Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek logam industri diyakini tetap bersinar di tengah pesatnya tren transisi energi dan ekosistem kecerdasan buatan (AI), dengan tembaga diprediksi tampil sebagai komoditas paling tangguh.
Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (27/10/2026) pukul 18:45 WIB, harga logam LME tembaga 3 Bulan tercatat menguat 0,03% ke level US$ 14.327,50 per ton, melengkapi harga LME timah 3 Bulan yang naik 0,99% ke posisi US$ 51.017,00 per ton, sementara LME aluminium 3 Bulan mengalami pelemahan tipis 0,10% menjadi US$ 3.040,50 per ton.
Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai bahwa prospek ketiga logam industri tersebut masih relatif positif dan secara struktural sangat ditopang oleh tren elektrifikasi, pembangunan jaringan energi terbarukan, hingga pertumbuhan pesat pusat data global.
Baca Juga: Gaet Rp 7,77 Triliun dari Anak Blackrock, TOBA Bidik Ekspansi Bisnis Limbah di Asia
Namun, laju harganya ke depan dipastikan akan tetap dibayangi oleh volatilitas.
"Untuk tembaga, gangguan produksi tambang dan keterbatasan konsentrat menjadi faktor penting di tengah meningkatnya kebutuhan dari elektrifikasi dan pusat data," jelas Lukman kepada Kontan, Selasa (27/10/2026).
Pandangan senada mengenai dominasi tembaga turut diungkapkan oleh Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo. Ia menempatkan tembaga pada posisi terkuat dibandingkan aluminium dan timah, didorong oleh tipisnya stok historis dan tingginya premi Shanghai yang sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Meski demikian, investor diingatkan untuk tetap merasionalisasi proyeksi harga dengan potensi melimpahnya pasokan di masa depan.
"Narasi "defisit struktural" perlu dibaca hati-hati. ICSG memperkirakan pasar tembaga justru surplus sekitar 104.000 ton pada tahun 2026 dan melebar ke sekitar 368.000 ton pada tahun 2027, sehingga kenaikan lanjutan tidak otomatis," terang Sutopo kepada Kontan, Selasa (27/10/2026).
Di luar tembaga, pergerakan harga aluminium ke depan diprediksi akan berkonsolidasi akibat pengaruh dari rendahnya persediaan global, biaya energi, aktivitas produksi di Tiongkok, tarif Amerika Serikat, dan pemulihan smelter di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, timah dinilai sebagai logam yang pergerakannya paling rentan dalam jangka pendek, mengingat pasokannya sangat bergantung pada sentimen geopolitik dan dinamika kebijakan ekspor dari negara produsen utama seperti Indonesia, Myanmar, hingga Kongo.
Menyikapi berbagai sentimen tersebut, kedua analis memproyeksikan rentang harga logam industri yang bervariasi hingga akhir tahun 2026.
Baca Juga: IHSG Melemah 1,99%, Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham untuk Rabu (28/10)
Lukman memproyeksikan harga tembaga akan melaju di kisaran US$ 14.000–US$ 15.000, aluminium sebesar US$ 3.000–US$ 3.200, dan timah berada di level US$ 50.000–US$ 55.000 per ton.
Sementara itu, Sutopo memperkirakan tembaga akan berada dalam rentang US$ 13.500–US$ 15.500 dengan skenario dasar US$ 14.500 per ton. Ia juga memproyeksikan aluminium berada di kisaran US$ 2.950–US$ 3.400, serta timah yang memiliki tingkat keyakinan prediktif paling rendah dipatok pada area US$ 46.000–US$ 56.000 per ton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














