Reporter: Shabrina Almaira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berupaya bangkit di tengah tekanan pasar keuangan domestik dan global. Pada perdagangan Rabu (28/10/2026), IHSG ditutup menguat 0,31% atau naik 16,18 poin ke level 5.282,31, setelah sempat merosot hingga 5.167,34.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai penguatan tersebut merupakan technical rebound setelah indeks beberapa kali mendapat respons beli di area support.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pasar keuangan domestik masih menghadapi sejumlah tekanan. Faktor tersebut meliputi pelemahan rupiah di kisaran Rp 18.100 hingga Rp 18.150, arus keluar modal asing, serta kenaikan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang menembus 7,5%.
Menurut Reza, pelaku pasar akan mencermati keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan diumumkan pada Kamis dini hari waktu Indonesia. Konsensus memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,75%-4,00%.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound Terbatas Kamis (28/10), Pasar Menanti Keputusan The Fed
Selain keputusan suku bunga, investor juga akan menyoroti pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai prospek inflasi dan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lanjutan pada Desember mendatang.
Sikap The Fed yang lebih hawkish berpotensi memperkuat dolar AS. Kondisi ini dapat menambah tekanan terhadap rupiah dan aset berisiko di pasar negara berkembang (emerging market).
Dari dalam negeri, perkembangan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholder concentration/HSC) serta rilis kinerja emiten kuartal III-2026 juga menjadi perhatian investor.
"Secara teknikal, IHSG berpeluang melanjutkan technical rebound secara terbatas selama bertahan di atas support 5.118-5.182. Namun, tren utama masih bearish dan MACD tetap berada di zona negatif, meski histogram mulai menyusut yang mengindikasikan tekanan bearish berangsur mereda. IHSG perlu menembus 5.360–5.400 untuk memperkuat momentum pemulihan, dengan resistance berikutnya di 5.455. Sebaliknya, jika kembali melemah dan menembus support, risiko koreksi lanjutan masih terbuka," ujar Reza kepada Kontan, Rabu (28/10/2026).
Untuk perdagangan Kamis (29/10/2026), Reza merekomendasikan tiga saham, yakni PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG).
Baca Juga: Rupiah Kembali Tertekan, Ini Sentimen yang Membayangi
Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai penguatan IHSG terjadi setelah indeks sempat tertekan hingga 5.167,34. Tekanan tersebut dipicu sentimen negatif dari harga minyak yang masih tinggi, depresiasi rupiah, serta antisipasi rebalancing indeks MSCI pada November mendatang.
Alrich menjelaskan, harga minyak kembali menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan negara-negara Teluk agar bersiap menghadapi kemungkinan serangan militer terhadap Iran setelah pemilu sela di AS. Investor juga mencermati hasil pemilu di Israel.
Di pasar valuta asing, rupiah ditutup melemah 0,17% ke level Rp 18.183 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring penguatan indeks dolar AS menjelang pengumuman hasil pertemuan The Fed. Tekanan jual di pasar obligasi Indonesia turut membebani pergerakan mata uang domestik.
Dari sisi teknikal, Alrich memperkirakan IHSG bergerak mendatar atau sideways dalam rentang 5.150-5.350 pada perdagangan berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














