kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   -18.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.741   18,00   0,10%
  • IDX 6.406   -95,98   -1,48%
  • KOMPAS100 833   -14,48   -1,71%
  • LQ45 633   -9,40   -1,46%
  • ISSI 225   -3,43   -1,50%
  • IDX30 354   -4,60   -1,28%
  • IDXHIDIV20 432   -4,21   -0,97%
  • IDX80 95   -1,63   -1,69%
  • IDXV30 120   -1,45   -1,19%
  • IDXQ30 113   -1,10   -0,97%

DXY Tertekan, Yuan dan Won Berpeluang Jadi Primadona Valas Asia


Rabu, 26 Agustus 2026 / 16:25 WIB
DXY Tertekan, Yuan dan Won Berpeluang Jadi Primadona Valas Asia
ILUSTRASI. Prospek penguatan mata uang Asia semakin terbuka hingga penghujung 2026 seiring momentum dolar Amerika Serikat (AS) yang mulai kehilangan tenaga (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek penguatan mata uang Asia semakin terbuka hingga penghujung 2026 seiring momentum dolar Amerika Serikat (AS) yang mulai kehilangan tenaga. Namun, pelaku pasar dinilai akan semakin selektif dalam memilih mata uang dengan dukungan fundamental domestik yang kuat.

Mengutip Trading Economics pada Rabu (26/8/2026) pukul 16.12 WIB, Indeks Dolar AS (DXY) berada di level 98,995. Sementara itu, pergerakan mata uang Asia bervariasi, dengan USD/CNY di 6,72034, USD/KRW di 1.385,23, USD/JPY di 159,024, dan USD/IDR di 17.692,9.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan memperkirakan DXY berpotensi bergerak dalam kisaran 96–101 hingga akhir 2026. Skenario utama berada di rentang 97–99, seiring memudarnya momentum bullish dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Negeri Paman Sam.

Meski demikian, DXY masih berpeluang kembali menguji level 100–101 apabila inflasi AS meningkat tajam, The Fed kembali menaikkan suku bunga, atau permintaan aset safe haven meningkat akibat gejolak geopolitik.

Di tengah dinamika dolar AS tersebut, Yuan China (CNY) dan Won Korea Selatan (KRW) menjadi dua mata uang Asia yang menarik untuk dicermati investor.

Baca Juga: IHSG Ditutup Ambruk 1,48% ke 6.405, Top Losers LQ45: DEWA, CUAN, BRPT, Rabu (26/8)

CNY dinilai lebih sesuai bagi investor dengan pendekatan defensif karena People's Bank of China (PBoC) tampak nyaman dengan apresiasi yuan secara bertahap. ING bahkan memproyeksikan USD/CNY dapat turun menuju level 6,64 dalam 12 bulan ke depan.

Sementara itu, KRW menawarkan peluang yang lebih agresif karena mendapat dukungan dari lonjakan ekspor semikonduktor, investasi kecerdasan buatan (AI), serta sikap hawkish Bank of Korea. Kendati demikian, investor disarankan menerapkan strategi buy on correction mengingat penguatan won yang sudah cukup pesat.

Yen Jepang (JPY) juga mulai menarik perhatian pasar seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan menjadi 1,25% pada September. Namun, pergerakan yen masih dibayangi persoalan fiskal Jepang dan risiko carry trade.

Secara umum, prospek mata uang Asia tidak semata-mata bergantung pada pelemahan dolar AS. Pasar kini mulai memperhatikan secara lebih selektif fundamental ekonomi dan kebijakan masing-masing negara.

DXY yang bertahan di bawah level 100, berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta kebijakan buyback obligasi oleh US Treasury menjadi sejumlah faktor yang menopang daya tarik aset Asia.

"Jadi, sekarang menurut saya bukan hanya cerita USD melemah, tetapi pasar mulai lebih selektif mencari mata uang Asia dengan fundamental domestik yang kuat," ujar Brahmantya kepada Kontan, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga: Pasokan Minyak Berpotensi Naik, OPEC+ Hadapi Dilema Produksi

Meski prospek dasar valuta asing (valas) Asia masih positif hingga akhir tahun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Di antaranya adalah rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS, arah komunikasi The Fed, serta potensi kenaikan harga minyak yang dapat memberikan tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi.

"Pejabat Fed Susan Collins bahkan mengatakan suku bunga mungkin perlu dinaikkan jika inflasi tidak menunjukkan penurunan berlanjut," kata Brahmantya.

Proyeksi Valas Asia hingga Akhir 2026

Untuk akhir 2026, USD/CNY diperkirakan bergerak di kisaran 6,60–6,75. Sementara itu, USD/KRW diproyeksikan berada di rentang 1.350–1.425, USD/JPY pada level 155–165, dan USD/IDR di kisaran Rp 17.500–Rp 18.200.

Khusus rupiah, peluang mata uang Indonesia untuk bertahan di bawah level Rp 18.000 per dolar AS semakin terbuka apabila arus modal masuk (capital inflow) membaik dan tren pelemahan dolar AS berlanjut.

Stabilisasi rupiah juga masih ditopang oleh kebijakan Bank Indonesia serta membaiknya arus modal masuk. Namun, investor tetap perlu mewaspadai potensi pelemahan neraca perdagangan, sensitivitas rupiah terhadap harga minyak, serta kondisi likuiditas dolar AS global yang masih ketat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×