Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten pusat data atau data center, PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) tengah melakukan transformasi bisnis dari perdagangan menjadi penyedia infrastruktur komputasi dan data center berbasis kecerdasan buatan.
Transformasi tersebut berlangsung ketika kinerja MGLV masih tertekan. Per Juni 2026, pendapatan bersih MGLV anjlok 74,56% menjadi Rp 26,14 miliar dan berbalik rugi neto Rp 14,11 miliar.
Pada periode yang sama tahun sebelumnya, MGLV masih membukukan pendapatan Rp 102,75 miliar, laba kotor Rp 40,60 miliar, laba usaha Rp 11,73 miliar, serta laba neto Rp 9,64 miliar.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Tertekan Jangka Pendek Jika Suku Bunga The Fed Naik
Direktur dan Sekretaris Perusahaan NexAI Putra Harianto Batee menyampaikan kinerja tersebut belum mencerminkan bisnis MGLV setelah transaksi akuisisi dan perubahan kegiatan usaha pada September 2026.
“Informasi keuangan di atas mencerminkan kondisi perseroan sebelum pelaksanaan transaksi akuisisi dan persetujuan perubahan kegiatan usaha pada September 2026,” jelasnya dalam paparan publik, Rabu (16/9/2026).
Perubahan arah bisnis dilakukan setelah PT Nextier Datamate Center (NDC) menjadi pemegang saham pengendali MGLV pada Februari 2026. Kemudian pada 7 September 2026, RUPSLB menyetujui perubahan kegiatan usaha MGLV.
Dalam rangka transformasi tersebut, MGLV pada 7 September 2026 telah menuntaskan akuisisi 99,9% saham PT Nextier Askara Center (NAC) dan PT Nextier GenAi Center (NGC). Sehari setelahnya, MGLV mendivestasikan 13 perusahaan anak.
Melalui NAC, MGLV telah mengoperasikan data center berkapasitas 6 MW di Jababeka dan mengembangkan tambahan 36 MW. Sementara itu, NGC tengah mengembangkan data center berbasis AI berkapasitas 60 MW di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).
Putra menjelaskan langkah MLGV masuk ke bisnis pusat data tersebut didorong oleh momentum pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital dan kecerdasan buatan. Manajemen MGLV menilai kesempatan tersebut layak diambil setelah memperoleh persetujuan pemegang saham.
Baca Juga: The Fed Bayangi Pasar Keuangan, Rupiah Paling Cepat Merespons FOMC
Untuk mendukung ekspansi tersebut, MGLV tengah menjalankan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I dengan target dana maksimal Rp 2,54 triliun.
Rencananya, sekitar Rp 668,61 miliar dari dana rights issue akan digunakan untuk mengambil alih piutang NDC kepada NAC dan NGC. Sementara sekitar Rp 1,60 triliun dialokasikan sebagai setoran modal.
Dari setoran modal tersebut, sekitar Rp 1 triliun akan disalurkan kepada NGC untuk pembangunan data center di KITB. Adapun sekitar Rp 600 miliar akan diberikan kepada NAC untuk pengembangan data center di Jababeka.
Dengan harga pelaksanaan Rp 8.880 per saham, MGLV akan menerbitkan maksimal 285,73 juta saham baru atau setara 13,04% dari modal setelah rights issue. NDC sebagai pemegang saham utama berkomitmen mengambil seluruh 186 juta HMETD miliknya.
Selain rights issue, MGLV juga memiliki fasilitas pinjaman pemegang saham dari NDC maksimal Rp 4 triliun dengan bunga 7% per tahun. Fasilitas tersebut ditujukan untuk pengembangan data center di Jababeka dan Batang hingga 31 Desember 2028.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














