kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.593.000   1.000   0,04%
  • USD/IDR 17.730   37,00   0,21%
  • IDX 6.437   -24,30   -0,38%
  • KOMPAS100 850   -5,62   -0,66%
  • LQ45 647   -3,80   -0,58%
  • ISSI 223   -0,27   -0,12%
  • IDX30 359   -2,55   -0,71%
  • IDXHIDIV20 447   -3,40   -0,76%
  • IDX80 97   -0,66   -0,67%
  • IDXV30 124   -0,63   -0,51%
  • IDXQ30 116   -0,92   -0,79%

Repons Keputusan The Fed, Intip Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham Ajaib Sekuritas


Kamis, 17 September 2026 / 05:00 WIB
Repons Keputusan The Fed, Intip Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham Ajaib Sekuritas
ILUSTRASI. Pergerakan IHSG (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ternyata tidak terlalu bergantung pada bursa saham global.

Kajian Ajaib Sekuritas terhadap data Juli 2021-Juli 2026 menunjukkan pengaruh sejumlah indeks utama dunia terhadap IHSG memiliki nilai R-Square di bawah 10%.

Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan faktor domestik masih menjadi penggerak utama IHSG, meski pasar saham Indonesia tetap menghadapi sentimen global.

Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (10/9), IHSG Diproyeksi Rebound

Pada periode yang sama, indeks KOSPI memiliki Beta terhadap IHSG sebesar 0,20 dengan R-Square 9,92%. Artinya, sekitar 90,08% pergerakan IHSG dalam kajian tersebut tidak dijelaskan oleh pergerakan KOSPI.

Pola serupa terlihat pada S&P 500 dengan Beta 0,20 dan R-Square 4,26%. Sementara itu, KLCI mencatat Beta 0,43 dengan R-Square 7,31% dan Nikkei 225 memiliki Beta 0,14 dengan R-Square 3,36%.

"Ketergantungan IHSG terhadap pasar global relatif terbatas," ujar Ratih kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pasar keuangan domestik dinilai masih memiliki daya tahan menjelang keputusan suku bunga The Fed.

Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin ke 3,75%-4,00% mencapai 92%.

Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diperkirakan masih terkendali di kisaran 7,10%-7,30%. Kondisi ini ditopang real yield domestik sekitar 4% dengan inflasi Agustus sebesar 3,1%.

Baca Juga: Mengawali Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin (14/9)

Sementara itu, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp 17.500-Rp 17.850 per dolar AS. Pada 16 September 2026, rupiah berada di level Rp 17.712 per dolar AS, atau telah menguat 2,6% dari posisi terendah sebelumnya.

Penguatan rupiah tersebut antara lain ditopang instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Dalam lelang 11 September 2026, SRBI menawarkan imbal hasil 6,8%-7,3% dan menyerap likuiditas hingga Rp 1.062,91 triliun pada Agustus 2026, naik 40,83% dari Rp 754,76 triliun pada Januari 2026.

IHSG Berpeluang Bergerak di 6.400-6.600

Untuk IHSG, Ratih memperkirakan indeks bergerak dalam rentang 6.400-6.600 dalam skenario dasar. Pasar dinilai telah memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga The Fed sehingga ruang kejutan dari keputusan tersebut relatif terbatas.

Dalam kondisi tersebut, rotasi investasi dari saham-saham growth menuju sektor defensif dan komoditas berpotensi mewarnai pergerakan pasar.

Namun, risiko koreksi meningkat apabila The Fed menyampaikan sinyal yang lebih hawkish dan tekanan eksternal kembali menguat. 

Kenaikan harga minyak Brent di atas US$ 110 per barel serta yield US Treasury tenor 10 tahun yang menembus 5,20% dapat membawa IHSG menuju skenario pesimis di kisaran 6.200-6.300.

Di sisi lain, aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik yang mencapai Rp 99 triliun dinilai bukan semata-mata mencerminkan kepanikan atau capital flight. Menurut Ratih, dana tersebut juga mengalir ke instrumen moneter seperti SRBI yang menawarkan imbal hasil menarik.

Baca Juga: Harga Tembaga Menguat, Cermati Rekomendasi Saham dan Prospek Emiten Tembaga

Kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke 5,041% dan tenor 30 tahun ke 5,401%, yang terjadi bersamaan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY), juga menunjukkan investor global tengah melakukan penyesuaian portofolio dan cenderung bersikap wait and see.

Dalam kondisi pasar yang masih berfluktuasi, Ratih menyarankan diversifikasi antara sektor dengan Beta rendah seperti barang konsumen primer dan kesehatan, serta sektor pertambangan dan energi yang dapat menjadi lindung nilai terhadap kenaikan harga minyak.

Untuk sektor perbankan, strategi akumulasi bertahap atau buy on weakness dapat dipertimbangkan ketika terjadi koreksi harga, terutama pada saham bank Himbara yang memiliki yield dividen sekitar 9%-12%.

Adapun saham yang direkomendasikan Ratih antara lain Bank Mandiri (BMRI), Archi Indonesia (ARCI), dan Indosat (ISAT).

Baca Juga: IHSG Diprediksi Konsolidasi Kamis (10/9), Simak Rekomendasi Saham TOWR, PTBA dan ANTM

BMRI direkomendasikan dengan strategi buy on weakness, dengan resistance Rp 4.450 dan support Rp 4.000. ARCI direkomendasikan untuk trading buy dengan resistance Rp 1.420 dan support Rp 1.280. Sementara ISAT memiliki target resistance Rp 2.500 dengan support Rp 2.300.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×