Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT ABM Investama Tbk (ABMM) optimistis dapat mencatatkan kinerja keuangan lebih baik pada 2026. Selain dipengaruhi oleh kenaikan harga batubara, ABMM juga berharap hasil ekspansinya membuahkan hasil positif bagi kinerja perusahaan.
Investor Relations ABM Investama Moh. Ditto Ananta Nugraha mengatakan, tahun 2026 pihaknya membidik pendapatan kurang lebih serupa dengan tahun lalu yakni di kisaran US$ 1 miliar. Adapun laba bersih ABMM pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran US$ 80 juta--US$ 90 juta.
Kontributor utama pendapatan ABMM untuk tahun ini masih berasal dari lini bisnis jasa kontraktor pertambangan dan pertambangan yang dikelola melalui anak usaha.
Rasa percaya diri ABMM meningkat lantaran pelanggan-pelanggan emiten tersebut tidak mengalami pemotongan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada tahun ini.
Salah satu pelanggan terbesar ABMM adalah PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), di mana ABMM turut berinvestasi di emiten milik Grup Sinar Mas tersebut melalui anak usahanya PT Radhika Jananta Raya dengan kepemilikan saham 30%.
Baca Juga: Kinerja Emiten Sawit Tak Merata Saat Harga CPO Naik, Cek Rekomendasinya
"Seluruh klien kami, termasuk GEMS, sudah mendapatkan persetujuan RKAB sesuai dengan target," kata dia dalam paparan publik, Rabu (29/4).
Selain itu, ABMM juga berpeluang memperoleh sumber pendapatan tambahan dari Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang telah beroperasi. Jadi, ABMM melalui PT Nirmala Coal Nusantara (NCN) telah berhasil melakukan penjualan batubara perdana pada Februari 2026.
Tambang batubara NCN berlokasi di Meulaboh, Aceh, dengan luas area sebesar 3.198 hektare (Ha). Ditto menyebut, tambang batubara kelolaan NCN memiliki kapasitas produksi maksimum 2 juta ton sampai 2,5 juta ton per tahun, sedangkan target produksi tahun ini ditetapkan sekitar 2 juta ton.
"Tambang ini sudah berkontribusi positif secara bulanan dan akan signifikan pada 2026," ujarnya.
Mayoritas produksi batubara dari NCN akan diekspor ke pasar internasional dengan negara tujuan utama India, mengingat adanya kedekatan geografis dengan Aceh. Selain itu, sekitar 25%--30% hasil produksi tersebut ditujukan untuk memenuhi kuota Domestic Market Obligation (DMO).
ABMM juga memiliki tambang batubara di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, lewat anak usahanya yaitu PT Piranti Jaya Utama (PJU) yang baru diakuisisi tahun lalu. Saat ini, ABMM masih menjalani proses perizinan dan ditargetkan beroperasi secara komersial pada akhir 2026.
Baca Juga: IHSG Menguat Jadi 7.101, Simak Rekomendasi Saham MEDC, BRPT, HMSP
Ditto menyampaikan, tambang batubara PJU berpotensi mampu memproduksi batubara kurang lebih 5 juta ton per tahun. Setelah beroperasi pada akhir tahun nanti, penjualan batubara perdana diharapkan dapat dilakukan pada kuartal I-2027 mendatang.
"Tambang PJU bakal menjadi lokomotif pertumbuhan jangka panjang bagi perusahaan," imbuh dia.
Lebih lanjut, ABMM turut menggelontorkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 85 juta pada 2026. Angka ini lebih rendah dari capex ABMM pada tahun lalu yang tercatat sebesar US$ 131 juta.
Ditto menjelaskan, penurunan nilai capex tersebut lebih disebabkan tidak adanya akuisisi besar seperti yang terjadi pada 2025. Asal tahu saja, sebagian besar capex ABMM pada 2025 ditujukan untuk membiayai akuisisi PJU.
Sedangkan pada tahun ini, capex ABMM difokuskan untuk pembelian alat-alat berat sebagai bagian dari kebutuhan lini usaha kontraktor pertambangan.
Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, keberadaan dua tambang baru ABMM melalui NCN dan PJU akan berdampak signifikan namun tidak instan. Kontribusi pendapatan dari tambang-tambang tersebut baru akan terasa pada 2027 nanti.
"Untuk tahun 2026, dampaknya lebih kepada perbaikan volume bertahap, bukan kenaikan signifikan," kata dia, Rabu (29/4).
Secara umum, Wafi menilai prospek kinerja ABMM pada 2026 cukup moderat dan positif. Tren kenaikan harga batubara dapat menjadi katalis positif bagi lini bisnis kontraktor dan pertambangan. Lonjakan harga minyak dunia juga menjadi angin segar bagi lini bisnis perdagangan bahan bakar ABMM.
Namun, jika harga batubara kembali terkoreksi ke bawah level US$ 110 per ton, margin laba dari bisnis kontraktor akan tertekan.
"Risiko terbesar bagi ABMM adalah cuaca ekstrem yang dapat mengganggu operasi tambang dan volatilitas harga batubara jika konflik geopolitik Timur Tengah mereda terlalu cepat," ungkap dia.
Dari situ, Wafi merekomendasikan beli saham ABMM dengan target harga di level Rp 3.200 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













