Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penawaran awal atau bookbuilding atas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) saham PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan berakhir besok Kamis 27 Agustus 2026. Apakah IPO saham SWAP ini layak dilirik?
Dalam IPO ini, calon emiten yang bergerak di bidang manufaktur produk kesehatan berbasis riset tersebut menawarkan maksimal 323 juta saham baru. Jumlah itu setara dengan 30,30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Berdasarkan data e-IPO, masa bookbuilding SWAP berlangsung pada 24-27 Agustus 2026 dengan rentang harga penawaran Rp130-Rp140 per saham. Dari aksi korporasi tersebut, SWAP berpotensi menghimpun dana maksimal sekitar Rp45,22 miliar.
PT Sukadana Prima Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek dalam IPO SWAP.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.723 Hari Ini, Cek Proyeksi untuk Rabu (26/8)
Prospek bisnis SWAP
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai prospek SWAP cukup positif. Prospek tersebut ditopang oleh meningkatnya kebutuhan produk kesehatan serta model bisnis perseroan yang mengembangkan dan mengomersialisasikan hasil riset Universitas Gadjah Mada (UGM).
Swayasa Prakarsa sendiri didirikan sebagai motor komersialisasi hasil riset UGM. Bisnis perseroan kini mencakup manufaktur alat kesehatan, produk herbal, makanan kesehatan hingga distribusi.
Menurut Azis, pengembangan produk seperti stent jantung, External Ventricular Drain (EVD), dan ventilator neonatal juga dapat menjadi katalis pertumbuhan perseroan ke depan.
Meski demikian, investor perlu mencermati ketatnya persaingan di industri alat kesehatan. Kemampuan melakukan inovasi sekaligus memperluas jaringan distribusi akan menjadi faktor penting bagi pertumbuhan SWAP.
"Pada harga Rp130-Rp140, SWAP memiliki PBV sekitar 2,33-2,38 kali. Namun, kinerja keuangan yang masih mencatat rugi menjadi pertimbangan dan meningkatkan risiko investasi, sehingga valuasi perlu dilihat secara hati-hati," kata Azis kepada Kontan, Senin (24/8/2026).
Senada, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai SWAP memiliki positioning yang cukup berbeda dibandingkan perusahaan kesehatan lainnya.
Menurut Elandry, kekuatan SWAP terletak pada bisnis manufaktur produk kesehatan berbasis riset dan hilirisasi inovasi dari ekosistem UGM.
Namun, skala bisnis SWAP masih relatif kecil. Perseroan juga menghadapi persaingan dengan pemain yang lebih mapan, khususnya dari sisi distribusi, brand awareness dan kemampuan mengomersialisasikan produk.
Tonton: Bukan Tambang! 1.800 Ton Emas Ternyata Dimiliki Masyarakat RI
Kinerja keuangan SWAP
Kinerja keuangan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan investor sebelum membeli saham SWAP.
Berdasarkan prospektus, pendapatan usaha SWAP pada 2025 turun 30,25% secara tahunan menjadi Rp7,12 miliar dari Rp10,21 miliar pada 2024. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi melemahnya penjualan produk Ventilator V-01.
Pada periode yang sama, laba bersih perseroan juga merosot 58,96% menjadi Rp1,42 miliar dari Rp3,46 miliar pada 2024.
Tekanan terhadap kinerja berlanjut pada dua bulan pertama 2026. SWAP mencatat rugi bersih Rp570,59 juta, meski pendapatan usaha tumbuh 28,16% menjadi sekitar Rp588,86 juta. Kenaikan pendapatan tersebut belum mampu mengimbangi pertumbuhan beban pokok penjualan.
"Jadi growth story ada, tetapi execution risk juga masih cukup tinggi," ujar Elandry.
Dengan kondisi tersebut, Elandry menilai SWAP lebih tepat dilihat sebagai saham growth dengan profil risiko agresif, bukan semata-mata sebagai defensive play di sektor kesehatan.
Tonton: Maskapai LCC Asia Tenggara Terjepit: BBM Mahal, Tiket Tak Bisa Naik
Dana IPO SWAP
Dana hasil IPO akan digunakan untuk sejumlah kebutuhan utama perseroan. Dari potensi dana maksimal Rp45,22 miliar, sekitar Rp15,8 miliar dialokasikan sebagai modal kerja, Rp12,2 miliar untuk belanja modal dan Rp12 miliar untuk pembayaran utang.
Dana modal kerja antara lain akan digunakan untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi dan kualitas produk. Sementara itu, belanja modal mencakup pembangunan gedung manajemen dan distribusi serta kebutuhan armada logistik.
Adapun dana untuk pembayaran utang akan digunakan untuk melunasi sebagian kewajiban perseroan kepada pihak terkait.
Menurut Elandry, penggunaan dana tersebut memberikan ruang bagi SWAP untuk memperbesar kapasitas usaha sekaligus memperbaiki struktur keuangan.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan kemampuan perseroan dalam mengubah tambahan modal tersebut menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba.
Tonton: PPPK Guru Dialihkan ke Pemerintah Pusat, Tapi Kesejahteraan Belum Aman? Ini yang Disorot
Strategi investor terhadap IPO saham SWAP
Azis menyarankan investor mencermati sejumlah faktor sebelum berinvestasi di saham SWAP. Beberapa di antaranya adalah valuasi, pertumbuhan fundamental, penggunaan dana IPO, prospek industri serta kemampuan manajemen dalam mengeksekusi strategi bisnis.
Risiko yang perlu diperhatikan meliputi persaingan industri, skala usaha yang masih kecil, risiko pengembangan produk baru serta potensi volatilitas harga saham setelah resmi tercatat di BEI.
Sementara itu, Elandry mengingatkan investor agar tidak hanya melihat harga IPO yang terlihat murah secara nominal.
Menurut dia, investor perlu membandingkan harga penawaran dengan fundamental perusahaan, rekam jejak pertumbuhan pendapatan dan laba, kualitas pengendali, penggunaan dana IPO serta potensi likuiditas saham setelah listing.
"Untuk jangka panjang saya cenderung wait and see terlebih dahulu sampai terlihat konsistensi pertumbuhan revenue, perbaikan profitability serta keberhasilan produk risetnya masuk ke pasar yang lebih luas," tambah Elandry.
SWAP dijadwalkan melanjutkan proses IPO setelah bookbuilding. Berdasarkan jadwal indikatif perusahaan, penawaran umum ditargetkan berlangsung pada 2-8 September 2026 dan pencatatan saham di BEI pada 10 September 2026, dengan tetap memperhatikan proses serta persetujuan regulator.
Dengan demikian, daya tarik utama SWAP berada pada potensi hilirisasi riset kesehatan dan pengembangan produk baru. Di sisi lain, investor perlu menimbang risiko fundamental dan membuktikan terlebih dahulu kemampuan perseroan dalam memperluas distribusi serta mengomersialisasikan produk secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














