kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.911   -17,00   -0,09%
  • IDX 6.193   74,07   1,21%
  • KOMPAS100 796   7,84   0,99%
  • LQ45 608   4,93   0,82%
  • ISSI 217   4,59   2,15%
  • IDX30 337   1,37   0,41%
  • IDXHIDIV20 431   1,76   0,41%
  • IDX80 91   0,94   1,05%
  • IDXV30 118   1,35   1,16%
  • IDXQ30 110   0,20   0,18%

Prospek Emiten Energi Terbarukan Hingga 2027 Masih Positif


Selasa, 06 Oktober 2026 / 16:44 WIB
Prospek Emiten Energi Terbarukan Hingga 2027 Masih Positif
ILUSTRASI. Analis melihat prospek sektor EBT hingga akhir 2026 dan 2027 masih cukup positif. Prospek tersebut ditopang kebutuhan listrik dan transisi energi. (Dok/Pertamina Geothermal Energy (PGEO))


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten energi baru dan terbarukan atau EBT pada semester I-2026 menunjukkan hasil yang beragam.

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatat pertumbuhan laba, sementara kinerja PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) masih tertekan.

BREN membukukan laba periode berjalan sebesar US$ 105,98 juta pada semester I-2026, meningkat 29% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 82,13 juta. Pendapatan BREN juga tumbuh menjadi US$ 334,44 juta dari US$ 300,07 juta pada semester I-2025.

Sementara itu, laba bersih KEEN turun 24,7% secara tahunan menjadi US$ 6,2 juta pada semester I-2026. Pendapatan KEEN juga turun 11,5% secara tahunan menjadi US$ 16,8 juta pada periode yang sama.

Baca Juga: Arah Pergerakan Rupiah pada Rabu (7/10) Bergantung pada Data Cadev & Risalah The Fed

Di sisi lain, PGEO mencatat kinerja yang lebih positif. Laba bersih PGEO tumbuh 15,48% secara tahunan menjadi US$ 79,61 juta pada semester I-2026, seiring pendapatan yang meningkat 14,7% menjadi US$ 235,03 juta.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, perbedaan kinerja tersebut dipengaruhi karakteristik bisnis dan kondisi operasional masing-masing emiten.

“Setiap emiten memiliki karakteristik bisnis, kapasitas terpasang, jenis pembangkit, dan tahap pengembangan proyek yang berbeda. Selain itu, faktor tarif listrik, volume produksi, kurs, biaya operasional, serta kontribusi proyek baru juga cukup menentukan,” kata Elandry kepada Kontan, Selasa (6/10/2026)

Menurut Elandry, pertumbuhan sektor EBT tidak otomatis membuat seluruh emiten mencatat pertumbuhan kinerja yang sama. Karena itu, meski sentimen pasar terhadap sektor EBT masih positif, fundamental masing-masing emiten tetap perlu diperhatikan secara spesifik.

Elandry melihat prospek sektor EBT hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027 masih cukup positif. Prospek tersebut ditopang kebutuhan listrik yang meningkat serta dorongan transisi energi.

Sentimen positif lainnya berasal dari pipeline proyek baru, potensi kontrak jangka panjang, serta kebijakan pemerintah terkait pengembangan energi terbarukan. Namun, sektor ini tetap menghadapi sejumlah tantangan, terutama kebutuhan belanja modal atau capex yang besar, suku bunga, perizinan, dan risiko keterlambatan proyek.

“Emiten dengan balance sheet kuat dan proyek yang sudah memiliki kepastian offtaker cenderung lebih menarik,” ujar Elandry.

Menurut Elandry, ekspansi masih akan menjadi agenda utama emiten EBT hingga 2027 untuk mengejar pertumbuhan kapasitas. Kontribusi terhadap pendapatan dan laba akan semakin terlihat ketika proyek baru mulai beroperasi secara komersial.

Namun, ekspansi dalam jangka pendek juga dapat menekan arus kas dan meningkatkan kebutuhan pendanaan. Oleh karena itu, investor perlu melihat bukan hanya besarnya pipeline proyek, tetapi juga kualitas proyek dan kemampuan pendanaannya.

Baca Juga: IHSG Menguat 1,21% ke 6.192 pada Selasa (6/10), GOTO, AMMN, INDY Top Gainers LQ45

Sementara itu, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai kinerja PGEO pada tahun ini cukup kuat. Produksi listrik PGEO hingga Juli 2026 mencapai rekor 3.222 GWh, tumbuh 12,7% secara tahunan dan setara sekitar 61% dari target produksi 2026.

Keandalan pembangkit juga membaik dengan availability factor mencapai 99,51% dan tingkat gangguan turun menjadi 0,15%. Kondisi tersebut turut menopang rata-rata capacity factor menjadi sekitar 90,2%.

Abida memperkirakan PGEO membukukan laba bersih tahun 2026 sebesar US$ 144,9 juta, tumbuh 5,2% secara tahunan. Namun, pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini berpotensi melambat apabila pasokan energi fosil kembali normal sehingga dispatch pembangkit panas bumi menurun.

Abida menilai pertumbuhan PGEO hingga 2029 tidak hanya berasal dari proyek Lumut Balai Unit 3 dan 4. Kedua proyek tersebut masing-masing berkapasitas 55 MW, telah memiliki power purchase agreement atau PPA dan akses pendanaan JICA sekitar US$ 307,8 juta.

Namun, Lumut Balai Unit 3 dan 4 masing-masing ditargetkan beroperasi secara komersial pada 2030 dan 2032 sehingga kontribusinya terhadap pendapatan belum terasa hingga 2029.

Pertumbuhan kapasitas hingga 2029 justru akan berasal dari sejumlah proyek lain, seperti Ulubelu Binary berkapasitas 30 MW yang ditargetkan beroperasi pada 2027, Hululais 1 dan 2 sebesar 110 MW pada 2028, serta Gunung Tiga dengan kapasitas 2 x 27,5 MW yang ditargetkan beroperasi pada 2029.

Proyek-proyek tersebut secara bersama-sama diproyeksikan mendorong kapasitas terpasang PGEO dari 727 MW menjadi 988 MW pada 2028. Sementara Lumut Balai Unit 3 dan 4 akan menjadi pendorong pertumbuhan setelah 2029.

Abida juga melihat sejumlah katalis bagi PGEO, termasuk potensi revisi tarif panas bumi melalui peninjauan Perpres 112 Tahun 2022 yang dapat meningkatkan keekonomian proyek baru.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.899 Per Dolar AS Hari Ini (6/10), Asia Bervariasi

Selain itu, terdapat potensi akuisisi aset Geo Dipa sekitar 120 MW serta target penandatanganan PPA proyek co-generation sebesar 230 MW pada kuartal IV-2026.

“Kami merekomendasikan buy PGEO dengan target harga Rp 1.300 per saham berbasis DCF, dengan proyeksi laba naik ke US$ 161,9 juta pada tahun 2027 (perkiraan) seiring tambahan kapasitas,” ujar Abida.

Menurut Abida, target harga tersebut belum memasukkan potensi revisi tarif dan akuisisi Geo Dipa. Kedua faktor tersebut dinilai dapat menjadi upside di luar skenario dasar.

Di sisi lain, Elandry mengingatkan risiko fenomena El Nino terhadap emiten EBT, terutama perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap pembangkit listrik tenaga air atau PLTA.

Penurunan curah hujan akibat El Nino dapat mengurangi debit air dan pada akhirnya menekan volume produksi listrik. Namun, dampaknya akan bergantung pada lokasi dan tingkat diversifikasi sumber pembangkit masing-masing perusahaan.

Mitigasi dapat dilakukan melalui diversifikasi portofolio ke pembangkit panas bumi, tenaga surya, atau sumber EBT lainnya, serta optimalisasi pengelolaan reservoir.

“Dampak El Nino tidak otomatis sama terhadap seluruh emiten EBT,” kata Elandry.

Untuk pilihan saham hingga 2027, Elandry cenderung melihat PGEO sebagai salah satu emiten dengan prospek menarik dari sisi fundamental. Menurutnya, basis bisnis panas bumi yang relatif defensif, recurring revenue, dan pipeline pengembangan yang masih terbuka menjadi sejumlah keunggulan PGEO.

BREN juga dinilai menarik dari sisi pertumbuhan kapasitas. Namun, investor tetap perlu memperhatikan valuasi dan ekspektasi pasar terhadap saham tersebut.

“Untuk PGEO, saya melihat area target harga sekitar Rp 1.400-Rp 1.500 per saham, sementara BREN lebih cocok dilihat dengan pendekatan valuasi dan momentum karena volatility-nya relatif tinggi. Secara umum, saya lebih menyukai emiten dengan kombinasi pertumbuhan kapasitas, kontrak jangka panjang, balance sheet sehat, dan visibilitas laba yang kuat,” tutup Elandry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×