Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan daya beli masyarakat dan tingginya biaya pembiayaan masih membayangi industri properti nasional. Kondisi ini tercermin dari kinerja keuangan sejumlah emiten properti sepanjang sembilan bulan pertama 2026 yang mayoritas mengalami penurunan pendapatan maupun laba bersih.
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), misalnya, membukukan pendapatan neto sebesar Rp 6,27 triliun hingga kuartal III-2026. Angka tersebut turun 2,09% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan Rp 6,41 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan juga terjadi pada laba bersih SMRA yang menyusut 26,34% YoY menjadi Rp 404,78 miliar.
Kondisi serupa dialami PT Ciputra Development Tbk (CTRA). Perseroan mencatatkan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp 7,48 triliun hingga akhir September 2026, turun 10,79% YoY dari Rp 8,39 triliun. Adapun laba bersih CTRA terkoreksi 18,5% YoY menjadi Rp 1,32 triliun.
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) juga membukukan penurunan pendapatan usaha sebesar 14% YoY menjadi Rp 7,53 triliun pada kuartal III-2026, dibandingkan Rp 8,76 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: IDX Commodity 20 Jadi Katalis Saham Komoditas, Ini Rekomendasi Analis
Meski demikian, secara kuartalan, pendapatan usaha BSDE justru meningkat 17% menjadi Rp 2,79 triliun pada kuartal III-2026, dari Rp 2,38 triliun pada kuartal II-2026.
“Hal ini menunjukkan peningkatan kinerja pada kuartal III dibandingkan kuartal sebelumnya,” kata Hermawan Wijaya, Direktur BSDE dalam keterbukaan informasi tanggal 30 Oktober 2026.
Namun, laba bersih BSDE masih mengalami tekanan. Perseroan membukukan laba bersih Rp 844,69 miliar, turun 38% YoY dibandingkan Rp 1,36 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berbeda dengan ketiga emiten tersebut, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) masih mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan. Hingga sembilan bulan pertama 2026, PWON membukukan pendapatan bersih Rp 5,21 triliun, meningkat 2% dibandingkan Rp 5,12 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Akan tetapi, laba bersih PWON justru turun 23,89% YoY menjadi Rp 1,33 triliun. Penurunan tersebut antara lain dipengaruhi oleh kerugian lain-lain sebesar Rp 327,69 miliar sepanjang kuartal III-2026.
“Dengan portofolio pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran, dan hunian yang saling melengkapi, PWON berupaya memperkuat pertumbuhan recurring revenue sekaligus menjaga profitabilitas dan menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan,” kata Minarto Basuki, Director and Corporate Secretary PWON dalam keterangan resmi, Senin (2/11/2026).
Di tengah tekanan kinerja mayoritas pengembang, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) justru mencatatkan pertumbuhan yang signifikan.
Hingga kuartal III-2026, PANI membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 3,7 triliun, meningkat 19% YoY. Sementara itu, laba bersih perseroan melonjak 145% YoY menjadi Rp 1,9 triliun.
Presiden Direktur PANI, Sugianto Kusuma alias Aguan mengatakan, kinerja keuangan perseroan terutama ditopang oleh serah terima lahan komersial (commercial land plots) di kawasan CBD PIK2 yang menyumbang sekitar 60% dari total pendapatan perusahaan.
Baca Juga: Penjualan Turun 26%, Laba Sunindo Pratama (SUNI) Susut Jadi Rp 117,7 Miliar
“Sementara itu, segmen residensial berkontribusi sebesar 21% terhadap total pendapatan,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, Jumat (30/10/2026).
Aguan menuturkan, kegiatan usaha PANI dijalankan secara konsisten tanpa perubahan signifikan sepanjang kuartal III-2026. Meski demikian, perseroan terus berupaya beradaptasi dengan perkembangan pasar dan perubahan kondisi ekonomi.
“Fokus PANI pun masih tetap pada pengembangan PIK2 sebagai kawasan terpadu yang dapat mendukung aktivitas ekonomi dan memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan,” tuturnya.
Penyebab kinerja emiten properti tertekan
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, pelemahan kinerja mayoritas emiten properti sepanjang kuartal III-2026 dipengaruhi kombinasi perlambatan penjualan properti atau marketing sales, daya beli masyarakat yang belum pulih optimal, serta belum maksimalnya pengakuan pendapatan dari penjualan unit.
Menurutnya, pertumbuhan marketing sales tidak selalu langsung tercermin dalam pendapatan maupun laba bersih pada periode yang sama.
“Ini lantaran terdapat jeda waktu antara penjualan, pembangunan, serah terima unit, hingga pengakuan pendapatan,” ujarnya kepada Kontan, Senin (2/11/2026).
Selain itu, pengembang masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya konstruksi, beban bunga, serta keterbatasan kemampuan masyarakat dalam mengakses pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR).
Pada SMRA, misalnya, pendapatan masih ditopang oleh segmen pengembangan properti dan properti investasi, termasuk kawasan komersial yang menghasilkan pendapatan berulang. Namun, kontribusi segmen tersebut belum mampu menghindarkan perseroan dari penurunan kinerja sepanjang kuartal III-2026.
Sementara itu, tekanan pada BSDE terutama berasal dari segmen residensial. Di sisi lain, segmen komersial dan recurring income masih menunjukkan pertumbuhan.
“Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan komersial, pusat perbelanjaan, perkantoran, dan infrastruktur pendukung masih menjadi penopang penting bagi keberlanjutan bisnis BSDE,” tuturnya.
Baca Juga: ITSEC Asia (CYBR) Pangkas Rugi Usaha 48% pada Kuartal III 2026, Pendapatan Naik 39%
Berbeda dengan SMRA dan BSDE, PWON memperlihatkan bahwa pengembang dengan basis recurring income yang kuat relatif lebih mampu menjaga stabilitas pendapatan.
Sumber pendapatan berulang PWON berasal dari pusat perbelanjaan, hotel, serviced apartment, dan perkantoran. Meski demikian, laba bersih perseroan tertekan akibat pembalikan keuntungan pos lain-lain menjadi kerugian serta peningkatan beban administrasi dan keuangan.
Adapun PANI menunjukkan pertumbuhan yang relatif kuat berkat kontribusi serah terima lahan komersial di kawasan CBD PIK2.
“Ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan,”
Di sisi lain, CTRA masih menghadapi tekanan pendapatan dan laba. Kendati demikian, realisasi marketing sales menunjukkan permintaan terhadap produk properti perseroan masih cukup terjaga.
“Persoalan sektor properti saat ini bukan semata-mata hilangnya permintaan, melainkan bagaimana masing-masing pengembang mengonversi penjualan menjadi pendapatan dan laba secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Efektivitas insentif PPN DTP masih bergantung pada daya beli
Terkait insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), Nafan menilai kebijakan tersebut masih relevan dan menjadi katalis positif bagi industri properti.
Pemerintah melanjutkan insentif PPN DTP sebesar 100% pada 2026 untuk bagian harga jual sampai dengan Rp 2 miliar bagi rumah atau apartemen dengan harga maksimal Rp 5 miliar.
Namun, efektivitas kebijakan tersebut belum tentu optimal apabila tidak dibarengi dengan peningkatan daya beli masyarakat.
Insentif pajak memang dapat mengurangi biaya transaksi pembelian properti. Akan tetapi, kebijakan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan uang muka, kemampuan membayar cicilan KPR, ketidakpastian pendapatan, hingga tingginya biaya hidup.
Dengan demikian, PPN DTP masih berpotensi mendorong permintaan, terutama pada segmen rumah tapak dan apartemen yang memenuhi kriteria. Meski begitu, insentif tersebut bukan satu-satunya faktor penentu pertumbuhan penjualan properti.
Baca Juga: IHSG Ditutup Menguat ke 5.096,8 Hari Ini (2/11), Top Gainers LQ45: DEWA, INDY, BUMI
“Pengembang tetap harus menawarkan produk yang sesuai kebutuhan pasar, memiliki harga kompetitif, lokasi strategis, serta skema pembayaran yang fleksibel,” katanya.
Senada, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti berpandangan, pelemahan kinerja mayoritas emiten properti seperti BSDE, CTRA, SMRA, dan PWON sangat dipengaruhi oleh tekanan daya beli masyarakat kelas menengah.
Tekanan tersebut berasal dari inflasi, tingginya suku bunga KPR, serta keterbatasan keterjangkauan harga rumah yang menyebabkan sejumlah transaksi riil tertunda.
Meski demikian, PWON mencatatkan anomali dengan pertumbuhan pendapatan menjadi Rp 5,21 triliun. Kinerja tersebut ditopang kuat oleh recurring income dari sektor ritel atau mal dan perhotelan yang menyumbang sekitar 85%, meskipun laba bersih mengalami penurunan akibat kerugian lain-lain.
“PANI juga menjadi pengecualian positif dengan lonjakan laba bersih 145% YoY, karena fokusnya pada segmen menengah-atas yang keuangannya lebih kebal terhadap gejolak ekonomi,” ujarnya kepada Kontan, Senin (2/11).
Secara umum, kinerja emiten properti masih terbantu oleh recurring income dari pusat perbelanjaan dan perhotelan. Sementara itu, dari segmen residensial, penjualan rumah tapak dengan harga di bawah Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar masih menjadi salah satu penopang utama.
Ardy menambahkan, insentif PPN DTP 100% juga masih memberikan pengaruh signifikan terhadap penjualan properti dengan kontribusi hampir setengah dari target penjualan.
“Namun, insentif ini tidak cukup untuk menyelesaikan masalah utama konsumen seperti ketidakmampuan membayar uang muka dan kekhawatiran gagal lolos persetujuan KPR,” ungkapnya.
Prospek emiten properti pada kuartal IV-2026 dan 2027
Memasuki kuartal IV-2026, prospek sektor properti diperkirakan masih berlangsung selektif, meskipun terdapat peluang pemulihan secara bertahap.
Nafan menilai, salah satu katalis positif bagi industri properti adalah potensi pelonggaran kebijakan moneter apabila kondisi inflasi dan stabilitas nilai tukar memungkinkan. Dengan begitu, biaya pembiayaan berpeluang menjadi lebih kompetitif.
Selain itu, keberlanjutan insentif PPN DTP, pembangunan infrastruktur, pertumbuhan kawasan perkotaan, serta program pembangunan perumahan pemerintah dapat menjadi faktor pendukung permintaan.
Baca Juga: Volume Pemeriksaan Naik, Pendapatan dan Laba Bersih PRDA Tumbuh Double Digit
Momentum akhir tahun juga berpotensi dimanfaatkan pengembang untuk meningkatkan penjualan melalui program pemasaran, diskon pembelian, dan penawaran skema pembayaran yang lebih fleksibel.
Kendati demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, mulai dari daya beli masyarakat yang belum pulih optimal, suku bunga KPR, kenaikan biaya konstruksi, ketidakpastian ekonomi global, hingga potensi peningkatan kredit bermasalah di sektor properti.
“Oleh karena itu, pengembang yang memiliki proyek siap serah terima, produk dengan harga kompetitif, serta basis konsumen yang kuat berpotensi mencatatkan kinerja lebih baik pada akhir tahun,” tuturnya.
Untuk 2027, prospek industri properti akan sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi domestik, arah suku bunga Bank Indonesia (BI), pertumbuhan pendapatan masyarakat, serta keberlanjutan kebijakan insentif pemerintah.
Emiten dengan diversifikasi pendapatan, recurring income, cadangan lahan strategis, serta struktur keuangan yang sehat dinilai memiliki ketahanan bisnis lebih baik.
PWON, misalnya, menarik dari sisi stabilitas pendapatan berulang karena ditopang oleh pusat perbelanjaan, hotel, dan perkantoran. BSDE memiliki potensi dari pengembangan kawasan terpadu, segmen komersial, serta infrastruktur pendukung.
Sementara itu, CTRA memiliki diversifikasi proyek residensial dan komersial di berbagai wilayah yang dapat menjadi sumber pertumbuhan jangka panjang. Adapun PANI berpeluang mempertahankan pertumbuhan melalui pengembangan kawasan PIK2 dan monetisasi cadangan lahan komersial.
“Namun, investor perlu mencermati kebutuhan belanja modal serta keberlanjutan penjualan dan serah terima asetnya,” ungkapnya.
Ardy memperkirakan, prospek emiten properti hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027 masih menantang. Pemulihan kinerja akan sangat bergantung pada portofolio produk dan segmen pasar yang dibidik masing-masing pengembang.
Menurutnya, pemulihan kinerja emiten properti diproyeksikan lebih terasa pada paruh kedua 2027.
Sejumlah sentimen positif yang diharapkan mampu mendorong kinerja sektor ini antara lain rencana perpanjangan insentif PPN DTP 100% hingga 2027, potensi penurunan suku bunga acuan BI, serta Program 3 Juta Rumah dari pemerintah.
Baca Juga: Harga Emas Coba Bangkit, Arah Suku Bunga The Fed Jadi Penentu
Sebaliknya, stagnasi daya beli masyarakat kelas menengah, ketatnya persetujuan KPR, serta fluktuasi nilai tukar rupiah yang berdampak pada biaya konstruksi masih menjadi sentimen negatif utama.
Dalam periode tersebut, PANI berpeluang mencatatkan kinerja lebih unggul dibandingkan emiten properti sejenis berkat fokus pada segmen mewah. PWON juga diperkirakan mampu mempertahankan ketahanan bisnis melalui recurring income dari pusat perbelanjaan premium.
“Secara fundamental, BSDE dan CTRA jauh unggul karena rekam jejak, diversifikasi, dan cadangan lahan yang kuat,” tuturnya.
Rekomendasi saham emiten properti
Dari sisi rekomendasi investasi, Nafan menyarankan investor untuk mencermati saham SMRA dengan rekomendasi accumulative buy. Ia memasang target harga SMRA sebesar Rp 308 per saham.
Sementara itu, Ardy memberikan rekomendasi buy on breakout untuk saham BSDE dan PWON. Masing-masing saham tersebut memiliki target harga Rp 670 per saham dan Rp 350 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














