Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rebalancing indeks global oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk periode Agustus 2026 akan mulai berlaku efektif pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026 atau awal perdagangan 1 September 2026.
Menjelang rebalancing MSCI, IHSG pekan ini diperkirakan bergerak mixed dengan volatilitas yang meningkat.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan tekanan terutama berpotensi terlihat pada saham yang terkena pengurangan bobot atau keluar dari indeks, seperti GOTO dan CPIN, karena pasar mengantisipasi passive outflow. Puncak aktivitas kemungkinan terjadi pada sesi penutupan 31 Agustus melalui transaksi closing auction.
Baca Juga: Tender Sukarela Ketrosden (KETR) Diperpanjang hingga 18 September 2026
Memasuki pekan depan, tekanan teknis dapat mulai mereda setelah penyesuaian portofolio selesai, sehingga terbuka ruang untuk technical rebound, terutama apabila foreign flow kembali stabil.
Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran support 6.420–6.450 dan resistance 6.550–6.600. Jika mampu menembus 6.600 disertai nilai transaksi dan aliran dana asing yang kuat, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju 6.700 dalam jangka menengah. Sebaliknya, apabila support 6.420 ditembus, indeks berisiko menguji area 6.300–6.350.
"Jadi, sentimen MSCI lebih banyak memengaruhi volatilitas dan distribusi dana antar saham, bukan otomatis menentukan tren pasar secara keseluruhan," kata Elandry kepada Kontan, Rabu (26/8/2026).
Selain MSCI, Elandry bilang investor perlu mencermati pergerakan rupiah, yield US Treasury, dolar AS, harga komoditas, foreign flow, serta data inflasi dan indikator ekonomi Amerika Serikat yang memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed.
Dari domestik, stabilitas politik dan keamanan juga akan menjadi perhatian. Demonstrasi besok dapat meningkatkan risk aversion secara temporer, tetapi dampaknya terhadap IHSG kemungkinan terbatas selama berlangsung tertib dan tidak mengganggu aktivitas ekonomi secara luas. Tekanan bisa membesar apabila terjadi eskalasi, karena pasar akan menambahkan political risk premium.
Dari sisi strategi investasi, investor sebaiknya memilih saham berkapitalisasi besar, likuid, memiliki free float memadai, serta fundamental dan arus kas yang kuat.
Saham perbankan seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI masih menarik untuk dicermati ketika terjadi koreksi. Selain itu, saham defensif seperti ICBP, MYOR, dan SIDO dapat menjadi pilihan saat volatilitas meningkat, sedangkan saham komoditas seperti ANTM, MEDC, atau ELSA dapat dilirik secara selektif mengikuti harga komoditas.
Baca Juga: Low Tuck Kwong Jajaki Penjualan BYAN, Wacana Diakusisi Haji Isam Makin Mencuat
"Untuk saham yang terkena penghapusan MSCI, investor sebaiknya menunggu tekanan rebalancing mereda dan terbentuknya harga yang lebih stabil sebelum melakukan akumulasi," tutup Elandry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














