Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek mata uang safe haven seperti yen Jepang (JPY) dan franc Swiss (CHF) masih menghadapi tekanan hingga akhir 2026. Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang global.
Melansir Trading Economics pada Senin (27/7/2026) pukul 15.25 WIB yen Jepang berada di level 163,5 per dolar AS atau melemah 10,1% secara tahunan (YoY). Sejalan dengan itu, franc Swiss ada di kisaran 0,82 per dolar AS atau melemah 1,5% YoY.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) terus menguat. Saat ini DXY tercatat di kisaran 101,28 atau menguat 2,68% YoY.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjabarkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjadi katalis utama yang mendorong penguatan dolar AS.
“Pasar memperkirakan suku bunga The Fed akan naik minimal sekali 25bps hingga 50 bps. CHF dan JPY adalah dua mata uang dengan imbal hasil yang sangat rendah, sehingga dijauhi investor,” jelas Lukman kepada Kontan, Senin (27/7/2026).
Baca Juga: Sentimen Suku Bunga Menopang Dolar AS, Yen Jepang dan Franc Swiss Dibayangi Tekanan
Lukman menambahkan, pergerakan mata uang global tidak hanya ditentukan oleh statusnya sebagai aset safe haven. Penguatan maupun pelemahan mata uang juga sangat bergantung pada seberapa jauh ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed.
Adapun ekspektasi kebijakan The Fed, lanjut dia, terutama dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Meski yen masih berpotensi melemah dalam jangka pendek, Lukman menilai mata uang Jepang tersebut sudah terlihat undervalued dan mulai menarik untuk dikoleksi secara bertahap.
Menurut dia, pergerakan USD/JPY di kisaran 163-164 mencerminkan pelemahan yen yang cukup ekstrem. Di sisi lain, sejumlah faktor fundamental mulai memberikan dukungan terhadap yen.
Faktor tersebut antara lain normalisasi kebijakan Bank of Japan (BoJ), potensi penyempitan selisih suku bunga antara Jepang dan AS, serta kemungkinan intervensi pemerintah Jepang untuk menahan pelemahan yen.
Baca Juga: Yen Jepang Melemah, Simak Potensi Aliran Modal ke Emerging Market
Namun, yen masih berisiko melemah lebih dalam apabila The Fed tetap bersikap hawkish dan strategi carry trade terus berlanjut. Menurut Lukman, saat ini strateginya bagi investor lebih baik akumulasi bertahap atau buy on weakness.
Sementara itu, Lukman menilai franc Swiss belum tergolong undervalued. Menurut dia, CHF masih relatif mahal dan tetap menjadi salah satu mata uang safe haven. Selain itu, Swiss National Bank (SNB) juga menunjukkan kesiapan untuk melakukan intervensi apabila franc Swiss menguat terlalu cepat.
“(Untuk CHF) Strateginya adalah buy on dips, terutama ketika terjadi risk-off atau geopolitical shock, tetapi upside dari sisi valuation kemungkinan lebih terbatas dibanding JPY,” jelasnya.
Untuk proyeksi hingga akhir 2026, Lukman memperkirakan indeks dolar AS (DXY) akan bergerak di kisaran 100,3–102,5.
Sementara itu, USD/JPY berpotensi mencapai level 165 sebelum kemudian stabil di kisaran 155-160. Adapun USD/CHF diproyeksikan berada di kisaran 0,78-0,80.
Baca Juga: Pelemahan Berlanjut, Kebijakan AS Pemicu Utama Tekanan pada Yen Jepang (JPY)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














