kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Prospek INCO, INKP, CUAN, dan INDY Menarik, Cek Rekomendasi Sahamnya


Minggu, 09 Agustus 2026 / 16:35 WIB
Prospek INCO, INKP, CUAN, dan INDY Menarik, Cek Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) (Dok/CUAN)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten berbasis komoditas dan tambang dinilai masih menarik, meski fluktuasi harga komoditas global dan ketidakpastian kondisi ekonomi makro masih membayangi pasar.

Sejumlah analis menilai emiten-emiten ini memiliki fundamental yang kokoh, didukung oleh rencana ekspansi bisnis, efisiensi operasional, hingga potensi pertumbuhan kinerja yang solid ke depan.

Berikut rekomendasi saham sektor komoditas dan energi dari sejumlah analis untuk perdagangan Senin (10/8/2026):

1. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)

Analis OCBC Sekuritas Devi Harjoto merekomendasikan buy untuk saham INCO dengan target harga Rp 7.500 per saham.

Kinerja perseroan berpotensi mengalami akselerasi di semester II-2026 seiring rampungnya perbaikan Furnace 3 pada Juni lalu yang akan menggenjot produksi nikel matang hingga 68 ribu ton sepanjang tahun ini.

Selain itu, INCO menunjukkan ketahanan dari sisi pengelolaan biaya bahan bakar (fuel cost management) serta potensi peningkatan kuota RKAB dari pemerintah.

Proyek strategis HPAL di Pomalaa yang telah mencapai progres 65% juga dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal III-2026 dan menjadi katalis pertumbuhan jangka panjang.

Baca Juga: Laba Meroket 313%, Ini Alasan Maybank Pangkas Target Harga Vale Indonesia (INCO)

Kinerja semester I-2026 mencatatkan lonjakan laba bersih 313,4% YoY menjadi US$ 104,4 juta yang turut disokong oleh lompatan penjualan bijih nikel.

2. PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP)

Analis Bahana Sekuritas Arvin Lienardi merekomendasikan buy untuk saham INKP dengan target harga Rp 10.600 per saham.

Katalis utama perseroan bersumber dari beroperasinya pabrik baru di Karawang dengan total kapasitas 2,4 juta ton kertas industri yang diproyeksikan menyumbang pendapatan hingga US$ 594 juta pada 2026.

Pengoperasian fasilitas ini diperkirakan mendorong pertumbuhan laba inti perseroan sebesar 55% YoY pada tahun 2026.

Di sisi lain, tren harga pulp jenis hardwood (BHK) diperkirakan bertahan kuat di atas US$ 600 per ton hingga akhir tahun akibat keterbatasan pasokan global.

Berakhirnya siklus belanja modal (capex) besar juga membuka peluang bagi INKP untuk melakukan deleveraging dan mengembalikan arus kas bebas ke posisi positif.

3. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta merekomendasikan add saham CUAN dengan target harga Rp 935 per saham.

Kinerja perseroan mendapat dorongan positif dari peningkatan volume penjualan batu bara dan mineral serta perluasan portofolio aset tambang yang kian solid.

Sinergi di dalam grup usaha juga dinilai berhasil meningkatkan skala bisnis sehingga memicu lonjakan pendapatan dan laba bersih secara signifikan.

Baca Juga: Emiten Prajogo (CUAN) Kantongi 19,7 Juta Saham Hasil Buyback, Ini Strategi Berikutnya

Meski demikian, berhubung harga saham CUAN telah mengalami apresiasi sangat tinggi sebelumnya, ruang kenaikan harga saham ke depan akan lebih bergantung pada realisasi konkret ekspansi aset tambang dan kemampuan perseroan dalam menjaga konsistensi pertumbuhan labanya.

4. PT Indika Energy Tbk (INDY)

Analis Mandiri Sekuritas Ariyanto Kurniawan merekomendasikan buy saham INDY dengan target harga Rp 4.750 per saham.

Perseroan menikmati perbaikan profitabilitas yang signifikan berkat transformasi bisnis menuju portofolio yang lebih terdiversifikasi di luar sektor batu bara.

Langkah diversifikasi ke bisnis tambang emas dan mineral serta efisiensi operasional terbukti menjadi mesin pertumbuhan baru yang menopang lonjakan laba perseroan.

Dengan kontribusi pendapatan yang semakin beragam, ketergantungan INDY terhadap siklus harga batu bara menjadi berkurang sehingga dapat meredam volatilitas kinerja keuangan dalam jangka panjang.

Baca Juga: INDY Raih Pendapatan US$ 1,15 Miliar di Semester I-2026, Ini Penopangnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×