Reporter: Vivit Dewi | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana sepanjang Oktober 2026 dibayangi tekanan di pasar keuangan domestik. Sentimen evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) memicu koreksi saham-saham Indonesia dan turut menekan rupiah.
Pelemahan mata uang Garuda tersebut juga berpotensi mendorong kenaikan yield Surat Utang Negara (SUN), sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap reksadana pendapatan tetap.
Di tengah kondisi tersebut, reksadana pasar uang justru menjadi jenis reksadana yang mampu mempertahankan kinerja positif. Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengungkapkan, tekanan paling terasa pada reksadana saham, terutama yang berinvestasi di pasar domestik.
"Yang positif reksadana pasar uang. Sementara reksadana saham mengalami penurunan signifikan akibat isu MSCI," ujar Rudiyanto kepada Kontan, Senin (2/11/2026).
Baca Juga: Kinerja Emiten Properti Lesu Sepanjang Kuartal III 2026, Simak Rekomendasinya
Melansir data Panin Asset Management, sejumlah produk reksadana pasar uang mencatatkan return positif dalam satu bulan. Panin Dana Likuid membukukan return sebesar 0,41%, disusul Panin Dana Likuid Syariah sebesar 0,40% dan Panin Dana Likuid US Dollar sebesar 0,16%.
Sebaliknya, reksadana saham mengalami tekanan lebih dalam. Berdasarkan data per 30 Oktober 2026, Panin Dana Prima Kelas A mencatatkan koreksi terdalam sebesar 15,45% dalam satu bulan. Kemudian, Panin Dana Infrastruktur Bertumbuh terkoreksi 14,77% dan Panin Dana Teladan turun 14,55%.
Sebagai perbandingan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 16,70% dalam periode yang sama. Tekanan tersebut sejalan dengan koreksi saham-saham domestik akibat sentimen MSCI.
Selain pasar saham Indonesia, Rudiyanto menjelaskan bahwa koreksi juga terjadi pada saham-saham Amerika Serikat, khususnya yang berkaitan dengan sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut dia, koreksi tersebut dipicu oleh valuasi saham yang sudah relatif tinggi dan menjadi bagian dari penyesuaian pasar yang sehat.
Sementara itu, tekanan pada pasar obligasi domestik turut memengaruhi kinerja reksadana pendapatan tetap. Rudiyanto bilang, bahwa dampak sentimen MSCI terhadap kenaikan yield SUN tidak terjadi secara langsung.
Tekanan terhadap rupiah akibat sentimen tersebut dapat berimbas pada kenaikan yield obligasi pemerintah, yang kemudian menekan harga obligasi dan kinerja reksadana pendapatan tetap.
Untuk prospek ke depan, Rudiyanto menyebut koreksi pasar telah membawa valuasi berbagai jenis reksadana ke level yang relatif murah.
"Secara umum semua reksadana sudah terkoreksi ke valuasi yang sangat murah. Investor bisa berinvestasi sesuai diversifikasi dan profil risikonya masing-masing," tuturnya.
Meski demikian, Panin Asset Management tidak menetapkan proyeksi return reksadana hingga akhir tahun. Investor perlu mempertimbangkan diversifikasi investasi serta memilih produk reksadana yang sesuai dengan tingkat toleransi risiko masing-masing.
Baca Juga: IDX Commodity 20 Jadi Katalis Saham Komoditas, Ini Rekomendasi Analis
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














