kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 18.158   11,00   0,06%
  • IDX 5.356   -17,45   -0,32%
  • KOMPAS100 697   0,53   0,08%
  • LQ45 542   -0,28   -0,05%
  • ISSI 183   -0,63   -0,34%
  • IDX30 304   -0,46   -0,15%
  • IDXHIDIV20 403   1,39   0,35%
  • IDX80 80   0,09   0,11%
  • IDXV30 113   1,37   1,23%
  • IDXQ30 101   0,03   0,03%

Investor Mulai Memanfaatkan Aset Tertokenisasi untuk Diversifikasi Portofolio


Selasa, 27 Oktober 2026 / 11:44 WIB
Investor Mulai Memanfaatkan Aset Tertokenisasi untuk Diversifikasi Portofolio
ILUSTRASI. CRYPTOCURRENCY (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Perkembangan teknologi blockchain membuka peluang baru dalam industri investasi. Selain perdagangan aset kripto, pemanfaatan teknologi ini semakin meluas ke tokenisasi saham, exchange traded fund (ETF) dan berbagai instrumen keuangan global.

Tokenisasi memungkinkan aset keuangan direpresentasikan dalam bentuk token digital yang dapat diperdagangkan melalui platform berbasis blockchain. Melalui mekanisme ini, investor dapat memperoleh eksposur terhadap pergerakan harga aset dengan nilai investasi yang relatif kecil.

Tren tersebut berkembang seiring meningkatnya jumlah pengguna aset kripto di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen aset kripto mencapai 22,93 juta akun hingga Juli 2026. Sementara nilai transaksi perdagangan aset kripto sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai Rp 171,12 triliun.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), William Sutanto mengatakan, besarnya basis pengguna dan nilai transaksi menunjukkan aset kripto semakin memiliki peran dalam perkembangan ekonomi digital Indonesia. 

Tantangannya, bagaimana ekosistem lokal bisa terus berkembang secara sehat, kompetitif, dan tetap memberikan manfaat bagi pengguna maupun perekonomian Indonesia.

Penguatan ekosistem kripto nasional membutuhkan kerjasama antara regulator, asosiasi, bursa, dan pelaku industri. Salah satu langkah penting, meningkatkan literasi masyarakat mengenai platform yang memiliki izin serta risiko menggunakan penyelenggara perdagangan aset keuangan digital (PAKD) ilegal.

Selain itu, perlu aturan dan pengawasan yang mampu menciptakan persaingan usaha yang sehat skaligus memberikan perlindungan kepada konsumen.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, minat investor terhadap aset keuangan tertokenisasi juga menunjukkan peningkatan. PT Pintu Kemana Saja misalnya, mencatat jumlah pengguna yang membeli saham dan ETF Amerika Serikat (AS) tertokenisasi meningkat 68% pada kuartal III-2026 dibandingkan kuartal sebelumnya.

Baca Juga: Harga Emas Turun, Kinerja Emiten Terancam Menyusut

Pada periode yang sama, jumlah trader aktif meningkat 64%, jumlah transaksi bertambah 55%, dan volume perdagangan tumbuh 51%.

Presiden Direktur PINTU, Andy Putra mengatakan, peningkatan aktivitas perdagangan terutama terjadi pada aset tertokenisasi yang terkait dengan saham perusahaan teknologi global. “Kuartal III-2026 menunjukkan positifnya perdagangan aset tertokenisasi di platform PINTU,” ujar Andy dalam keterangannya, Senin (26/10)

Menurut Andy, jumlah pembeli aset tertokenisasi Nvidia (NVDAX) meningkat 224%, Apple (AAPLX) naik 212%, Alphabet (GOOGLX) tumbuh 131%, dan Robinhood (HOODX) bertambah 118%. Sementara dari sisi volume perdagangan, aset tertokenisasi Meta (METAX) mencatat pertumbuhan lebih dari 230%.

Peningkatan minat tidak hanya terjadi pada saham teknologi. Jumlah pembeli SPDR Gold ETF tertokenisasi juga meningkat lebih dari 170% pada kuartal III-2026.

“Kami juga melihat pengguna mulai memanfaatkan aset tertokenisasi untuk diversifikasi, tidak hanya mengikuti tren saham teknologi,” kata Andy.

Pintu sendiri telah menyediakan lebih dari 100 aset tertokenisasi hingga Oktober 2026. Mencakup saham AS, ETF, dan komoditas. Perusahaan juga menambah 10 aset tertokenisasi yang diterbitkan Ondo, terdiri dari sembilan ETF dan saham Micron.

Andy menjelaskan, saham dan ETF tertokenisasi merupakan representasi digital yang memberikan eksposur terhadap pergerakan harga aset dasarnya. Instrumen ini memungkinkan investor membeli aset secara fraksional menggunakan rupiah.

Namun, investor tetap perlu memahami karakteristik produk, termasuk hak atas aset dasar, mekanisme perdagangan, serta risiko yang melekat pada instrumen tertokenisasi.

Secara global, perkembangan tokenisasi juga terus meluas. Data RWA.xyz menunjukkan, kapitalisasi pasar aset dunia nyata yang ditokenisasi atau real world assets (RWA) mencapai US$ 39,26 miliar atau sekitar Rp 708,64 triliun per 20 Oktober 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×