Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
Karena itu, menurut Kevin, emiten yang mampu menjaga margin adalah perusahaan yang mengombinasikan penyesuaian harga dengan efisiensi energi, penggunaan bahan bakar alternatif, peningkatan utilisasi pabrik, serta optimalisasi jaringan distribusi.
Dari sisi emiten, Kevin menilai PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memiliki prospek yang lebih menarik dibanding PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR).
INTP dinilai memiliki kualitas pertumbuhan laba yang lebih baik karena kenaikan volume penjualan diikuti perbaikan margin serta didukung posisi kas yang kuat. Pada Juli 2026, volume penjualan INTP meningkat 13,2% YoY menjadi 1,9 juta ton, sehingga pangsa pasarnya naik menjadi 31,3%.
Sementara itu, SMGR tetap memiliki keunggulan dari sisi skala bisnis dan eksposur terhadap proyek infrastruktur nasional.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Kembali Tertekan, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Jumat (27/3)
Volume penjualan SMGR pada Juli 2026 naik 2,4% YoY menjadi 3,3 juta ton, sedangkan penjualan kumulatif selama tujuh bulan pertama mencapai 21,5 juta ton atau tumbuh 5,1% YoY.
Namun, pangsa pasar domestik SMGR turun menjadi 45,1%, sehingga perseroan masih menghadapi tekanan persaingan dan biaya operasional.
"INTP lebih unggul dari sisi kualitas pertumbuhan laba, sementara SMGR menawarkan leverage operasional yang lebih besar jika permintaan tetap kuat," kata Kevin.
Untuk strategi investasi, Kevin menyarankan investor mencermati peluang buy on weakness pada saham INTP di kisaran harga Rp5.425-Rp5.500 per saham, dengan target harga jangka pendek di area Rp6.075-Rp6.200 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














