Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah bergerak stabil cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (26/8/2026).
Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.725 per dolar AS. Rupiah melemah tipis 0,01% dibandingkan posisi perdagangan Selasa (25/8/2026) di level Rp17.723 per dolar AS.
Dengan demikian, rupiah tercatat melemah selama tiga hari perdagangan berturut-turut.
Baca Juga: AS Berencana Buyback Obligasi, Bagaimana Dampaknya ke Yield SBN?
Sementara itu, nilai tukar rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) berada di level Rp17.717 per dolar AS pada Rabu (26/8/2026), setelah kembali diperdagangkan pascalibur.
Posisi tersebut melemah 0,08% dibandingkan Jisdor Senin (24/8/2026) sebesar Rp17.703 per dolar AS.
Pergerakan mata uang Asia lainnya berlangsung bervariasi. Ringgit Malaysia bergerak di sekitar level 4,02 per dolar AS dan menjadi mata uang dengan kinerja paling kuat di kawasan. Ringgit bahkan berada di level terkuat sejak awal Juni.
Penguatan ringgit ditopang oleh penurunan harga minyak serta optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan perdagangan Malaysia.
Sebaliknya, sejumlah mata uang yang sensitif terhadap pergerakan harga minyak, termasuk rupiah, peso Filipina, dan rupee India, masih berada di bawah tekanan.
Baca Juga: Arah IHSG Menjelang Rebalancing Indeks MSCI, Investor Wajib Cermati GOTO dan CPIN
Sepanjang tahun berjalan, rupiah, peso Filipina dan rupee India telah melemah sekitar 4,6%-5,8%.
Kenaikan biaya energi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi sekaligus prospek pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut.
Pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter domestik. Calon tunggal Gubernur BI berikutnya Destry Damayanti menyatakan bahwa sinergi dengan lembaga negara lainnya tidak akan mengurangi independensi bank sentral.
Isu independensi BI menjadi perhatian sepanjang tahun ini. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menunjuk Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI pada Januari 2026.
Selain itu, parlemen pada Juni mengesahkan regulasi yang semakin memperkuat peran BI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Low Tuck Kwong Jajaki Penjualan BYAN, Wacana Diakusisi Haji Isam Makin Mencuat
Di sisi lain, peso Filipina melemah tipis ke level 61,601 per dolar AS.
Bank sentral Filipina diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Kamis (27/8/2026).
Ekspektasi tersebut muncul di tengah kekhawatiran terhadap inflasi dan pelemahan peso yang dinilai lebih besar dibandingkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














