Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana pada semester I - 2026 terbilang beragam. Ke depan, kinerja reksadana pada semester II – 2026 akan ditentukan oleh seberapa bagus kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) dan obligasi.
Berdasarkan data Infovesta sepanjang semester I - 2026, hanya reksadana pasar uang yang mencetak rata – rata return positif yakni 1,87%. Sementara rata – rata return reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, dan reksadana saham membukukan rata – rata return negatif masing – masing -1,54%, -11,49%, dan -21,87%.
Secara month on month (mom) atau bulanan, kinerja reksadana pasar uang tercatat 0,27%, kinerja reksadana pendapatan tetap -0,92%, kinerja reksadana campuran -3,04%, dan kinerja reksadana saham -5,11%.
Jika dilihat 10 produk reksadana saham terbaik mencatat return -11,34% sampai 0,22% secara year to date (ytd) per Juni 2026. Secara bulanan, 10 produk reksadana saham terbaik mencatat return 0,32% sampai 6,91%.
Berikutnya, 10 produk reksadana campuran terbaik per Juni, mencatat return -0,42% sampai 3,18%. Adapun secara bulanan, 10 produk reksadana campuran terbaik membukukan return 0,84% sampai 3,88%.
Baca Juga: Investor Reksadana Bertambah, Dana Kelolaan Malah Susut Rp 34 Triliun
Selanjutnya, 10 produk reksadana pendapatan tetap terbaik membukukan return 1,98% sampai 4,11% per Juni. Secara bulanan, return reksadana pendapatan tetap terbaik berkisar 0,44% sampai 1,18%.
Lalu, 10 produk reksadana pasar uang terbaik mencetak return 2,45% sampai 2,65% per Juni. Secara bulanan, return reksadana pasar uang terbaik mencatat return berkisar 0,41% sampai 0,50%.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan, prospek kinerja reksadana pada semester II – 2026 akan bergantung pada IHSG hingga obligasi yang notabene merupakan underlying reksadana. Sentimen yang perlu dicermati untuk melihat kinerja reksadana ke depan antara lain terkait dengan laporan keuangan kuartal II – 2026 emiten, tingkat suku bunga acuan domestik dan tingkat suku bunga Amerika Serikat. Ini dapat dilihat dari apakah laporan keuangan kuartal II – 2026 bagus atau tidak, apakah suku bunga atau SRBI masih akan naik, dan apakah bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya.
“Prospek kinerja reksadana mengikuti kinerja IHSG dan obligasi yang jadi aset dasarnya,” ujar Rudiyanto kepada Kontan, Kamis (2/7/2026).
Direktur Investasi PT Sucorinvest Asset Management (Sucor AM), Dimas Yusuf menilai investor tetap perlu mencermati berbagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan pasar ke depan, seperti arah kebijakan suku bunga acuan domestik maupun global, dinamika geopolitik, data-data ekonomi, serta implementasi kebijakan pemerintah untuk stabilitas fiskal.
Baca Juga: Harga Saham dan Obligasi Turun, Dana Kelolaan Reksadana Ikut Tergerus
Adapun untuk investor dengan profil risiko konservatif atau kebutuhan investasi jangka pendek, Dimas menilai reksadana pasar uang berdenominasi dolar AS (USD) dapat menjadi pilihan karena menawarkan likuiditas yang relatif tinggi dengan risiko yang terukur. Sementara itu, bagi investor dengan profil risiko lebih agresif, reksadana campuran maupun reksadana saham global dapat menjadi alternatif untuk memperoleh potensi pertumbuhan yang lebih optimal.
“Dalam jangka panjang, kami memandang investasi pada instrumen berdenominasi dolar AS tetap relevan karena dapat membantu investor meningkatkan diversifikasi portofolio investasinya dari sisi nilai tukar. Sehingga ketika salah satu nilai tukar mengalami tekanan, portofolio pada dolar AS berpotensi menjadi penyeimbang risiko,” ujar Dimas.
Dimas menilai, pergerakan nilai tukar dipengaruhi oleh berbagai sentimen global dan domestik. Mulai dari sikap wait and see terhadap pasar negara berkembang, arus keluar dana asing di pasar saham dan obligasi Indonesia, hingga arah kebijakan bank sentral global yang dinilai beberapa pihak berpotensi hawkish.
Ke depannya, Dimas memperkirakan volatilitas pasar masih akan membayangi pergerakan aset global. Karena itu, perlunya menerapkan strategi pengelolaan aktif melalui manajemen durasi, pemilihan underlying asset berkualitas secara selektif, serta menjaga porsi likuiditas yang memadai untuk mengoptimalkan kinerja reksadana.
Baca Juga: Dana Kelolaan Reksadana Pendapatan Tetap Turun Dalam pada Mei 2026, Ini Penyebabnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














