kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.784.000   -30.000   -1,07%
  • USD/IDR 17.344   78,00   0,45%
  • IDX 7.101   28,83   0,41%
  • KOMPAS100 958   2,89   0,30%
  • LQ45 684   1,82   0,27%
  • ISSI 255   0,38   0,15%
  • IDX30 380   1,10   0,29%
  • IDXHIDIV20 465   2,14   0,46%
  • IDX80 107   0,37   0,34%
  • IDXV30 136   1,19   0,88%
  • IDXQ30 121   0,39   0,32%

Saham Prajogo Pangestu Hingga Salim Group Tertekan, Masih Adakah yang Menarik?


Rabu, 29 April 2026 / 22:17 WIB
Diperbarui Rabu, 29 April 2026 / 15:17 WIB
Saham Prajogo Pangestu Hingga Salim Group Tertekan, Masih Adakah yang Menarik?
ILUSTRASI. petrosea (DOK/petrosea)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Yudho Winarto

Sentimen MSCI dan Arus Dana Asing

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah, menjelaskan penguatan saham konglomerasi pada awal 2026 salah satunya didorong oleh ekspektasi masuk ke indeks global seperti MSCI.

Sentimen tersebut sempat memicu inflow dana asing yang besar. Namun, setelah MSCI menunda rebalancing, arah pasar berbalik.

“Saham-saham yang sudah masuk atau diharapkan masuk MSCI mengalami perubahan narasi yang drastis, sehingga permintaan di pasar menurun,” ujar Fath kepada Kontan.co.id.

Ia juga menyoroti saham BREN dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang masuk kategori high shareholding concentration (HSC), masing-masing dengan kepemilikan 97,31% dan 95,76%.

Keduanya bahkan dikeluarkan dari indeks LQ45 oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Baca Juga: MDIY Catat Kinerja Solid Kuartal I-2026, Laba Bersih Tumbuh 35,5%

Faktor Makro dan Risiko Global

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai pelemahan saham konglomerasi lebih dipengaruhi faktor makro seperti depresiasi rupiah dan arus keluar dana asing (net sell), terutama pada saham berkapitalisasi besar yang likuid.

“Ini lebih ke risk-off global, bukan semata penurunan fundamental,” katanya.

Namun, portofolio Boy Thohir dinilai outperform berkat eksposur pada komoditas seperti emas dan batu bara yang masih berada dalam tren positif.

“Selama siklus komoditas masih berlanjut, sektor ini tetap menarik meski volatilitas tinggi,” ujar Sukarno.

Baca Juga: ABM Investama (ABMM) Bidik Laba Bersih US$ 90 Juta pada 2026, Cek Rekomendasinya

Ia menambahkan, koreksi pada saham konglomerasi justru dapat membuka peluang akumulasi, terutama pada emiten dengan fundamental kuat yang terdampak sentimen pasar.

Sebagai contoh, PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatat kinerja positif pada kuartal I-2026 dengan pendapatan naik 84,24% secara tahunan menjadi US$ 284,13 juta dan laba bersih tumbuh 50,54% menjadi US$ 1,39 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×