, Begini Prospek Pasar Keuangan Indonesia
Untuk SBR015 dan ST017, David menggunakan pola selisih imbal hasil (spread) seri sebelumnya terhadap suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebagai acuan memperkirakan besaran kupon awal.
“Dengan mengacu pola spread historis, SBR014 sebesar 75-85 bps dan ST016 130-150 bps di atas BI Rate, dengan BI Rate saat ini 5,75%, kupon awal SBR015 diperkirakan berkisar 6,50%-6,85% dan ST017 6,75%-7,10%,” kata David kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).
Menurut David, level kupon tersebut masih cukup menarik setelah memperhitungkan pajak. Skema floating with floor yang digunakan SBR015 dan ST017 juga memberikan batas minimum kupon sekaligus ruang penyesuaian ketika suku bunga berubah.
Namun, masa penawaran yang berdekatan dengan akhir tahun dapat menjadi tantangan tersendiri. Alokasi dana rumah tangga berpotensi lebih ketat karena kebutuhan pengeluaran pada periode tersebut.
“Namun tantangan dari masa penawaran yang berdekatan dengan akhir tahun bisa membuat alokasi dana rumah tangga cenderung lebih ketat,” ujarnya.
Meski ada tantangan tersebut, David memperkirakan target penerbitan SBN ritel pemerintah pada 2026 secara keseluruhan masih berpeluang tercapai. Realisasi setiap seri akan bergantung pada seberapa kompetitif kupon yang ditawarkan.
“Secara total, target penerbitan SBN ritel 2026 kemungkinan tetap tercapai, namun realisasi per seri tetap bergantung pada seberapa kompetitif kupon yang ditawarkan,” kata David.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham BMRI, ESSA, dan MBMA untuk Kamis (17/9)
Sebagai informasi, SBR015 dijadwalkan memasuki masa penawaran pada 28 September-22 Oktober 2026. Selanjutnya, ST017 akan ditawarkan pada 6 November-2 Desember 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














