kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   23.000   0,89%
  • USD/IDR 17.924   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.242   -56,72   -0,90%
  • KOMPAS100 813   -5,85   -0,71%
  • LQ45 621   -2,15   -0,35%
  • ISSI 215   -3,31   -1,52%
  • IDX30 344   -1,09   -0,32%
  • IDXHIDIV20 429   0,02   0,00%
  • IDX80 93   -0,53   -0,57%
  • IDXV30 116   -0,90   -0,76%
  • IDXQ30 111   -0,10   -0,09%

Bitcoin dan Ethereum Kompak Menguat Sepekan, Arus Dana Institusional Jadi Penopang


Sabtu, 26 September 2026 / 15:16 WIB
Bitcoin dan Ethereum Kompak Menguat Sepekan, Arus Dana Institusional Jadi Penopang
ILUSTRASI. Pasar kripto kembali menunjukkan penguatan dalam perdagangan sepekan terakhir. Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) sama-sama mencatat kenaikan (Dok/Octa)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar kripto kembali menunjukkan penguatan dalam perdagangan sepekan terakhir. Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) sama-sama mencatat kenaikan, ditopang oleh meningkatnya arus dana institusional dan membaiknya minat investor terhadap aset berisiko.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Sabtu (26/9/2026) pukul 14.32 WIB, harga Bitcoin menguat 3,64% dalam tujuh hari terakhir menjadi US$ 83.989,68 per koin. Kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat mencapai US$ 1,68 triliun.

Ethereum juga bergerak positif dengan kenaikan 2,39% dalam sepekan ke level US$ 2.689,59 per koin. Adapun kapitalisasi pasar Ethereum mencapai US$ 328,35 miliar.

Penguatan harga BTC dan ETH dalam sepekan terakhir terjadi seiring kombinasi membaiknya sentimen terhadap aset berisiko, aksi short covering, serta derasnya aliran dana dari investor institusional.

Pasar kripto dinilai relatif mampu menyerap dinamika kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) dan penundaan CLARITY Act di Senat Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut berlangsung di tengah kejelasan dari Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) yang terus melanjutkan kerangka pengawasan aset digital.

Baca Juga: Ekosistem Kripto Makin Tumbuh, Tokenisasi RWA Buka Peluang Baru

Tekanan terhadap aset kripto juga berkurang seiring melandainya imbal hasil atau yield US Treasury serta penurunan harga minyak.

Selain faktor makroekonomi, arus dana yang masuk melalui produk investasi berbasis kripto menjadi salah satu penopang penguatan pasar dalam sepekan terakhir.

Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, menyoroti tingginya minat investor korporasi terhadap produk exchange-traded fund (ETF) spot di pasar AS.

"Selain itu, arus dana institusional ke ETF Bitcoin spot kembali menguat, tercatat pada periode 14–24 September tercatat mencapai $2,25 miliar," ujar Aloysia kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).

Kuatnya permintaan terhadap instrumen ETF tersebut juga tercermin dari transaksi harian. ETF Bitcoin spot sempat membukukan inflow harian hingga US$ 999 juta dan mencatat inflow US$ 346,9 juta pada 23 September. Pada hari yang sama, ETF Ethereum membukukan inflow sebesar US$ 104,5 juta.

Dari sisi teknikal, Ethereum juga mendapatkan momentum setelah mampu menembus area resistance di level US$ 2.661.

Meski menunjukkan penguatan dalam jangka pendek, pergerakan harga aset kripto hingga akhir 2026 diperkirakan masih berlangsung dinamis dan volatil.

Arah pasar selanjutnya akan dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain kondisi likuiditas global, pergerakan yield obligasi AS di atas 5%, serta potensi ketidakpastian menjelang pemilu paruh waktu AS.

Peluang Bitcoin untuk kembali menembus rekor all-time high (ATH) US$ 126.198, yang pernah dicapai pada 6 Oktober 2025, masih terbuka. Namun, untuk mencapai level tersebut, harga BTC membutuhkan kenaikan sekitar 50% dari posisi saat ini.

Baca Juga: Tokenized US Stocks Makin Berkembang, Bittime Catat Transaksi Naik 2,5 Kali

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai pergerakan BTC dan ETH tidak dapat dipandang sebagai tren kenaikan atau penurunan secara linier. Menurut dia, kedua aset tersebut tetap memiliki potensi bergerak dua arah sehingga risiko volatilitas perlu diperhatikan investor.

"Investor perlu mencermati bahwa kenaikan BTC dan ETH saat ini belum menghilangkan risiko volatilitas. Fokus utama hingga akhir tahun sebaiknya pada arus dana ETF, kebijakan suku bunga The Fed, data inflasi dan tenaga kerja AS, pergerakan yield Treasury, serta perkembangan regulasi aset digital," jelas Yudhono.

Untuk menghadapi potensi gejolak pasar, investor dapat mempertimbangkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) atau pembelian secara bertahap guna mengurangi risiko dari penentuan titik masuk.

Selain itu, riset mandiri atau Do Your Own Research (DYOR) serta pembatasan penggunaan leverage menjadi faktor penting untuk mengantisipasi risiko akibat pergerakan harga jangka pendek.

Dengan mempertimbangkan kondisi makroekonomi, arus dana ETF, likuiditas, dan perkembangan regulasi, Yudhono memproyeksikan Bitcoin berpotensi berada pada kisaran US$ 90.000–US$ 125.000. Sementara itu, Ethereum diperkirakan berada di kisaran US$ 3.000–US$ 4.000.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×