Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten unggas mendapat sorotan seiring meningkatnya realisasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga 16 September 2026, Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat penyerapan anggaran MBG mencapai Rp139,77 triliun atau 63,89% dari total pagu Rp218,77 triliun.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan percepatan penyerapan anggaran MBG menjadi katalis positif bagi industri unggas. Sebab, program ini menciptakan tambahan permintaan yang relatif lebih terukur untuk protein hewani, termasuk ayam dan telur.
Hingga 16 September, realisasi MBG sudah mencapai Rp139,77 triliun atau 63,89% dari pagu, sehingga masih ada sekitar Rp79 triliun yang berpotensi tersalurkan hingga akhir tahun.
Namun, bukan berarti seluruhnya masuk ke bottom line emiten. MBG lebih tepat dilihat sebagai katalis permintaan yang memperbaiki visibility permintaan, sementara profitabilitas tetap sangat bergantung pada harga jual ayam, DOC, harga pakan, serta efisiensi produksi.
"Dengan demikian, secara jangka pendek MBG cukup menjadi katalis positif bagi sektor poultry," kata Alrich kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).
Baca Juga: The Fed Naikkan Suku Bunga, IHSG Berpotensi Bergerak Volatil Menanti Hasil RDG BI
Alrich menyampaikan sebagian dampak dari realisasi penyerapan MBG mulai terlihat, tetapi belum sepenuhnya terefleksikan dalam fundamental maupun valuasi karena transmisi dari penyerapan anggaran pemerintah ke pendapatan dan laba emiten membutuhkan waktu.
Dari sisi fundamental, emiten unggas juga menunjukkan adanya perbaikan. Sebagai contoh, CPIN pada kuartal I 2026 mencatat penjualan Rp19,95 triliun dan laba bersih Rp2,58 triliun, masing-masing meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, kinerja sektor masih sangat sensitif terhadap siklus harga ayam dan biaya input. Pemulihan harga poultry diperkirakan dapat berlanjut pada semester II 2026 seiring kembali berjalannya program makan gratis, meskipun kenaikan biaya bahan baku pakan tetap menjadi risiko terhadap margin.
"Jadi, MBG bukan satu-satunya driver fundamental, tetapi menjadi faktor tambahan yang memperkuat prospek demand sektor poultry," tambah Alrich.
Alrich juga menyarankan untuk sektor poultry, fokus pada emiten dengan skala bisnis besar, integrasi vertikal dan likuiditas yang baik, terutama CPIN dan JPFA.
Baca Juga: CDS Indonesia Melandai, Premi Risiko Mulai Berkurang
Berikut rekomendasi teknikal saham CPIN dan JPFA:
CPIN
Rekomendasi: Buy
Entry: Di atas Rp3.130
Target 2: Rp3.600
Target 1: Rp3.340
Stoploss: Di bawah Rp3.050
JPFA
Rekomendasi: Buy
Entry: Di atas Rp2.270
Target 2: Rp2.500
Target 1: Rp2.400
Stoploss: Di bawah Rp2.200
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














