Reporter: Ahmad Febrian, Yuliana Hema | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transformasi bisnis PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mulai menunjukkan perkembangan. Riset Energy Shift Institute menyebut, perubahan tersebut mulai tercermin pada bauran pendapatan perseroan, dengan kontribusi bisnis non-batu bara telah mencapai lebih dari 60% pada kuartal I-2026.
Dalam laporan Indonesia’s Coal Sector: Outlook, Risks, and Mitigation Strategies Agustus 2026, Energy Shift Institute menggunakan tujuh tahapan untuk mengukur kemajuan diversifikasi perusahaan batubara. Mulai dari narasi, target, alokasi modal, pembangunan operasional, perubahan revenue mix, dampak terhadap margin, hingga penurunan risiko bisnis.
Dalam kerangka tersebut, TBS telah mencapai tahap revenue mix. Artinya, diversifikasi perseroan mulai terlihat dalam struktur pendapatan dan tidak lagi berhenti pada rencana maupun pembangunan bisnis baru.
Salah satu bisnis yang menopang diversifikasi tersebut adalah kendaraan listrik. Pada kuartal I-2026, pendapatan dari penjualan dan sewa kendaraan listrik mencapai US$ 3,2 juta, melonjak 138% secara tahunan. Jumlah kendaraan listrik yang beredar mencapai 9.082 unit atau tumbuh 78% year on year (yoy), sementara charging station mencapai 426 unit dan transaksi battery swap mencapai 1,1 juta kali per bulan.
“Meskipun kontribusinya saat ini masih relatif kecil, pertumbuhan yang tinggi membuka potensi peningkatan kontribusi secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan,” jelas Research Analyst MNC Sekuritas Raka Junico, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: ADHI Targetkan Restrukturisasi dengan Perbankan Rampung Semester II 2026
Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis menilai perubahan revenue mix menjadi indikator penting karena proses diversifikasi membutuhkan waktu sebelum berdampak pada kinerja keuangan.
“Yang menarik dari TBS adalah transformasinya mulai terlihat di revenue mix. Artinya, perusahaan sudah bergerak dari tahap membangun narasi dan aset baru menuju fase. Bisnis non-coal mulai memberikan kontribusi yang semakin nyata terhadap pendapatan,” ujar Abdul Azis, dalam penjelasannya, Rabu (26/8).
Selain kendaraan listrik, TBS memiliki eksposur pada energi terbarukan dan pengelolaan limbah. Ketiga lini tersebut menunjukkan arah diversifikasi perseroan ke sektor yang berkaitan dengan transisi energi dan ekonomi rendah karbon.
Meski demikian, transformasi tersebut belum sepenuhnya tercermin pada profitabilitas. ESI masih menempatkan TBS dalam kelompok high diversification-low operating margin, dengan OPM berada di kisaran negatif.
“Setelah revenue mix berubah, tahap berikutnya adalah monetisasi. Investor akan melihat apakah energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pengelolaan limbah mampu meningkatkan skala, memperbaiki margin, dan pada akhirnya memberikan kontribusi laba yang lebih besar,” kata Abdul Azis.
Energy Shift Institute menempatkan margin impact dan risk reduction sebagai tahapan lanjutan. Maka, keberhasilan transformasi TBS ke depan akan ditentukan oleh kemampuan bisnis non-coal meningkatkan profitabilitas sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap siklus batu bara.
“Kalau kontribusi non-coal terus meningkat dan mulai diikuti perbaikan margin, transformasi TBS akan semakin lengkap. Pada titik itu, diversifikasi tidak hanya terlihat dari perubahan revenue mix, tetapi juga dari kualitas laba dan kemampuan perusahaan mengurangi risiko bisnis batu bara,” ujar Abdul Azis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














