Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Sentimen dari penguatan dolar AS menjelang keputusan suku bunga The Fed serta kenaikan harga minyak mentah menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Mengutip Bloomberg, rupiah spot pada perdagangan Senin (14/9/2026) ditutup di level Rp 17.669 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 0,33% dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (11/9/2026) yang berada di level Rp 17.611 per dolar AS.
Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah berada di level Rp 17.635 per dolar AS pada Senin. Level tersebut melemah dibandingkan JISDOR Jumat yang berada di posisi Rp 17.611 per dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari penguatan dolar AS yang dipicu ekspektasi perubahan suku bunga The Fed dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini. Kenaikan harga minyak mentah dunia turut menjadi sentimen negatif bagi rupiah.
Baca Juga: Harga Batubara Menguat, Kinerja Emiten Tambang Diproyeksi Tetap Positif
“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh antisipasi kenaikan suku bunga pada FOMC minggu ini. Harga minyak mentah dunia yang terus meningkat ikut menekan rupiah,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (14/9/2026).
Di tengah sentimen moneter AS, pasar valuta asing juga menghadapi risiko dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran telah mengamankan posisi yang memungkinkan serangan di sekitar Selat Bab el-Mandeb dan sejumlah target energi Arab Saudi.
“Perkembangan ini menutup jalur pasokan minyak penting lainnya di Timur Tengah, terutama mengingat sebagian besar pengiriman minyak Arab Saudi yang biasanya melalui Hormuz telah dialihkan ke jalur Selat Bab el-Mandeb,” ujar Ibrahim.
Risiko terhadap pasokan minyak global semakin meningkat setelah pertemuan regional antara Iran dan negara-negara Teluk yang sedianya digelar pada Senin ditunda. Pertemuan tersebut sebelumnya menjadi salah satu harapan pasar untuk meredakan ketegangan sekaligus membatasi potensi gangguan terhadap pasokan energi.
Penundaan tersebut tanpa kepastian waktu pelaksanaan kembali meningkatkan ketidakpastian terkait kondisi di Selat Hormuz dalam waktu dekat.
“Namun, dengan ditundanya pertemuan tersebut tanpa batas waktu yang jelas, Selat Hormuz kemungkinan akan tetap menjadi wilayah yang diperebutkan dalam waktu dekat,” kata Ibrahim.
Baca Juga: Suahasil Jadi Menkeu, Begini Dampaknya ke Pasar Saham
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat. Inflasi inti AS pada Agustus tercatat naik 0,3% secara bulanan, tidak termasuk pangan dan energi.
Data tersebut turut memperkuat perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed dalam pertemuan FOMC pekan ini. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai sekitar 88%.
Apabila The Fed mengambil sikap yang lebih hawkish, dolar AS berpotensi kembali menguat. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Untuk perdagangan Selasa (15/9/2026), Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.750 per dolar AS.
Sementara itu, Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak volatil dengan kecenderungan melemah. Ia memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp 17.660 hingga Rp 17.710 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














