kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   -18.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.741   18,00   0,10%
  • IDX 6.406   -95,98   -1,48%
  • KOMPAS100 833   -14,48   -1,71%
  • LQ45 633   -9,40   -1,46%
  • ISSI 225   -3,43   -1,50%
  • IDX30 354   -4,60   -1,28%
  • IDXHIDIV20 432   -4,21   -0,97%
  • IDX80 95   -1,63   -1,69%
  • IDXV30 120   -1,45   -1,19%
  • IDXQ30 113   -1,10   -0,97%

Prospek Emiten Semen Masih Positif di 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis


Rabu, 26 Agustus 2026 / 17:54 WIB
Prospek Emiten Semen Masih Positif di 2026, Cermati Saham Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Aktivitas bongkar muat semen merek Indocement (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek emiten sektor semen pada Semester II-2026 masih cukup positif, ditopang tingginya permintaan musiman pada kuartal III serta percepatan proyek infrastruktur pemerintah.

Meski begitu, emiten masih menghadapi tantangan dari suku bunga yang tinggi, pelemahan rupiah, dan kenaikan biaya energi.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama mengatakan, pertumbuhan volume penjualan semen masih berpeluang berlanjut hingga akhir tahun 2026 seiring meningkatnya aktivitas konstruksi.

"Kami melihat prospek kinerja emiten semen hingga akhir 2026 masih cukup positif, didukung pertumbuhan volume domestik dan percepatan aktivitas konstruksi," ujarnya kepada Kontan, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga: Dana Asing Kabur Rp 8,5 Triliun Karena Rebalancing MSCI, Cek Saham Rekomendasi Analis

Sebagai gambaran, konsumsi semen domestik pada Juli 2026 mencapai 6,1 juta ton, naik 10,9% dibanding bulan sebelumnya dan tumbuh 5,9% YoY.

Secara kumulatif, penjualan semen selama tujuh bulan pertama 2026 mencapai 36,1 juta ton atau meningkat 9,5% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Menurut Kevin, katalis utama permintaan semen pada Semester II-2026 berasal dari percepatan realisasi proyek infrastruktur pemerintah, pembangunan jalan, sumber daya air, fasilitas publik, hingga program perumahan subsidi.

Selain itu, cuaca yang lebih kering pada kuartal III diperkirakan akan mendukung percepatan aktivitas konstruksi. Perbaikan aktivitas konstruksi swasta dan sektor perumahan juga berpotensi menambah permintaan semen.

 

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa suku bunga yang masih tinggi tetap menjadi faktor yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi investasi di sektor properti dan konstruksi swasta.

Di sisi profitabilitas, Kevin menilai kenaikan harga jual semen dapat membantu menjaga margin laba, tetapi dampaknya masih terbatas. Persaingan industri yang ketat dan tingkat utilisasi kapasitas yang belum optimal membuat ruang kenaikan harga tidak terlalu besar.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Menguat, Cermati Pemicu dan Saham Rekomendasi Analis

"Ruang untuk meneruskan seluruh kenaikan biaya energi kepada konsumen kemungkinan tidak terlalu besar," jelasnya.

Karena itu, menurut Kevin, emiten yang mampu menjaga margin adalah perusahaan yang mengombinasikan penyesuaian harga dengan efisiensi energi, penggunaan bahan bakar alternatif, peningkatan utilisasi pabrik, serta optimalisasi jaringan distribusi.

Dari sisi emiten, Kevin menilai PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memiliki prospek yang lebih menarik dibanding PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR).

INTP dinilai memiliki kualitas pertumbuhan laba yang lebih baik karena kenaikan volume penjualan diikuti perbaikan margin serta didukung posisi kas yang kuat. Pada Juli 2026, volume penjualan INTP meningkat 13,2% YoY menjadi 1,9 juta ton, sehingga pangsa pasarnya naik menjadi 31,3%.

Sementara itu, SMGR tetap memiliki keunggulan dari sisi skala bisnis dan eksposur terhadap proyek infrastruktur nasional.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Kembali Tertekan, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Jumat (27/3)

Volume penjualan SMGR pada Juli 2026 naik 2,4% YoY menjadi 3,3 juta ton, sedangkan penjualan kumulatif selama tujuh bulan pertama mencapai 21,5 juta ton atau tumbuh 5,1% YoY.

Namun, pangsa pasar domestik SMGR turun menjadi 45,1%, sehingga perseroan masih menghadapi tekanan persaingan dan biaya operasional.

"INTP lebih unggul dari sisi kualitas pertumbuhan laba, sementara SMGR menawarkan leverage operasional yang lebih besar jika permintaan tetap kuat," kata Kevin.

Untuk strategi investasi, Kevin menyarankan investor mencermati peluang buy on weakness pada saham INTP di kisaran harga Rp5.425-Rp5.500 per saham, dengan target harga jangka pendek di area Rp6.075-Rp6.200 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×