Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Saham-saham bank pelat merah atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) bergerak fluktuatif pada perdagangan awal pekan ini atau Senin (2/2/2026), seiring tekanan besar yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak pembukaan perdagangan.
IHSG pada awal perdagangan dibuka turun 0,84% ke level 8.259,25 hingga pada penutupan perdagangan terlihat terjun 4,88% ke level Ro 7.922,73. Tekanan jual tersebut langsung berdampak ke sektor perbankan, khususnya saham-saham bank BUMN yang selama ini menjadi tulang punggung likuiditas pasar.
Jika dilihat, saham PT Bank Tabungan Negara (BBTN) melemah 0,81% ke level Rp 1.220 per saham. Pada pembukan perdagangan sahamnya sempat berada di level Rp 1.250. Selama sepekan terakhir sahamnya juga susut 0,81%.
Kemudian, saham PT Bank Mandiri (BMRI) yang ditutup turun 0,41% ke level Rp 4.800 per saham. Pada pembukaan perdagangan sahamnya sempat dibuka menguat di level Rp 4.900, namun selama sepekan terakhir sahamnya terlihat susut 2,24%.
Baca Juga: OJK: Transparansi Kepemilikan hingga 1% Cegah Praktik “Goreng” Saham
Berbeda dengan kinerja saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang ditutup menguat 0,52% ke level Rp 3.830 per saham, dan pada pembukaan perdagangan sahamnya juga menguat ke level Rp 3.860 per saham walaupun sempat melemah ke level Rp 3.750 namun kembali bangkit di penutupan perdagangan. Tapi jika dilihat pergerakan sahamnya selama sepekan terakhir terlihat turun 0,52%.
Pada penutupan perdagangan, kinerja saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI) juga terlihat menguat 0,22% ke level Rp 4.500 per saham. Namun jika dilihat pergerakannya selama sepekan terlihat turun 0,66%.
Head of Online Trading BCA Sekuritas, Achmad Yaki, menilai prospek saham bank pelat merah tetap cukup baik meskipun pasar sedang berada dalam fase koreksi.
Menurutnya, tekanan eksternal seperti pelemahan nilai tukar rupiah, suku bunga acuan yang bertahan di level 4,75%, serta inflasi (IHK) yang masih relatif tinggi memang membayangi pergerakan pasar saham secara keseluruhan.
“Namun secara fundamental, perbankan BUMN masih ditopang oleh skala bisnis besar, permodalan yang kuat, serta peran strategis dalam mendukung perekonomian nasional,” ujarnya kepada kontan.co.id, Senin (2/2).
Terkait isu potensi dukungan likuiditas melalui Danantara, Yaki menjelaskan bahwa hingga saat ini bank-bank Himbara belum menerima kucuran dana langsung di pasar modal.
“Untuk sementara baru sebatas alokasi Dana SAL. Namun apabila ke depan bank-bank Himbara benar-benar mendapatkan tambahan dana, tentu ini akan menjadi sentimen positif,” katanya.
Menurutnya, tambahan likuiditas akan membuat ruang ekspansi perbankan semakin longgar, khususnya dalam penyaluran kredit, sehingga berpotensi memperkuat kinerja keuangan sekaligus persepsi investor terhadap saham bank BUMN.
Di tengah koreksi pasar, Yaki melihat kondisi saat ini justru membuka peluang trading bagi investor. Sejumlah saham bank pelat merah dinilai sudah berada pada level harga yang menarik setelah mengalami diskon cukup dalam sejak awal tahun.
BCA Sekuritas merekomendasikan beberapa saham bank BUMN dengan strategi trading buy. Untuk BBNI, target harga dipatok di level 4.630. Sementara BBRI direkomendasikan trading buy dengan target harga 3.900.
Adapun BBTN direkomendasikan trading buy dengan target harga 1.310, sedangkan BMRI diproyeksikan menuju target harga 5.075.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi Dalam, Investasi Reksadana Saham Dinilai Menarik untuk Jangka Panjang
Selanjutnya: DPR Nilai Rencana Danantara Jadi Pemegang Saham BEI Sangat Strategis
Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (3/2), Hujan Sangat Deras Guyur Provinsi Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













