Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peluncuran indeks IDX Commodity 20 (IDXCMDTY20) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi meningkatkan eksposur saham-saham komoditas di pasar modal. Meski demikian, kehadiran indeks tersebut belum tentu langsung mendorong kenaikan harga seluruh saham di sektor ini.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menilai IDX Commodity 20 dapat menjadi katalis positif dari sisi visibilitas dan pengembangan investasi sektor komoditas. Indeks ini juga memberikan acuan bagi investor untuk mengukur kinerja saham-saham di sektor tersebut.
"IDX Commodity 20 merupakan katalis positif dari sisi visibilitas dan pengembangan investasi sektor komoditas, tetapi bukan katalis fundamental yang secara langsung meningkatkan nilai perusahaan," ujar Brigita kepada Kontan, Senin (2/11/2026).
Menurut dia, indeks tersebut juga membuka peluang pengembangan produk investasi berbasis indeks, seperti exchange traded fund (ETF) maupun reksa dana indeks. Namun, dampaknya terhadap harga saham akan lebih terasa apabila produk-produk tersebut benar-benar terbentuk dan diikuti aliran dana yang mereplikasi indeks.
Baca Juga: Penjualan Turun 26%, Laba Sunindo Pratama (SUNI) Susut Jadi Rp 117,7 Miliar
Senada, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan peluncuran IDX Commodity 20 menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya tarik sektor komoditas di pasar modal domestik.
"Dalam jangka menengah, pengembangan reksa dana indeks dan ETF berbasis IDX Commodity 20 juga berpeluang mendorong aliran dana pasif, memperluas basis investor, serta meningkatkan likuiditas saham-saham konstituennya," kata Hendra.
Meski begitu, Hendra mengingatkan peluncuran indeks tidak serta-merta menjamin kenaikan harga seluruh saham komoditas. Dampaknya akan bergantung pada realisasi produk investasi yang mengikuti indeks, besarnya dana masuk, serta bobot masing-masing emiten.
Dari sisi pemilihan saham, Brigita menilai emiten dengan bobot indeks besar, likuiditas tinggi, dan porsi saham publik atau free float memadai berpotensi lebih diuntungkan apabila produk investasi pasif berbasis indeks mulai terbentuk.
Namun, ia tetap mengutamakan fundamental perusahaan, seperti biaya produksi yang kompetitif, neraca keuangan sehat, arus kas bebas positif, serta kemampuan menjaga profitabilitas ketika harga komoditas terkoreksi.
Baca Juga: ITSEC Asia (CYBR) Pangkas Rugi Usaha 48% pada Kuartal III 2026, Pendapatan Naik 39%
"Bobot indeks dapat menjadi katalis tambahan, tetapi kualitas fundamental dan valuasi tetap menjadi penentu utama potensi return," jelas Brigita.
Hendra juga menilai emiten dengan biaya produksi rendah, struktur utang sehat, arus kas kuat, serta disiplin belanja modal akan lebih mampu menghadapi volatilitas harga komoditas. Diversifikasi produk, keterlibatan dalam hilirisasi, dan kualitas tata kelola juga menjadi faktor penting dalam menentukan daya tarik investasi jangka panjang.
Di luar konstituen IDX Commodity 20, Brigita menilai saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tetap perlu dicermati. Menurut dia, tidak masuknya kedua saham tersebut ke dalam indeks bukan berarti fundamental maupun prospek investasinya kurang menarik.
Pasalnya, metodologi IDX Commodity 20 menggunakan parameter nilai transaksi, frekuensi perdagangan, dan kapitalisasi pasar free float selama enam bulan terakhir. Seleksi tersebut tidak secara langsung didasarkan pada profitabilitas maupun valuasi perusahaan.
"Karena itu, tidak masuk indeks bukan berarti kualitas fundamentalnya lebih rendah. Menurut saya, investor tetap perlu melihat peluang di luar konstituen indeks, dengan mempertimbangkan valuasi, prospek laba, arus kas, dan ketahanan emiten menghadapi siklus harga komoditas," ujar Brigita.
Hendra juga melihat ITMG dan PTBA masih memiliki daya tarik dari sisi valuasi. PTBA memiliki rasio price to earnings (PE) trailing 12 months (TTM) sekitar 6,03 kali dan forward PE 7,21 kali. Sementara itu, ITMG mencatatkan forward PE sekitar 6,41 kali, lebih rendah dibandingkan PE TTM sebesar 8,14 kali.
ITMG juga memiliki nilai buku per saham Rp 30.104,77 dan kas per saham kuartalan sekitar Rp 11.683,83. Menurut Hendra, posisi tersebut mencerminkan kekuatan neraca dan memberikan ruang bagi perusahaan untuk menjaga ketahanan finansial. Meski demikian, valuasi murah tetap perlu dicermati karena laba emiten batubara sensitif terhadap perubahan harga jual dan permintaan global.
Baca Juga: IHSG Ditutup Menguat ke 5.096,8 Hari Ini (2/11), Top Gainers LQ45: DEWA, INDY, BUMI
Secara sektoral, Brigita melihat prospek komoditas masih menarik, tetapi peluang investasi akan semakin selektif karena setiap komoditas memiliki siklus dan faktor pendorong permintaan yang berbeda.
Dalam jangka pendek, harga komoditas masih dipengaruhi dinamika geopolitik, arah suku bunga global, serta prospek pertumbuhan ekonomi dan permintaan China. Sementara dalam jangka panjang, kebutuhan mineral untuk elektrifikasi, kendaraan listrik, dan infrastruktur energi masih menjadi katalis struktural.
Hendra menambahkan, dinamika geopolitik, kebijakan energi global, permintaan China, serta pergerakan dolar AS dan suku bunga global masih menjadi faktor yang memengaruhi prospek sektor komoditas. Karena itu, investor perlu memperhatikan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas, menghasilkan arus kas, dan membagikan dividen secara berkelanjutan.
Untuk rekomendasi saham, Brigita memilih PT Timah Tbk (TINS). Ia menyoroti laba bersih TINS sepanjang sembilan bulan pertama 2026 yang mencapai Rp 4,1 triliun, meningkat 584% secara tahunan dan melampaui perkiraan konsensus pasar.
Kinerja tersebut didorong peningkatan volume penjualan serta rata-rata harga jual atau average selling price (ASP) pada kuartal III-2026. Selain itu, TINS dinilai menawarkan potensi dividend yield sekitar 9%–11%.
Brigita merekomendasikan buy saham TINS dengan target harga Rp 5.000 per saham.
Sementara itu, Hendra menyarankan investor mencermati ITMG dengan pendekatan speculative buy dan target harga Rp 26.100 per saham. Adapun PTBA dapat dikoleksi secara bertahap melalui strategi buy on weakness di area Rp 3.000, dengan target harga Rp 3.300 per saham.
Hendra menilai rekomendasi tersebut tetap perlu disertai pengelolaan risiko mengingat sektor batubara masih menghadapi ketidakpastian harga global dan transisi energi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














