Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia perlu menjadi perhatian bagi Indonesia. Sebagai negara net importer minyak, Geraldo menjelaskan kenaikan harga minyak global dapat memberikan tekanan karena dapat meningkatkan biaya impor energi.
Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit migas dan pada akhirnya menekan surplus perdagangan Indonesia.
Dari sisi inflasi, harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar minyak (BBM), transportasi, logistik, hingga biaya produksi. Tekanan tersebut pada akhirnya dapat mendorong inflasi domestic.
Lebih lanjut Lukman bilang, komoditas energi lainnya memiliki dinamika fundamental yang tidak sepenuhnya mengikuti pergerakan minyak. Harga batubara dan gas alam lebih banyak dipengaruhi oleh faktor seperti permintaan listrik, kondisi cuaca, tingkat produksi, persediaan, serta kebijakan energi masing-masing negara.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 6%, Brent dan WTI Tembus Level US$ 100 per Barel
Lukman memperkirakan harga minyak mentah masih akan bergerak dalam rentang yang cukup tinggi hingga penghujung tahun. Harga minyak WTI diproyeksikan berada di kisaran US$ 80-US$ 90 per barel pada akhir 2026, sedangkan Brent berada di rentang US$ 85-US$ 95 per barel.
Kemudian Lukman memperkirakan harga batubara pada akhir 2026 berada di kisaran US$ 125-US$ 145 per ton. Sementara itu, harga gas alam diproyeksikan bergerak pada rentang US$ 3,5-US$ 4,5 per MMBtu.
“Jika risiko geopolitik mereda dan pasokan kembali normal, harga bisa bergerak menuju batas bawah kisaran tersebut, sementara eskalasi lebih lanjut dapat mendorong harga kembali di atas kisaran proyeksi,” pungkas Lukman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














