kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   23.000   0,89%
  • USD/IDR 17.924   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.242   -56,72   -0,90%
  • KOMPAS100 813   -5,85   -0,71%
  • LQ45 621   -2,15   -0,35%
  • ISSI 215   -3,31   -1,52%
  • IDX30 344   -1,09   -0,32%
  • IDXHIDIV20 429   0,02   0,00%
  • IDX80 93   -0,53   -0,57%
  • IDXV30 116   -0,90   -0,76%
  • IDXQ30 111   -0,10   -0,09%

Saham Second Liner Masih Prospektif hingga Akhir 2026, Ini Katalisnya


Sabtu, 26 September 2026 / 17:30 WIB
Saham Second Liner Masih Prospektif hingga Akhir 2026, Ini Katalisnya
ILUSTRASI. Saham lapis kedua atau second liner menunjukkan daya tahan yang relatif lebih baik dibandingkan sejumlah indeks saham utama sepanjang 2026 (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham lapis kedua atau second liner menunjukkan daya tahan yang relatif lebih baik dibandingkan sejumlah indeks saham utama sepanjang 2026. Meski masih berada di zona negatif sejak awal tahun, sejumlah saham second liner dinilai memiliki katalis yang dapat menopang kinerja hingga akhir 2026 dan berlanjut ke 2027.

Berdasarkan data per 25 September 2026, IDX SMC Composite tercatat turun 21,80% secara year to date (YTD). Sementara itu, IDX SMC Liquid terkoreksi 16,29% YTD.

Kinerja tersebut relatif lebih baik dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perdagangan Jumat (25/9/2026), IHSG berada di level 6.241 atau turun 27,81% sejak awal tahun.

Sejumlah indeks saham utama lainnya juga mencatatkan koreksi lebih dalam dibandingkan indeks saham second liner. Indeks LQ45 turun 26,63% YTD, sedangkan IDX80 terkoreksi 29,90% YTD.

Adapun IDX30 mencatatkan penurunan 21,29% YTD, sehingga koreksinya relatif lebih kecil dibandingkan IHSG, LQ45, dan IDX80.

Baca Juga: Emas Dunia Terkoreksi, Emas Antam Masih Punya Bantalan Rupiah

Analis Phillip Sekuritas Helen Vincentia menilai saham lapis kedua berpeluang mencatatkan kinerja lebih baik dibandingkan IHSG karena terjadi rotasi investasi ketika pasar saham mengalami tekanan.

“Pelaku pasar mencari alternatif saham lainnya yang memiliki kinerja baik atau sektor yang tengah dianggap potensial,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).

Saham Second Liner dan Outperformance Relatif

Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan, kinerja saham lapis dua yang lebih baik dibandingkan IHSG dan sejumlah indeks utama perlu dilihat sebagai outperformance relatif.

“Sebab, meskipun masih lebih baik dari IHSG dan indeks utama, saham-saham second liner tetap mencatatkan penurunan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).

Menurut Harry, sektor yang relatif menarik di kelompok second liner antara lain emiten emas yang masuk sektor basic materials, pertambangan dan energi, perkebunan, serta sejumlah saham infrastruktur.

Pergerakan tersebut terlihat pada sejumlah emiten, seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS).

Namun, Harry mengingatkan bahwa kenaikan harga saham tidak selalu mencerminkan penguatan fundamental perusahaan. Sebagian saham lapis kedua masih dapat bergerak karena faktor likuiditas, aksi korporasi, maupun momentum pasar.

“Artinya, perlu dibedakan dengan emiten yang memang mencatat pertumbuhan laba,” ungkapnya.

Tiga Faktor Penggerak Saham Second Liner

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan terdapat tiga faktor utama yang menjadi penggerak saham second liner.

Pertama adalah rotasi likuiditas dari saham berkapitalisasi besar atau big caps menuju saham yang memiliki katalis spesifik perusahaan.

Baca Juga: Pasar Obligasi Dibayangi Suku Bunga AS, Yield SUN 10 Tahun Diproyeksi 7,05%-7,20%

Tekanan investor asing masih terlihat pada sejumlah saham bank besar dan telekomunikasi. Per 25 September 2026, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat foreign outflow sebesar Rp 1,1 triliun dalam sepekan.

Pada periode yang sama, foreign outflow PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencapai Rp 676,34 miliar, sedangkan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp 478,55 miliar dalam sepekan.

“Sebaliknya, beberapa saham non-big-cap justru masih memperoleh aliran dana asing dalam sepekan, seperti COIN dan TINS,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (25/9).

Kedua, faktor komposisi sektor. Saham lapis dua cukup banyak berasal dari sektor komoditas, hilirisasi, energi, konstruksi industri, kesehatan, dan consumer discretionary.

“Sejumlah sektor itu saat ini mempunyai katalis earnings atau ekspansi tersendiri,” tuturnya.

Ketiga, faktor basis valuasi dan ekspektasi earnings. Setelah mengalami koreksi cukup dalam pada awal 2026, sebagian saham second liner telah mengalami de-rating. Kondisi tersebut membuat ruang rerating semakin terbuka apabila pertumbuhan laba mulai menunjukkan pemulihan.

Meski demikian, investor perlu membedakan saham yang mengalami kenaikan karena perbaikan fundamental dengan saham yang bergerak akibat faktor teknikal dan sentimen pasar.

“Sebab, memang ada saham yang naik karena earnings dan ekspansi, tetapi ada pula yang lebih banyak digerakkan oleh momentum, rebalancing indeks, foreign flow, maupun spekulasi,” ungkapnya.

Prospek Saham Second Liner 2026-2027

Memasuki akhir 2026 hingga 2027, saham lapis dua dinilai masih memiliki prospek, tetapi peluang tersebut lebih bersifat selektif dan tidak merata di seluruh saham.

Harry mengatakan investor sebaiknya mencermati emiten second liner yang memiliki pertumbuhan pendapatan, neraca sehat, valuasi menarik, serta katalis kinerja yang jelas.

Sebagai contoh, BRMS memiliki katalis dari peningkatan produksi dan aktivitas underground mining. Sementara itu, DEWA memasuki fase operating earnings inflection.

Adapun SSMS berpotensi memperoleh dukungan dari harga crude palm oil (CPO) yang masih tinggi serta peningkatan volume produksi.

Menurut Harry, sentimen positif terhadap kinerja emiten second liner dapat berasal dari pemulihan laba, ekspansi kapasitas atau kontrak baru, serta harga komoditas yang masih tinggi.

“Sedangkan risiko utama tetap suku bunga tinggi, volatilitas rupiah dan minyak, foreign outflow, serta execution risk,” paparnya.

Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Kompak Menguat Sepekan, Arus Dana Institusional Jadi Penopang

Sementara itu, Nafan melihat sejumlah katalis yang dapat menopang saham second liner, antara lain penurunan suku bunga domestik apabila kondisi inflasi dan rupiah memungkinkan, pemulihan konsumsi dan capital expenditure (capex), harga komoditas yang tetap tinggi, serta peningkatan pendapatan dari proyek hilirisasi.

Di sisi lain, sejumlah sentimen yang dapat menjadi pemberat adalah rupiah yang masih lemah, imbal hasil surat berharga negara (SBN) yang tinggi, foreign outflow, volatilitas harga komoditas, serta risiko likuiditas pada saham dengan free float dan nilai transaksi yang rendah.

“Hingga 2027, emiten yang tersengat sentimen hilirisasi mineral memiliki katalis berupa peningkatan volume produksi serta pembangunan fasilitas pengolahan,” paparnya.

Saham Energi dan CPO

Helen menambahkan, emiten dari sektor energi dan CPO masih cukup prospektif hingga akhir 2026.

Untuk sektor energi, pergerakan saham dan harga komoditas masih dapat memperoleh dukungan dari konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

“Sementara untuk CPO harganya masih tinggi lantaran ada El Nino,” ungkapnya.

Helen pun merekomendasikan beli untuk AKRA, DSNG, SSMS, dan TAPG dengan target harga masing-masing Rp 1.800 per saham, Rp 1.760 per saham, Rp 2.000 per saham, dan Rp 2.050 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Tag


TERBARU

[X]
×