Reporter: Adi Wikanto, Vendy Yhulia Susanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. JAKARTA. Masa penawaran Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 telah berakhir pada 30 Juli 2026. Namun, masyarakat masih memiliki sejumlah kesempatan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) ritel hingga penghujung tahun.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penjualan SBN ritel seri ORI030 telah terjual Rp 40 triliun. Minat investasi SBN ritel diproyeksi tetap terjaga hingga akhir tahun 2026.
Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kemenkeu, Novi Puspita Wardani mengatakan, tingginya animo investor terhadap ORI030 karena karakteristik ORI yang menawarkan kupon tetap, dijamin pemerintah, dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder menjadikannya instrumen yang menarik, khususnya di tengah kondisi pasar keuangan yang masih cukup volatil.
Penyerapan ORI030 yang tinggi ini juga karena adanya reinvestasi yang dilakukan investor. Adanya kebutuhan reinvestasi karena selama masa penawaran ORI030 terdapat dua seri SBN Ritel yang jatuh tempo, yaitu ORI023-T3 dan SBR013-T2.
Berdasarkan kalender penerbitan pemerintah, masih ada empat instrumen SBN ritel yang dijadwalkan ditawarkan setelah ORI030. Keempatnya adalah Sukuk Ritel (SR) seri SR025, Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) Ritel seri SWR007, Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015, dan Sukuk Tabungan (ST) seri ST017.
Sebagai catatan, jadwal tersebut masih bersifat tentatif dan dapat berubah mengikuti kebijakan pemerintah. Pemerintah sebelumnya menyampaikan bahwa perubahan jadwal penerbitan SBN ritel biasanya tidak terlalu jauh dari rencana awal.
Dengan demikian, investor yang belum sempat membeli ORI030 masih memiliki beberapa alternatif untuk menempatkan dana secara bertahap sesuai karakter dan tujuan investasinya.
Baca Juga: Kinerja Siloam Moncer di Semester I-2026, Cek Prospek dan Rekomendasi Saham SILO
1. SR025, SBN ritel terdekat setelah ORI030
Instrumen SBN ritel yang dijadwalkan terbit paling dekat setelah ORI030 adalah Sukuk Ritel seri SR025.
Berdasarkan kalender penerbitan pemerintah, masa penawaran SR025 dijadwalkan berlangsung pada 21 Agustus hingga 16 September 2026.
SR merupakan instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Karakter ini membedakannya dari Sukuk Tabungan (ST) yang bersifat non-tradable.
Selain dapat diperdagangkan, SR menggunakan imbalan tetap. Artinya, tingkat imbalan yang ditetapkan pemerintah pada saat penerbitan akan tetap hingga jatuh tempo.
Sebagai pembanding, SR024 yang diterbitkan sebelumnya menawarkan dua pilihan tenor, yakni tiga tahun dan lima tahun. Masing-masing memiliki imbalan tetap sebesar 5,55% dan 5,90% per tahun.
Penerbitan SR024 berhasil menghimpun dana Rp 17,49 triliun dan hasilnya digunakan untuk pembiayaan APBN 2026.
Namun, investor sebaiknya tidak menjadikan tingkat imbalan SR024 sebagai patokan untuk SR025. Besaran kupon, tenor, batas maksimum pembelian dan ketentuan lainnya baru dapat dipastikan setelah pemerintah menerbitkan informasi resmi SR025.
Karena bersifat tradable, SR025 dapat menjadi pilihan bagi investor yang menginginkan peluang memperoleh pendapatan tetap sekaligus memiliki opsi menjual kepemilikan di pasar sekunder.
Meski demikian, harga SR di pasar sekunder dapat bergerak naik atau turun mengikuti kondisi pasar. Karena itu, investor yang menjual sebelum jatuh tempo tetap menghadapi risiko capital gain maupun capital loss.
Tonton: Prabowo Coba Genteng Dibanting hingga Minum Air Laut Hasil Riset BRIN
2. SWR007, SBN untuk wakaf uang
Setelah SR025, pemerintah juga menjadwalkan penerbitan Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) Ritel seri SWR007.
Masa penawaran SWR007 dijadwalkan pada 4 September hingga 21 Oktober 2026. Periode tersebut akan beririsan dengan masa penawaran SR025.
Namun, SWR memiliki tujuan yang berbeda dari SBN ritel seperti ORI, SR, SBR maupun ST. Instrumen ini dirancang untuk memfasilitasi wakaf uang melalui surat berharga syariah negara.
Pada CWLS Ritel, imbalan yang dihasilkan dari instrumen tersebut disalurkan melalui nazhir untuk mendukung program sosial. Dengan karakter tersebut, SWR lebih tepat dipandang sebagai instrumen wakaf produktif sekaligus investasi sosial, bukan semata-mata instrumen untuk mengejar keuntungan pribadi.
Sebagai gambaran, pada SWR006 pemerintah menetapkan minimum pemesanan Rp 1 juta tanpa batas maksimum. Instrumen tersebut juga tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.
Adapun ketentuan lengkap, termasuk karakteristik SWR007, perlu menunggu memorandum informasi resmi pemerintah.
Tonton: AS Siap Cabut Blokade Pelabuhan Iran Jika Kesepakatan Selat Hormuz Tercapai
3. SBR015, pilihan bagi investor yang tidak mengejar likuiditas pasar
Berikutnya, pemerintah menjadwalkan penerbitan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 pada 28 September hingga 22 Oktober 2026.
SBR memiliki karakter berbeda dari ORI dan SR. Instrumen ini tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.
Sebagai gantinya, pemerintah menyediakan fasilitas early redemption dengan persyaratan tertentu. Dengan mekanisme tersebut, investor tetap memiliki opsi pencairan sebagian investasi sebelum jatuh tempo, tetapi tidak sebebas menjual obligasi yang bersifat tradable di pasar sekunder.
SBR juga menggunakan skema kupon floating with floor. Artinya, tingkat kupon dapat berubah mengikuti perkembangan suku bunga acuan, tetapi memiliki batas minimum.
Karakter tersebut membuat SBR lebih sesuai bagi investor yang menginginkan instrumen dengan tingkat kupon mengambang namun tetap memiliki batas bawah, serta tidak membutuhkan fleksibilitas untuk memperjualbelikannya di pasar sekunder.
Investor tetap perlu memperhatikan bahwa floating with floor berarti tingkat kupon tidak otomatis tetap sepanjang tenor. Besaran kupon awal, tenor, batas maksimum pembelian dan mekanisme early redemption SBR015 akan mengikuti ketentuan resmi saat masa penawaran.
4. ST017 menjadi SBN ritel penutup 2026
SBN ritel terakhir yang dijadwalkan pemerintah pada 2026 adalah Sukuk Tabungan seri ST017.
Masa penawaran ST017 dijadwalkan berlangsung pada 6 November hingga 2 Desember 2026.
ST merupakan instrumen SBSN ritel dengan karakteristik yang mirip SBR. Instrumen ini tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, tetapi pemerintah menyediakan fasilitas early redemption sesuai ketentuan penerbitan.
Imbalan ST juga menggunakan skema floating with floor.
Sebagai pembanding, pada penerbitan ST016, pemerintah menawarkan ST016T2 dengan imbalan 6,05% per tahun dan ST016T4 sebesar 6,25% per tahun. Kedua instrumen tersebut bersifat non-tradable dan menggunakan skema floating with floor.
Penerbitan ST016 juga menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap instrumen tersebut. Kementerian Keuangan mencatat hasil penjualan ST016 mencapai sekitar Rp 22 triliun.
Namun, seperti SBR015, investor tidak seharusnya menggunakan tingkat imbalan ST016 sebagai patokan pasti untuk ST017. Besaran imbalan dan seluruh ketentuan ST017 tetap menunggu pengumuman resmi pemerintah.
Jadwal SBN ritel setelah ORI030
Jika tidak ada perubahan, berikut jadwal empat SBN ritel yang masih akan ditawarkan pemerintah hingga akhir 2026:
| Seri | Instrumen | Jadwal penawaran |
|---|---|---|
| SR025 | Sukuk Ritel | 21 Agustus-16 September 2026 |
| SWR007 | CWLS Ritel | 4 September-21 Oktober 2026 |
| SBR015 | Savings Bond Ritel | 28 September-22 Oktober 2026 |
| ST017 | Sukuk Tabungan | 6 November-2 Desember 2026 |
Tonton: Indonesia Siapkan Larangan Ekspor Rare Earth, Harta Karun Mineral Dunia
Jadwal tersebut merupakan rencana dan masih dapat berubah. Kalender penerbitan 2026 secara keseluruhan mencakup delapan seri SBN ritel, mulai ORI029, SR024, ST016, ORI030 hingga empat seri yang akan ditawarkan pada paruh kedua tahun ini.
Bagi investor, perbedaan paling penting bukan hanya tingkat kupon atau imbalan, tetapi juga karakter instrumennya.
SR025 bersifat tradable dengan imbalan tetap. Sementara itu, SBR015 dan ST017 tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder dan menggunakan skema floating with floor. Adapun SWR007 memiliki tujuan khusus untuk memfasilitasi wakaf uang.
Karena itu, pilihan SBN ritel sebaiknya disesuaikan dengan tujuan investasi, kebutuhan likuiditas, preferensi terhadap instrumen konvensional atau syariah, serta kemampuan menahan investasi hingga jatuh tempo.
Pemerintah sendiri menargetkan penghimpunan dana melalui SBN ritel pada 2026 sekitar Rp 150 triliun hingga Rp 170 triliun. Besarnya target tersebut menunjukkan bahwa SBN ritel tetap menjadi salah satu instrumen penting dalam pembiayaan APBN sekaligus membuka akses investasi surat utang negara bagi masyarakat.
Sebagian artikel telah tayang di https://money.kompas.com/read/2026/08/08/204000626/setelah-ori030-ini-daftar-sbn-ritel-yang-terbit-hingga-akhir-2026?page=all#page2.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
