Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar mata uang Garuda kembali tertekan di tengah pasar yang mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan serta eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pada Rabu (22/7), rupiah spot ditutup di level Rp 17.917 per dolar AS. Ini membuat rupiah melemah 0,16% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.888 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, rupiah berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) ditutup stagnan di level Rp17.909 per dolar AS pada perdagangan hari ini, sama dengan posisi penutupan sehari sebelumnya.
Baca Juga: Siloam (SILO) Ekspansi dengan Layanan Bedah Robotik, Saham & Prospek Dinilai Positif
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, pasar merespons keputusan BI yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juli 2026.
Selain menahan suku bunga acuan, BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility di level 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,5%.
Menurut Ibrahim, dengan keputusan menahan suku bunga acuan ini, BI mendorong kebijakan lain, yakni pemberian insentif guna mendorong arus modal asing ke pasar uang Indonesia dalam rangka tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas,” ungkap Ibrahim, Rabu (22/7/2026).
Dari sisi fiskal, pasar juga mencermati kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hingga akhir Juni 2026, APBN mencatatkan defisit Rp 196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sementara itu, pendapatan negara mencapai Rp 1.459,4 triliun atau 46,3% dari target tahun ini, sedangkan belanja negara telah mencapai Rp 1.656 triliun atau 43,1% dari target. Kondisi tersebut menunjukkan belanja negara masih lebih besar dibandingkan pendapatan negara. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak sedikit penurunan defisit APBN.
Baca Juga: Percepat Pemerataan 4G dan 5G, XLSMART (EXCL) Tambah Spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz
Di sisi eksternal, Ibrahim menilai meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang menekan pergerakan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Ia menyoroti eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berlanjut. Pasukan AS dilaporkan kembali menyerang sejumlah target militer Iran, sementara Teheran melancarkan serangan balasan ke sejumlah posisi militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Untuk perdagangan Kamis (23/7), Ibrahim mengatakan pasar akan kembali mencermati ekspektasi arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.
Menurutnya, meningkatnya harga minyak akibat gangguan pasokan di kawasan Teluk berpotensi mendorong inflasi AS sehingga memperbesar peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
"Data Prime Terminal menunjukkan probabilitas sebesar 78% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan, sementara peluang kenaikan suku bunga pada September berada di kisaran 68%," jelasnya.
Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah pada Kamis (23/7) akan bergerak di kisaran Rp 17.920 hingga Rp 18.970 per dolar AS.
Baca Juga: Saham AGAR Melonjak 186%, BEI Belum Lepas Suspensi Usai Rencana Ganti Pengendali
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
