kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.963   4,00   0,02%
  • IDX 5.899   -3,11   -0,05%
  • KOMPAS100 783   0,24   0,03%
  • LQ45 590   0,83   0,14%
  • ISSI 202   0,42   0,21%
  • IDX30 336   0,72   0,21%
  • IDXHIDIV20 415   1,61   0,39%
  • IDX80 88   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   0,34   0,31%
  • IDXQ30 108   0,41   0,38%

Menguat Dua Hari Terakhir, Bagaimana Prospek IHSG Sampai Akhir Semester I-2026?


Kamis, 11 Juni 2026 / 07:35 WIB
Menguat Dua Hari Terakhir, Bagaimana Prospek IHSG Sampai Akhir Semester I-2026?
ILUSTRASI. IHSG Melemah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir dinilai masih sebatas technical rebound sehingga belum cukup kuat untuk mengonfirmasi berakhirnya tren bearish di pasar saham domestik.

Sebagai informasi, IHSG ditutup menguat 2,71% ke level 5.902,38 pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Kenaikan tersebut melanjutkan reli yang terjadi sehari sebelumnya ketika IHSG melesat 7,57%.

Baca Juga: 8 Saham Cum Dividen Hari Ini (11/6), Yield Ada yang Tembus 19%

Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, meski IHSG berhasil bangkit dari area oversold, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) dalam jumlah besar sehingga risiko volatilitas pasar tetap perlu diwaspadai.

Menurut Reza, penguatan IHSG dalam dua hari terakhir ditopang oleh kombinasi sentimen domestik, terutama kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% dan rencana aksi buyback saham oleh sejumlah perusahaan BUMN.

Kenaikan BI Rate dipandang sebagai langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat tertekan hingga mendekati Rp 18.200 per dolar Amerika Serikat (AS), sehingga membantu memulihkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik.

"Di sisi lain, buyback memberikan sinyal bahwa valuasi saham saat ini sudah cukup menarik dan membantu memperbaiki sentimen pasar setelah tekanan jual yang cukup besar," ujar Reza.

Baca Juga: IHSG Menuju 6.000? Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham dari BRI Danareksa

Sementara itu, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai pasar cenderung netral hingga positif karena tidak menambah beban subsidi pemerintah.

Kendati demikian, pelaku pasar masih akan mencermati potensi dampaknya terhadap inflasi dan daya beli masyarakat dalam jangka menengah.

Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah agenda penting, antara lain pengumuman status pasar Indonesia oleh MSCI pada akhir Juni 2026, implementasi perubahan indeks FTSE Russell, serta perkembangan pergerakan nilai tukar rupiah.

Dari sisi teknikal, Reza melihat area 5.320 hingga 5.480 menjadi level support kuat bagi IHSG hingga akhir semester I-2026.

Jika sentimen positif berlanjut dan tekanan terhadap rupiah semakin mereda, IHSG berpeluang menguji area resistance di kisaran 6.200 hingga 6.350.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham ACES, INCO, TLKM untuk Kamis (11/6)

Dalam kondisi pasar yang masih berfluktuasi, investor jangka pendek dinilai dapat memanfaatkan momentum rebound secara selektif dengan tetap menerapkan disiplin manajemen risiko.

Sementara itu, investor jangka menengah disarankan menunggu stabilisasi rupiah dan kembalinya aliran dana asing ke pasar saham Indonesia sebelum meningkatkan eksposur investasi.

"Sektor yang relatif menarik saat ini adalah perbankan besar dan komoditas berbasis ekspor," pungkas Reza.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×