kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.959   -71,00   -0,39%
  • IDX 5.902   155,73   2,71%
  • KOMPAS100 783   23,11   3,04%
  • LQ45 589   20,16   3,54%
  • ISSI 202   4,81   2,44%
  • IDX30 335   12,48   3,87%
  • IDXHIDIV20 413   15,31   3,84%
  • IDX80 88   2,33   2,70%
  • IDXV30 111   2,33   2,15%
  • IDXQ30 108   3,73   3,59%

Disokong Dana Investor Domestik, IHSG Kembali Bergairah, Ini Catatan Analis


Rabu, 10 Juni 2026 / 20:09 WIB
Disokong Dana Investor Domestik, IHSG Kembali Bergairah, Ini Catatan Analis
ILUSTRASI. IHSG ditutup melemah ke posisi 5.941 (ANTARA FOTO/SULTHONY HASANUDDIN)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bertenaga pada Rabu (10/6/2026). IHSG berakhir di level 5.092,37 atau menguat 2,71% atau naik 155,72 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. 

Namun investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 3,12 triliun di sepanjang hari. Dengan demikian, net sell investor asing mencapai Rp 67,37 triliun sepanjang 2026 berjalan ini. 

Sementara itu, investor domestik tercatat melakukan aksi pembelian sebesar Rp 20,15 triliun dengan penjualan sebesar Rp 17,02 triliun. Alhasil, net buy investor domestik sekitar Rp 3,21 triliun. 

Baca Juga: IHSG Kembali Menguat 2,7% Rabu (10/6), Tekanan Terburuk dari Outflow Asing Mulai Reda

Penguatan IHSG juga sejalan dengan bangkitnya saham-saham berkapitalisasi besar. Misalnya, BBCA yang berhasil melesat 9,71% ke level Rp 5.650 per saham dalam satu hari perdagangan saja. 

Saham TLKM juga ikut melompat sebesar 7,25% ke posisi Rp 2.810 per saham. Saham milik konglomerat seperti BREN juga mengikuti euforia dengan naik 3,18% ke posisi Rp 4.220 per saham. 

Institutional Business Development MNC Sekuritas Niko Margaronis menyebut ini merupakan sinyal positif karena menunjukkan kepercayaan investor domestik terhadap saham-saham berkualitas dan likuid mulai meningkat. 

Baca Juga: IHSG Kembali Menguat 2,7% Rabu (10/6), Tekanan Terburuk dari Outflow Asing Mulai Reda

“Suku bunga yang lebih tinggi umumnya kurang baik bagi saham, tetapi rupiah yang lemah juga bukan kondisi yang ideal. Meski demikian, secara keseluruhan valuasi IHSG saat ini masih sangat murah,” ucapnya, Rabu (10/6/2026). 

Posisi Investor Institusi Domestik

Direktur Utama Dana Pensiun BCA Budi Sutrisno menyampaikan dalam menghadapi koreksi IHSG dan volatilitas pasar keuangan, posisi Dana Pensiun BCA tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan orientasi investasi jangka panjang.

Menurutnya, penurunan harga saham dengan fundamental yang solid dan rekam jejak likuiditas yang baik memang membuka peluang akumulasi karena valuasinya yang menjadi lebih murah. 

“Namun, kami tidak melakukan akumulasi secara agresif. Strategi yang kami terapkan adalah tactical asset allocation secara bertahap, dengan fokus pada saham-saham yang mampu memberikan dividen yield stabil,” kata Budi. 

Meski tak merinci, Budi bilang pergerakan alokasi aset Dana Pensiun BCA dilakukan secara dinamis dan terukur sesuai dengan batas target yang tertuang dalam Arahan Investasi serta regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Kami melakukan rebalancing portofolio secara berkala. Di satu sisi, kami memanfaatkan momentum koreksi untuk masuk secara selektif pada saham-saham berfundamental kuat,” tuturnya. 

Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat Terbatas, Intip Rekomendasi Saham Rabu (10/6)

Di sisi lain, kata Budi, untuk menjaga stabilitas nilai aset dari volatilitas pasar saham, kami juga mengoptimalkan penempatan pada instrumen pendapatan tetap yang saat ini menawarkan tingkat kupon atau yield yang cukup kompetitif. 

“Secara keseluruhan, porsi saham dijaga tetap proporsional dan berada dalam tingkat risiko yang dapat ditoleransi,” kata dia. 

CEO Pinnacle Investment Guntur Putra menyebut koreksi yang terjadi di pasar saham Indonesia saat ini belum semata-mata disebabkan oleh faktor valuasi, melainkan oleh meningkatnya risk premium.

Dia bilang dalam kondisi seperti ini, konsistensi kebijakan dan prediktabilitas struktural menjadi hal yang paling dicari investor. Ketika kedua hal tersebut belum sepenuhnya pulih, volatilitas pasar berpotensi tetap tinggi. 

“Dari sisi pengelolaan portofolio, kami tidak mengambil pendekatan ekstrem dengan sepenuhnya keluar dari pasar maupun secara agresif melakukan akumulasi,” kata Guntur. 

Baca Juga: IHSG Melonjak 1,45% Mengawali Rabu (10/6), Bursa Asia Tertekan Sentimen Timur Tengah

Guntur menyebut dalam mengelola portofolio pihaknya lebih memilih bersikap selektif dan defensif Koreksi pasar memang mulai membuka peluang pada sejumlah saham berfundamental kuat yang diperdagangkan pada valuasi yang lebih menarik. 

“Namun kami belum melihat kondisi yang mendukung untuk melakukan pembelian secara luas di seluruh sektor dengan penerapan strategi kuantitatif, fokus kami adalah pemilihan strategi portofolio secara sistematis,” ucapnya. 

Dia menegaskan pihaknya tidak mengelola portofolio semata-mata dengan mengikuti aliran atau beli investor asing. Menurutnya, keputusan investasi di Pinnacle didasarkan pada analisis fundamental dan pendekatan kuantitatif. 

“Jika koreksi pasar terus berlanjut dan valuasi semakin menarik, kami siap meningkatkan eksposur secara bertahap. Namun untuk saat ini, menjaga disiplin investasi, tingkat likuiditas, manajemen risiko, dan fleksibilitas portofolio tetap menjadi prioritas utama,” kata Guntur. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×