Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
Untuk IHSG, Ratih memperkirakan indeks bergerak dalam rentang 6.400-6.600 dalam skenario dasar. Pasar dinilai telah memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga The Fed sehingga ruang kejutan dari keputusan tersebut relatif terbatas.
Dalam kondisi tersebut, rotasi investasi dari saham-saham growth menuju sektor defensif dan komoditas berpotensi mewarnai pergerakan pasar.
Namun, risiko koreksi meningkat apabila The Fed menyampaikan sinyal yang lebih hawkish dan tekanan eksternal kembali menguat.
Kenaikan harga minyak Brent di atas US$ 110 per barel serta yield US Treasury tenor 10 tahun yang menembus 5,20% dapat membawa IHSG menuju skenario pesimis di kisaran 6.200-6.300.
Di sisi lain, aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik yang mencapai Rp 99 triliun dinilai bukan semata-mata mencerminkan kepanikan atau capital flight. Menurut Ratih, dana tersebut juga mengalir ke instrumen moneter seperti SRBI yang menawarkan imbal hasil menarik.
Baca Juga: Harga Tembaga Menguat, Cermati Rekomendasi Saham dan Prospek Emiten Tembaga
Kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke 5,041% dan tenor 30 tahun ke 5,401%, yang terjadi bersamaan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY), juga menunjukkan investor global tengah melakukan penyesuaian portofolio dan cenderung bersikap wait and see.
Dalam kondisi pasar yang masih berfluktuasi, Ratih menyarankan diversifikasi antara sektor dengan Beta rendah seperti barang konsumen primer dan kesehatan, serta sektor pertambangan dan energi yang dapat menjadi lindung nilai terhadap kenaikan harga minyak.
Untuk sektor perbankan, strategi akumulasi bertahap atau buy on weakness dapat dipertimbangkan ketika terjadi koreksi harga, terutama pada saham bank Himbara yang memiliki yield dividen sekitar 9%-12%.
Adapun saham yang direkomendasikan Ratih antara lain Bank Mandiri (BMRI), Archi Indonesia (ARCI), dan Indosat (ISAT).
Baca Juga: IHSG Diprediksi Konsolidasi Kamis (10/9), Simak Rekomendasi Saham TOWR, PTBA dan ANTM
BMRI direkomendasikan dengan strategi buy on weakness, dengan resistance Rp 4.450 dan support Rp 4.000. ARCI direkomendasikan untuk trading buy dengan resistance Rp 1.420 dan support Rp 1.280. Sementara ISAT memiliki target resistance Rp 2.500 dengan support Rp 2.300.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














