Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah dalam sepekan terakhir menunjukkan fluktuasi dengan kecenderungan melemah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.
Nilai tukar rupiah di pasar spot berhasil menguat pada akhir perdagangan hari Jumat (24/4/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.229 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi ini menguat 0,33% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.286 per dolar AS.
Meski menguat di akhir pekan, tekanan terhadap rupiah sepanjang minggu masih cukup signifikan. Bahkan, pada Kamis (23/4/2026) pukul 09.35 WIB, rupiah sempat menembus level Rp 17.310 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah sepanjang masa (all time high/ATH).
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor global, terutama lonjakan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Minggu (26/4) Stabil Rp 2,8 Juta per Gram, Cek Rinciannya
"Sepekan ini Rupiah sangat tertekan oleh kenaikan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS dan berkali-kali mencatatkan ATH. Sedangkan dari domestik tidak ada perkembangan yang positif, BI masih mempertahankan suku bunga dan retorika yang sama,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (24/4/2026).
Di sisi lain, intervensi Bank Indonesia (BI) mulai memberikan dampak positif terhadap pergerakan rupiah. Pada Kamis, otoritas moneter menegaskan akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar valas. Langkah ini terbukti mampu mendorong penguatan rupiah pada perdagangan Jumat.
Untuk sepekan ke depan, Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Arah rupiah dinilai sangat bergantung pada dinamika global, khususnya perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta pergerakan harga minyak mentah dunia.
Baca Juga: IHSG Ambles 3,38%, Tekanan Asing dan Rupiah Picu Aksi Jual
“Jika BI terus melakukan intervensi secara intensif, tekanan terhadap rupiah bisa mereda, bahkan berpotensi menguat seperti yang terjadi hari ini,” tambahnya.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari AS. Rilis produk domestik bruto (PDB) kuartal I serta indeks manufaktur ISM diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan dolar AS dan, pada akhirnya, nilai tukar rupiah.
Secara keseluruhan, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.150 hingga Rp 17.400 per dolar AS pada sepekan mendatang, dengan potensi tekanan masih dominan namun disertai peluang penguatan terbatas jika intervensi berlanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













