Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terpantau masih menghadapi tekanan yang cukup berat. Mata uang Garuba melemah hampir menembus rekor terlemah sepanjang masa, kali ini dipicu kombinasi tekanan eksternal, arus keluar modal asing, serta memburuknya kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.
Asal tahu saja, rupiah telah melemah enam hari perdagangan berturut-turut. Rabu (28/10/2026), kurs rupiah spot melemah 0,15% secara harian menjadi Rp 18.184 per dolar AS. Dari awal tahun, rupiah bahkan sudah anjlok 9% dibandingkan Rp 16.687 pada 1 Januari 2026.
Angka kurs rupiah spot ini hanya sedikit di bawah posisi terendah sepanjang masa pada Rp 18.188 per dolar AS yang tercatat pada 8 Juni 2026 lalu. Pada siang hari ini, Kamis (29/10/2026) rupiah terpantau menguat 0,35% secara harian menjadi Rp 18.119
Seirama, kurs rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) bahkan melemah lima hari perdagangan beruntun. Hari Rabu (28/10/2026), kurs rupiah Jisdor melemah 0,24% dalam sehari menjadi Rp 18.183 per dolar AS. Ini adalah posisi rupiah Jisdor paling lemah sepanjang masa.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp 18.170 Per Dolar AS Hari Ini (29/10), Asia Perkasa
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman mengatakan, pelemahan rupiah yang bertubi-tubi disebabkan oleh tingginya imbal hasil obligasi AS, penguatan dolar AS, serta kenaikan harga minyak.
Di sisi lain, sentimen negatif dari sisi domestik juga bertambah dari usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut memperbesar premi risiko Indonesia.
Seperti yang diketahui, penyedia indeks global MSCI mengusulkan penurunan status pasar modal Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market. Hal ini imbas kekhawatiran investor global mengenai transparansi, indikasi praktik manipulasi/goreng saham, rendahnya free float, serta tata kelola pasar
“Arus keluar modal asing turut mempercepat depresiasi rupiah. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya persepsi risiko terhadap aset keuangan domestik.” ujar Rizal kepada Kontan, Kamis (29/10/2026).
Rizal mencatat, sepanjang sepanjang 19-23 Oktober 2026, aksi jual bersih atau net sell investor asing di pasar saham mencapai Rp 6,67 triliun. Secara akumulatif sejak awal tahun, net sell asing di pasar saham mencapai Rp 94,87 triliun.
Sementara itu, Surat Berharga Negara (SBN) masih mencatatkan arus masuk modal asing secara kumulatif sebesar Rp 37,9 triliun. Meski demikian, tekanan jual pada SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turut meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Nyaris Cetak Rekor Terlemah, Kepercayaan Investor Asing Terus Memudar
Di tengah tekanan tersebut, sebenarnya Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta instrumen moneter lainnya. Rizal menilai langkah tersebut cukup efektif untuk meredam volatilitas nilai tukar, tetapi nyatanya belum mampu membalikkan tren pelemahan rupiah.
Dengan cadangan devisa sebesar US$ 146,3 miliar dan BI-Rate di level 5,75%, menurut Rizal, ruang bagi BI untuk melakukan stabilisasi masih tersedia. Namun, intervensi moneter saja tidak cukup untuk memulihkan rupiah tanpa perbaikan fundamen tal ekonomi dan kepercayaan investor.
Maka, Rizal memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 18.100-Rp 18.500 per dolar AS hingga akhir 2026, dengan kecenderungan berada di sekitar Rp 18.300 per dolar AS.
“Penguatan bergantung pada meredanya tekanan global, kembalinya modal asing, dan reformasi tata kelola pasar keuangan. Tanpa pemulihan kepercayaan investor, intervensi BI hanya mampu memperlambat depresiasi, bukan membalikkan arah rupiah secara berkelanjutan,” pungkas Rizal.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.180, Ini Dampaknya ke Pasar Saham & Strategi untuk Investor
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














