Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham bervaluasi rendah masih menarik untuk dilirik hingga tahun 2027.
Kinerja IDX Value30 bahkan lebih baik dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan sejumlah indeks utama di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Melansir data BEI, IDX Value30 tercatat turun 19,60% sejak awal tahun alias year to date (YTD).
Penurunan IHSG sejak awal tahun tercatat 38,91% YTD.
Sementara itu, indeks LQ45, IDX30, dan IDX80 masing-masing turun 36,28%, 30,71%, dan 40,38% YTD.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan melihat, indeks IDX Value30 berfokus pada saham-saham bernilai murah (undervalued) dengan PER (Price to Earnings Ratio) dan PBV (Price to Book Value) rendah serta rasio profitabilitas yang baik.
Baca Juga: IHSG Menguat ke Level 5.282, Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham untuk Kamis (29/10)
Ketahanan indeks ini didukung oleh karakter defensif konstituennya saat pasar volatil, serta efektivitas rebalancing berkala.
“Kinerja umumnya didukung oleh saham-saham perbankan dengan PBV rendah, emiten energi/komoditas yang membagikan dividen secara konsisten (dividend yield tinggi), serta saham consumer goods berbursa murah yang mengalami pemulihan margin,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (28/10/2026).
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama berpandangan, kinerja IDX Value30 yang relatif lebih baik menunjukkan bahwa saham dengan valuasi menarik, arus kas kuat, dan dividend yield kompetitif masih memiliki daya tahan di tengah tekanan pasar.
Saat sentimen pasar melemah dan terjadi foreign outflow, saham berfundamental baik dengan valuasi terdiskon cenderung lebih defensif.
“Namun, kinerja indeks juga dipengaruhi komposisi dan bobot masing-masing saham,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (28/10).
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan, keunggulan kinerja Value30 berasal dari karakter konstituennya. Saham bervaluasi rendah umumnya sudah terdiskon sejak awal, sehingga ruang penurunannya lebih terbatas saat pasar tertekan.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound Terbatas Kamis (28/10), Pasar Menanti Keputusan The Fed
Indeks utama seperti LQ45 dan IDX30 juga lebih terbebani bobot besar saham perbankan yang menjadi sasaran utama outflow asing tahun ini.
“Secara sektoral, penopang kinerja datang dari saham komoditas berpendapatan dolar dan emiten dengan dividend yield tinggi, meski atribusi per saham secara presisi memerlukan data bobot konstituen terbaru,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (28/10/2026).
Di sisa 2026 dan hingga 2027, saham bervaluasi rendah pun akan tetap diminati dan IDX Value30 masih berpotensi memimpin ketahanan pasar.
David memandang, outperform IDX Value30 masih berlanjut di tengah situasi ketidakpastian makroekonomi pasar global dan domestik.
Sentimen pendorong kinerja konstituennya adalah tren penurunan suku bunga acuan, potensi pembagian dividen interim/final, serta rotasi investor dari saham-saham bervaluasi mahal ke saham bervaluasi murah alias value investing.
Sementara itu, sentimen pemberat berasal dari tingkat daya beli masyarakat yang masih dalam masa pemulihan, fluktuasi harga komoditas global, serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Sektor perbankan dan keuangan diproyeksikan masih menjadi penopang utama berkat likuiditas yang terjaga, margin bunga bersih (NIM) yang stabil, dan pertumbuhan kredit yang konsisten.
Selain itu, emiten dari sektor energi dan komoditas dengan arus kas kuat dan dividend yield tinggi juga memberi bantalan risiko yang baik.
Baca Juga: Dinamika Pasokan Nikel Global Pengaruhi Prospek Saham ANTM
“Di sisi lain, laju emiten sektor industri dasar dan manufaktur masih berat lantaran menghadapi tekanan margin akibat biaya operasional atau fluktuasi harga bahan baku,” ungkapnya.
Elandry menuturkan, meskipun prospek Value30 masih menarik hingga 2027, penguatannya bergantung pada pemulihan kepercayaan investor dan capital flow ke pasar domestik.
Katalis positif meliputi stabilisasi rupiah, potensi penurunan suku bunga, pertumbuhan laba, serta daya tarik dividen.
Sementara itu, risiko foreign outflow, ketidakpastian MSCI, tingginya yield US Treasury, dan volatilitas komoditas masih menjadi pemberat.
“Peluang rebound terbuka, tetapi kemungkinan berlangsung selektif,” ungkapnya.
Dari sisi sektor, emiten perbankan seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berpotensi melaju lantaran diuntungkan ketika aliran dana kembali masuk, didukung pertumbuhan kredit dan kualitas aset.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menarik berkat permintaan konsumen yang relatif stabil, sedangkan PT Astra International Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) memiliki eksposur terhadap ekonomi domestik, otomotif, dan pertambangan.
Untuk saham batubara seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), kinerjanya akan sangat dipengaruhi harga komoditas dan permintaan global.
Sejak awal tahun, saham BMRI, INDF, ASII, dan UNTR tercatat turun 24,71%, 5,90%, 25,37%, dan 13,22% YTD.
Di sisi lain, saham ADRO, PTBA, dan ITMG tercatat naik 34,81%, 40,69%, dan 14,17% YTD.
“Sebaliknya, emiten dengan pertumbuhan laba melemah, tekanan margin, atau ketergantungan tinggi pada siklus komoditas berisiko menjadi pemberat indeks,” tuturnya.
Abida berpandangan, peluang Value30 untuk tetap unggul secara relatif cukup besar selama pasar masih dalam fase risk-off, karena valuasi rendah dan dividen menjadi bantalan.
“Namun ketika pasar pulih secara luas, indeks ini cenderung tertinggal dari saham berbeta tinggi,” katanya.
Baca Juga: Rupiah Dekati Rekor Terlemah, Ekonom Soroti Strategi Hedging BI
Sentimen pendorong kinerja saham konstituennya adalah valuasi murah, kinerja laba yang terjaga, harga komoditas yang solid, dan kepastian status MSCI.
Sementara itu, sentimen pemberat berasal dari outflow asing lanjutan, pelemahan rupiah, serta volatilitas harga komoditas.
Emiten konstituen penggerak utama indeks datang dari sektor komoditas seperti batubara dan logam. Kinerja mereka ditopang harga tinggi dan pendapatan dolar, serta konglomerasi dengan arus kas kuat.
Di sisi lain, pemberat utama indeks adalah saham perbankan besar yang masih tertekan outflow asing dan pengetatan likuiditas, meski fundamentalnya tetap solid dengan laba yang tumbuh.
“Emiten konsumer dengan eksposur bahan baku impor juga berpotensi tertekan margin akibat pelemahan rupiah,” tuturnya.
David merekomendasikan investor untuk buy on weakness atau accumulate untuk saham-saham di indeks IDX Value30 yang memiliki fundamental kuat, kinerjanya konsisten, dan membagikan dividen secara berkala.
Elandry merekomendasikan akumulasi bertahap untuk BMRI, ASII, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan target harga masing-masing Rp 5.450, Rp 6.400, dan Rp 2.880 per saham.
Sedangkan, Abida merekomendasikan beli untuk PTBA, ASII, dan BMRI dengan target harga masing-masing Rp 3.100, Rp 6.850, dan Rp 6.200 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














