Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan meski tekanan di pasar saham domestik belum sepenuhnya hilang.
Meredanya arus keluar dana asing (foreign outflow), valuasi saham yang semakin menarik, serta stabilitas nilai tukar rupiah menjadi sejumlah faktor yang dinilai dapat menopang pergerakan IHSG ke depan.
Pada perdagangan Rabu (10/6/2026), IHSG berhasil melanjutkan tren positif dengan ditutup menguat 2,71% atau naik 155,72 poin ke level 5.902,37, menandai optimisme investor yang mulai kembali ke pasar setelah periode volatilitas tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Head of Investment Portfolio Strategy Bank Sinarmas, Ismail Muharam, menilai fase terburuk yang sempat membebani pasar saham Indonesia kemungkinan telah berlalu. Salah satu indikatornya adalah mulai berkurangnya tekanan dari arus keluar modal asing yang sebelumnya menjadi faktor dominan pelemahan IHSG.
Baca Juga: IHSG Menguat 2,71% Rabu (10/6), Analis Prediksi Indeks Berpeluang Tembus 6.000
"Kami melihat the worst is over. Sebelumnya terjadi foreign outflow yang sangat signifikan. Namun yang terjadi saat ini, kami melihat arus keluar dana asing tersebut sudah mulai berkurang," ujar Ismail usai agenda Peluncuran Produk Reksa Dana Pendapatan Tetap STAR Fixed Income 4 Kelas Utama di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (9/6/2026).
Sebagai gambaran, pada 29 Mei 2026 pasar saham Indonesia sempat mencatat arus keluar dana asing sekitar Rp 8,52 triliun dalam satu hari. Namun, menurut Ismail, kondisi tersebut kini tidak lagi terjadi dengan intensitas yang sama sehingga memberikan ruang bagi pemulihan pasar.
Meski demikian, Ismail menilai koreksi IHSG dalam sepekan terakhir justru lebih banyak dipicu oleh aksi jual dari investor domestik. Kondisi tersebut mencerminkan masih adanya sikap hati-hati serta krisis kepercayaan jangka pendek di kalangan pelaku pasar.
Selain itu, investor juga masih menanti kepastian implementasi sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk perkembangan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), yang dinilai berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap prospek pasar modal Indonesia.
Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia (BI) yang secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50% pada Selasa (9/6) dinilai justru dapat memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.
Menurut Ismail, penguatan nilai tukar rupiah yang mulai terlihat setelah keputusan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia berpotensi mereda.
Dari sisi valuasi, Ismail menilai kondisi pasar saham Indonesia saat ini berada pada level yang cukup menarik. Ia memperkirakan price to earnings ratio (PER) IHSG berada di kisaran 9 kali hingga 10 kali, yang menurutnya sudah tergolong murah dibandingkan rata-rata historis.
Baca Juga: Rupiah Menguat Jadi Rp 17.944 per Dolar AS, Simak Proyeksi untuk Kamis (11/6)
Meski optimistis terhadap prospek jangka menengah, Ismail mengingatkan bahwa IHSG kemungkinan tidak akan langsung kembali ke level all time high dalam waktu dekat. Proses pemulihan diperkirakan berlangsung secara bertahap seiring membaiknya sentimen pasar, stabilitas ekonomi, serta meningkatnya kembali kepercayaan investor.
"Kalau ada pembenahan dari sisi fiskal dan rupiah mulai terlihat stabil, masih ada upside untuk IHSG ke depannya," ujarnya.
Melihat valuasi yang telah terkoreksi cukup dalam, Ismail menilai investor sudah dapat mulai menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA) untuk melakukan akumulasi saham secara bertahap.
Namun demikian, ia menyarankan agar investor tetap selektif dalam memilih emiten, dengan memprioritaskan saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), khususnya di sektor perbankan yang dinilai memiliki fundamental kuat dan potensi imbal hasil dividen yang menarik.
"Untuk saham perbankan, dividend yield-nya bisa sekitar 7% sampai 8%. Dengan valuasi saat ini, itu sudah sangat menarik," tutup Ismail.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












