Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) dinilai masih positif hingga sisa tahun 2026, seiring langkah ekspansi layanan berbasis teknologi dan digitalisasi medis.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, kinerja SILO pada awal tahun menunjukkan pertumbuhan yang solid. Pada kuartal I-2026, pendapatan SILO meningkat 7,9% secara tahunan (year-on-year), sementara laba bersih tumbuh 13,8% menjadi sekitar Rp280 miliar.
“Ekspansi bedah robotik dan digitalisasi dapat memperkuat diferensiasi layanan SILO, terutama pada segmen pasien menengah atas dan tindakan medis kompleks,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga: Saham AGAR Melonjak 186%, BEI Belum Lepas Suspensi Usai Rencana Ganti Pengendali
Menurutnya, strategi tersebut juga membuka peluang bagi SILO untuk menangkap pasar pasien Indonesia yang selama ini memilih berobat ke luar negeri.
Potensi pasar ini dinilai besar, mengingat devisa yang keluar untuk kebutuhan pengobatan di luar negeri diperkirakan mencapai sekitar Rp 170 triliun per tahun.
Namun demikian, realisasi peluang tersebut tetap bergantung pada kemampuan perseroan dalam menjaga kualitas layanan, termasuk kualitas dokter, hasil klinis, serta kepercayaan pasien.
Dari sisi operasional, Ekky menilai adopsi teknologi bedah robotik berpotensi meningkatkan pendapatan per pasien (revenue per inpatient), seiring meningkatnya kontribusi tindakan medis bernilai tinggi.
Teknologi ini dinilai dapat memperkuat posisi SILO pada layanan seperti urologi, ortopedi, serta berbagai tindakan bedah kompleks lainnya.
Meski begitu, dampaknya terhadap margin laba diperkirakan tidak terjadi secara instan.
“Margin akan sangat bergantung pada tingkat utilisasi. Pada tahap awal, jumlah prosedur kemungkinan masih terbatas sehingga kontribusi terhadap EBITDA berlangsung bertahap,” jelasnya.
Dalam jangka pendek, belanja modal (capex) hingga Rp1 triliun untuk pengadaan sistem bedah robotik dan digitalisasi masih berpotensi menekan laba bersih.
Baca Juga: IHSG Turun Tipis 0,09% ke 6.334, Top Losers LQ45: AMMN, UNTR, CUAN, Rabu (22/7)
Hal ini seiring peningkatan beban penyusutan serta biaya operasional, sementara pendapatan dari layanan baru belum optimal.
Meski demikian, kondisi keuangan SILO dinilai masih cukup solid untuk menopang ekspansi tersebut.
Per Maret 2026, SILO memiliki kas sekitar Rp1,20 triliun dengan EBITDA kuartal I mencapai Rp731,5 miliar, sehingga ekspansi yang didanai dari kas internal belum membebani struktur keuangan secara signifikan.
Dari sisi kebijakan, keputusan SILO untuk tidak membagikan dividen dinilai tepat selama dana tersebut dialokasikan untuk proyek yang memberikan imbal hasil optimal.
Pada tahun buku 2025, SILO membukukan laba bersih sekitar Rp1,16 triliun yang seluruhnya dicatat sebagai laba ditahan untuk mendukung ekspansi.
“Investor perlu mencermati efektivitas penggunaan dana tersebut melalui pertumbuhan volume pasien, margin, dan return on invested capital,” tambahnya.
Untuk rekomendasi saham, Ekky menyarankan strategi trading buy atau buy on weakness.
Secara fundamental, kinerja SILO masih cukup sehat dan ekspansi layanan premium berpotensi menjadi katalis jangka menengah.
Namun secara teknikal, pergerakan saham SILO masih berada dalam tren bearish.
Baca Juga: IHSG Turun Tipis 0,09% ke 6.334, Top Losers LQ45: AMMN, UNTR, CUAN, Rabu (22/7)
Ia menyebutkan, level support terdekat berada di kisaran Rp2.000 hingga Rp2.100 per saham. Jika menembus level tersebut, harga berpotensi melemah ke area Rp1.830 per saham.
Sementara itu, jika terjadi pembalikan arah, saham SILO berpeluang menguji resistance di level Rp2.440, dengan target lanjutan di kisaran Rp2.750 hingga Rp2.900 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
