Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (10/6/2026), didorong oleh sentimen positif dari dalam negeri, terutama meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) setelah kenaikan suku bunga acuan.
Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,63% secara harian dan ditutup di level Rp 17.944 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, mata uang Garuda terapresiasi lebih tinggi yakni 0,93% ke posisi Rp 17.971 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah pada perdagangan kali ini terutama ditopang oleh faktor domestik. Menurutnya, pelaku pasar mulai memiliki harapan lebih besar bahwa Bank Indonesia masih berpeluang kembali menaikkan suku bunga pada periode mendatang untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Baca Juga: MKTR Bidik Penjualan Rp 1,39 Triliun di 2026, Simak Rekomendasi Analis
Selain itu, kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax juga dinilai memberikan sentimen positif terhadap pergerakan rupiah.
“Walau demikian, rilis data inflasi AS juga berpotensi menahan penguatan rupiah. Dari domestik, investor menantikan rilis data penjualan ritel bulan April,” ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (10/6/2026).
Lukman menambahkan, tren positif rupiah berpotensi berlanjut pada perdagangan berikutnya selama tidak muncul tekanan besar dari faktor eksternal, terutama perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah maupun pergerakan harga minyak mentah global.
Untuk perdagangan Kamis (11/6), ia memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS.
Sementara itu, Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% disambut positif oleh pelaku pasar. Kebijakan tersebut dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas rupiah setelah sebelumnya beberapa kali menyentuh rekor pelemahan.
“Kenaikan suku bunga acuan juga membantu pemerintah dalam lelang obligasi bertenor 10 tahun, dengan bunga 7,4% sehingga investor asing maupun domestik diharapkan bisa kembali menyerbu lelang Surat Utang Negara (SUN),” kata Ibrahim, Rabu (10/6/2026).
Baca Juga: Disokong Dana Investor Domestik, IHSG Kembali Bergairah, Ini Catatan Analis
Menurut Ibrahim, arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor global. Salah satu yang paling dinantikan pasar adalah rilis data inflasi Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Di sisi lain, pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan global dan memengaruhi sentimen terhadap aset negara berkembang, termasuk rupiah.
Untuk perdagangan Kamis (11/6/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun tetap berpeluang ditutup menguat pada rentang Rp 17.900 hingga Rp 17.950 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













