Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah kembali menawarkan instrumen investasi Surat Berharga Negara (SBN) ritel melalui Sukuk Tabungan (ST) seri ST017 yang masa penawarannya berlangsung pada 6 November hingga 22 Desember 2026.
Di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan, produk syariah non tradable ini diprediksi menjadi aset defensif incaran investor karena peluang imbal hasil bersihnya yang dinilai kompetitif.
Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede memproyeksikan ST017 akan memberikan penawaran kupon yang menarik, dengan perkiraan utama sebesar 6,90% untuk tenor dua tahun (ST017T2) dan 7,10% untuk tenor empat tahun (ST017T4).
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 18.150 per Dolar AS, Ini Pergerakan Mata Uang Asia
Penetapan angka tersebut mempertimbangkan posisi BI-Rate saat ini yang berada di level 5,75% serta tren peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Kehadiran instrumen syariah ini dinilai menjadi momentum yang pas bagi masyarakat, di mana investor dapat mulai menanamkan modal minimum sebesar Rp1 juta.
"Keunggulan ST017 adalah imbal hasilnya bersifat mengambang dengan batas minimal, sehingga dapat meningkat apabila BI kembali menaikkan suku bunga, tetapi tidak turun di bawah batas awal meskipun BI-Rate kemudian diturunkan," ungkap Josua kepada Kontan, Minggu (1/11/2026).
Tingkat penyerapan seri ST017 diyakini akan berjalan positif. Josua memperkirakan volume penjualan dapat mencapai kisaran Rp 20 triliun hingga Rp 25 triliun, bahkan memiliki peluang mendekati Rp 30 triliun jika tingkat kupon yang ditetapkan pemerintah terbukti mampu bersaing dengan instrumen sejenis.
Optimisme ini terindikasi dari solidnya kinerja SBN ritel sepanjang tahun 2026. Sebut saja, ORI030 yang berhasil terjual Rp 40 triliun, SR025 sebesar Rp 29,77 triliun, maupun SBR015 yang sukses menghimpun Rp17,01 triliun pada Oktober lalu.
"Bahkan, koreksi tajam IHSG dan meningkatnya ketidakpastian akibat MSCI berpotensi mendorong sebagian investor mengalihkan portofolio dari saham menuju instrumen yang memiliki kepastian pembayaran pokok dan imbalan," jelas Josua.
Kendati demikian, investor tetap harus menyesuaikan portofolio dengan kebutuhan likuiditas jangka pendek.
Sebagai instrumen non tradable, ST017 tidak dapat diperjualbelikan sebelum masa jatuh tempo, meskipun tersedia fasilitas pencairan awal (early redemption) maksimal 50% sesuai periode yang ditentukan.
Di sisi lain, dengan proyeksi inflasi akhir 2026 di level 3,13%, penawaran kupon di kisaran 7% dinilai masih mampu memberikan keuntungan riil yang solid.
Dari sisi pergerakan valas, prospek dan daya tarik ST017 juga tidak lepas dari upaya stabilisasi nilai tukar.
Josua menyoroti bahwa Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00% pada November atau Desember 2026.
Langkah ini merupakan strategi antisipatif untuk meredam tekanan terhadap rupiah akibat potensi pengetatan moneter lanjutan oleh The Fed.
Strategi suku bunga yang kompetitif pada instrumen domestik seperti ST017 diharapkan dapat memperkuat daya tahan pasar keuangan dalam negeri di tengah bayang-bayang ketidakpastian arus modal asing.
Baca Juga: Harga Emas Antam Senin (2/11) Naik Rp 5.000 di Rp 2.531.000 per Gram
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














