kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.761   68,00   0,38%
  • IDX 6.462   25,58   0,40%
  • KOMPAS100 852   2,28   0,27%
  • LQ45 648   1,42   0,22%
  • ISSI 224   1,27   0,57%
  • IDX30 360   1,29   0,36%
  • IDXHIDIV20 450   2,37   0,53%
  • IDX80 97   0,26   0,27%
  • IDXV30 124   0,43   0,35%
  • IDXQ30 116   0,50   0,43%

Reli Harga Minyak Mulai Tertahan, Risiko Gangguan Pasokan Masih Mengintai


Kamis, 17 September 2026 / 17:34 WIB
Reli Harga Minyak Mulai Tertahan, Risiko Gangguan Pasokan Masih Mengintai
ILUSTRASI. Harga Minyak Mentah AS Di Bawah Nol, Pembeli Tidak Bayar Malah Ditawari Uang (Dok/DW.com)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Reli harga komoditas energi mulai tertahan setelah sebelumnya melonjak akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan di tengah eskalasi geopolitik.

Namun, harga energi diperkirakan masih bergerak volatil hingga akhir 2026 karena risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda.

Melansir Trading Economics pada Kamis (17/9/2026) pukul 16.50 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 101,5 per barel atau melemah 1,05% dalam sehari tetapi melonjak 21,2% sebulan terakhir.

Kemudian minyak Brent dihargai US$ 104,4 per barel, mengalami pelemahan 1,2% secara harian dan masih mencatat kenaikan 15% sebulan.

Baca Juga: Reli Harga Minyak Terhenti: Harga Brent dan WTI Ditutup Melemah Hampir 1%

Ada pun harga batubara bertengger di level US$ 144,8 per ton mengalami kenaikan tipis 0,1% sehari dan melonjak 11,9% dalam satu bulan. Kemudian gas alam dihargai US$ 2,89 per MMBtu menguat tipis 0,01% sehari dan menguat 4,41% sebulan terakhir.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan kenaikan harga minyak belakangan ini dipicu meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat eskalasi geopolitik.

Namun, momentum kenaikan mulai tertahan seiring adanya upaya pemulihan infrastruktur dan pasokan. Salah satunya rencana Arab Saudi memulihkan kapasitas pipa Timur-Barat secara bertahap.

"Jika gangguan pasokan berangsur normal, harga berpotensi terkoreksi, meskipun risiko geopolitik masih menjadi faktor utama yang bisa kembali mendorong kenaikan," ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).

Lukman menjelaskan, dalam jangka pendek, risiko gangguan pasokan akibat geopolitik masih menjadi faktor dominan yang menentukan pergerakan harga minyak.

Baca Juga: Reli Harga Minyak Terus Berlanjut, Seiring Memburuknya Permusuhan di Timur Tengah

Namun, seiring berjalannya waktu, pasar akan kembali mencermati seberapa cepat produksi dan distribusi energi global dapat pulih. Jika pasokan kembali normal, ruang kenaikan harga minyak akan semakin sulit dipertahankan.

"Untuk WTI dan Brent, dalam jangka pendek risiko gangguan pasokan akibat geopolitik masih menjadi faktor dominan, tetapi semakin lama pasar akan kembali fokus pada seberapa cepat produksi dan distribusi global pulih," ujar Lukman.

Soal ini Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, kebijakan The Fed dapat memengaruhi harga minyak terutama melalui pergerakan dolar AS, ekspektasi pertumbuhan ekonomi, dan sentimen risiko.

The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75%-4,0% dalam rapat FOMC September. Sejalan dengan itu, indeks dolar AS (DXY) mengalami penguatan. Saat ini, DXY bertengger di level 100,2 atau menguat 1,1% sepekan.

"Penguatan dolar dapat membuat minyak relatif lebih mahal bagi pembeli non-AS dan menekan permintaan. Suku bunga yang lebih tinggi juga berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi AS dan global sehingga menjadi sentimen negatif bagi demand minyak," jelas Geraldo.

Kemudian Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan mencermati, pergerakan harga minyak saat ini masih dipengaruhi oleh eskalasi geopolitik dan meningkatnya risiko distribusi energi di kawasan Timur Tengah. Risiko tersebut tidak hanya berpusat di Selat Hormuz.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih dari US$1, Konflik AS-Iran Ganggu Selat Hormuz

Meningkatnya ancaman di Bab el-Mandeb dan Laut Merah turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi energi global.

"Artinya, pasar sekarang memasukkan war premium sekaligus logistics premium, sehingga ruang kenaikan masih terbuka," ujar Brahmantya.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia perlu menjadi perhatian bagi Indonesia. Sebagai negara net importer minyak, Geraldo menjelaskan kenaikan harga minyak global dapat memberikan tekanan karena dapat meningkatkan biaya impor energi.

Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit migas dan pada akhirnya menekan surplus perdagangan Indonesia.

Dari sisi inflasi, harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar minyak (BBM), transportasi, logistik, hingga biaya produksi. Tekanan tersebut pada akhirnya dapat mendorong inflasi domestic.

Lebih lanjut Lukman bilang, komoditas energi lainnya memiliki dinamika fundamental yang tidak sepenuhnya mengikuti pergerakan minyak. Harga batubara dan gas alam lebih banyak dipengaruhi oleh faktor seperti permintaan listrik, kondisi cuaca, tingkat produksi, persediaan, serta kebijakan energi masing-masing negara.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 6%, Brent dan WTI Tembus Level US$ 100 per Barel

Lukman memperkirakan harga minyak mentah masih akan bergerak dalam rentang yang cukup tinggi hingga penghujung tahun. Harga minyak WTI diproyeksikan berada di kisaran US$ 80-US$ 90 per barel pada akhir 2026, sedangkan Brent berada di rentang US$ 85-US$ 95 per barel.

Kemudian Lukman memperkirakan harga batubara pada akhir 2026 berada di kisaran US$ 125-US$ 145 per ton. Sementara itu, harga gas alam diproyeksikan bergerak pada rentang US$ 3,5-US$ 4,5 per MMBtu.

“Jika risiko geopolitik mereda dan pasokan kembali normal, harga bisa bergerak menuju batas bawah kisaran tersebut, sementara eskalasi lebih lanjut dapat mendorong harga kembali di atas kisaran proyeksi,” pungkas Lukman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×