kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.593.000   1.000   0,04%
  • USD/IDR 17.693   -14,00   -0,08%
  • IDX 6.437   -24,30   -0,38%
  • KOMPAS100 850   -5,62   -0,66%
  • LQ45 647   -3,80   -0,58%
  • ISSI 223   -0,27   -0,12%
  • IDX30 359   -2,55   -0,71%
  • IDXHIDIV20 447   -3,40   -0,76%
  • IDX80 97   -0,66   -0,67%
  • IDXV30 124   -0,63   -0,51%
  • IDXQ30 116   -0,92   -0,79%

The Fed Diproyeksi Kerek Suku Bunga, Begini Prospek Pasar Keuangan Indonesia


Rabu, 16 September 2026 / 17:33 WIB
The Fed Diproyeksi Kerek Suku Bunga, Begini Prospek Pasar Keuangan Indonesia
ILUSTRASI. Pasar keuangan dibayangi volatilitas jelang keputusan suku bunga Federal Reserve dalam Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026 (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar keuangan Indonesia masih dibayangi volatilitas menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026.

Dicermati, Sebagian besar pelaku pasar telah mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin (bps) pada FOMC kali ini. Karena itu, respons pasar domestik setelah keputusan FOMC akan lebih banyak ditentukan oleh arah kebijakan The Fed ke depan, terutama melalui forward guidance dan proyeksi ekonomi.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, mengatakan dampak keputusan The Fed terhadap berbagai aset keuangan domestik tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi transmisi dari perubahan likuiditas global dan sentimen terhadap aset berisiko.

Dari sisi nilai tukar misalnya, rupiah berpotensi menghadapi tekanan jangka pendek apabila The Fed menaikkan suku bunga. Kenaikan suku bunga AS akan menjaga imbal hasil aset berbasis dolar AS tetap tinggi sehingga berpotensi mendorong arus modal keluar (capital outflow) dari pasar domestik menuju instrumen yang dinilai lebih aman di Amerika Serikat. 

Baca Juga: Summarecon Agung (SMRA) Buka Suara Pasca Bos Besar Terjaring OTT KPK

“Di sinilah efektivitas respons bauran kebijakan Bank Indonesia diuji. Pasar akan mencermati seberapa kuat instrumen stabilisasi seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sukuk Valas Bank Indonesia (SVBI/SUVBI), serta strategi triple intervention meredam volatilitas nilai tukar agar tidak merembet liar ke sektor riil,” jelas Rahma kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).

Sementara itu, pada pasar Surat Berharga Negara (SBN), ekspektasi pengetatan moneter global berpotensi mendorong kurva imbal hasil (yield) obligasi domestik bergeser naik.

Dengan demikian, harga obligasi berpotensi tertekan dan investor meminta premi risiko lebih tinggi. Kenaikan yield SBN acuan tersebut pada akhirnya berpotensi meningkatkan biaya pendanaan di pasar keuangan, baik untuk penerbitan obligasi korporasi maupun suku bunga pinjaman perbankan.

Sedangkan pada pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami koreksi atau bergerak dalam konsolidasi melemah. Tekanan terutama dapat terjadi pada saham perbankan, properti, serta emiten dengan rasio utang valas yang tinggi.

“Jika probabilitas kenaikan suku bunga ini telah fully priced-in, tekanan di pasar saham mungkin tidak akan terlalu dramatis. Namun, reaksi volatil akan sangat ditentukan oleh forward guidance apakah kenaikan ini bersifat satu kali (one-off) atau menjadi awal dari siklus pengetatan lanjutan,” tandasnya.

Rahma menambahkan, pasar juga tidak hanya akan mencermati keputusan suku bunga, tetapi proyeksi ekonomi (summary of economic projections atau SEP) yang dirilis bersamaan dengan FOMC.

Baca Juga: Rupiah Dibayangi Gejolak Minyak & FOMC, Begini Proyeksi Pergerakannya Kamis (17/9)

Apabila komunikasi The Fed mengindikasikan bahwa tekanan inflasi masih mendorong bank sentral AS untuk mempertahankan pengetatan kebijakan hingga akhir tahun, pasar keuangan Indonesia akan membutuhkan bauran kebijakan moneter dan fiskal yang disiplin untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Di tengah kondisi tersebut, Rahma memperkirakan rupiah hingga akhir 2026 berada dalam rentang Rp 17.300–Rp 17.800 per dolar AS. Menurut dia, ruang gerak rupiah masih sangat dipengaruhi oleh seberapa agresif kebijakan higher for longer The Fed dan arah indeks dolar AS atau DXY.

Meski tekanan depresiasi masih berasal dari sentimen global dan kebutuhan valas korporasi, instrumen stabilisasi BI seperti triple intervention, SRBI, SVBI, SUVBI, serta insentif lindung nilai diharapkan dapat menjadi jangkar bagi rupiah agar tidak melemah terlalu jauh dari level fundamentalnya.

Untuk SBN, Rahma memproyeksikan yield SBN tenor 10 tahun berada pada kisaran 7,0%–7,4% hingga akhir 2026. Ia memandang penyesuaian suku bunga global dan domestik, dengan BI-Rate dipertahankan pada level sekitar 5,75%, membuat kurva yield tetap berada pada level tinggi.

Sementara itu, untuk pasar saham, Rahma memproyeksikan IHSG pada akhir 2026 berada di rentang 7.000–7.500. Menurut dia, valuasi IHSG yang sebelumnya berada pada level relatif rendah secara historis dapat menjadi salah satu penopang.

Baca Juga: Investor Terus Bertambah, SBN Ritel Masih Diminati

Namun, penguatan hingga akhir tahun akan sangat bergantung pada kepastian tata kelola pasar modal, pemulihan likuiditas domestik, serta rotasi sektor.

“Emiten blue-chip di sektor perbankan dan komoditas juga menjadi salah satu perhatian investor di tengah sikap wait and see terhadap arah suku bunga The Fed lanjutan,” pungkas Rahma.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×