Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah di awal pekan setelah serangkaian pengunduran diri pejabat Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Melansir RTI, hingga pukul 10.07 WIB, IHSG terkoreksi 366,10 poin atau 4,40% ke level 7.963.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda mencatat pada pekan terakhir Januari (26 – 30 Januari 2026) IHSG terkoreksi tajam 7,12% dan mengalami dua kali trading halt.
“Tekanan IHSG dipicu pengumuman MSCI terkait evaluasi free float dan pembekuan indeks yang memicu risk-off serta net foreign sell Rp 15,77 triliun,” ucap Reza dalam market review, Senin (2/2/2026).
Sementara itu, Reza menyebut Keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga belum mampu menahan tekanan domestik yang bersifat struktural dan sentimen.
Baca Juga: IHSG Kembali Ambles 4% di Pagi Ini (2/2/), Usai Gejolak di Pekan Lalu
Reza menambahkan sejumlah katalis yang perlu dicermati terkait IHSG di pekan ini. Pertama terkait penunjukan pergantian ketua The Fed. Presiden AS Donald Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai kandidat ketua The Fed, menggantikan Jerome Powell. Warsh merupakan mantan Gubernur The Fed (2006 – 2011) dan dikenal memiliki latar belakang kuat di Wall Street.
Warsh kerap bersifat kritis terhadap kebijakan moneter longgar, termasuk pembesaran neraca The Fed, sehingga dipandang berpotensi membawa arah kebijakan yang lebih ketat dan pro-disiplin inflasi.
“Namun rekam jejak dan kedekatannya dengan elite keuangan juga memunculkan pro-kontra terkait independensi bank sentral,” kata Reza.
Kedua, harga emas yang anjlok lebih dari 8% ke area US$ 4.900 per ons akibat aksi profit taking, setelah sehari sebelumnya melonjak ke rekor tertinggi US$ 5.608. Meski terkoreksi, tren besar emas tetap ditopang oleh ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, serta pelemahan dolar AS.
Ketiga, pergantian kepemimpinan di OJK dengan penunjukan Frederica Widyasari Dewi sebagai Ketua DK OJK per 31 Januari 2026 yang diharapkan memperkuat koordinasi kebijakan dan pengawasan, khususnya untuk meningkatkan investability pasar dan mencegah isu struktural.
Baca Juga: Update, IHSG Anjlok Lebih dari 4%, Saham-Saham Ini Turun Dalam
“Kemudian, di BEI pengangkatan Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama menggantikan Iman Rachman membawa ekspektasi perbaikan tata kelola, transparansi free float, dan kualitas data kepemilikan, yang menjadi fokus utama evaluasi MSCI,” ujar Reza.
Ke depan, pasar menilai pergantian ini sebagai Langkah korektif agar isu MSCI tidak terulang, melalui komunikasi yang lebih proaktif dengan penyedia indeks global dan implementasi kebijakan yang konsisten.
“Jika berjalan efektif, sentimen negatif terkait MSCI berpotensi mereda dan menopang stabilitas IHSG dalam jangka menengah,” terang Reza.
Sementara itu, Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas mengatakan, IHSG pada Jumat kemarin ditutup naik 1,18%, tapi disertai dengan net sell asing sekitar Rp 1,87 triliun. Saham yang paling banyak dijual asing adalah TLKM, PTRO, BUMI, IMPC dan BBNI.
“IHSG masih rentan untuk koreksi sepanjang belum break di atas 8.420. Support IHSG hari ini di 8.050-8.220 dan resistance IHSG di 8.400-8.420,” ucap Fanny.
Dengan asumsi valuasi kembali ke level normal, Reza melihat potensi upside tercatat untuk Bank Central Asia sebesar 16%, Bank Mandiri 13%, Bank Negara Indonesia 14%, dan Bank Rakyat Indonesia sebesar 22%.
Konsesus riset juga mengestimasi pertumbuhan laba bersih big banks sekitar 7% sampai 10% pada tahun 2026, didukung penyaluran kredit yang meningkat, margin bunga bersih yang stabil, dan kualitas aset yang lebih baik.
“Sehingga saat ini dipandang sebagai momentum akumulasi terutama untuk strategi dividend play,” ucap Reza.
Selanjutnya: Serapan APBN Awal 2026 Masih Tertahan, Dorongan Fiskal ke Ekonomi Belum Maksimal
Menarik Dibaca: 6 Pilihan Film dan Serial Thriller Politik Netflix, Dijamin Bikin Kepikiran
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













