Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja emiten batubara diproyeksikan tetap solid hingga akhir tahun 2026.
Kondisi ini terutama didorong oleh pengetatan pasokan di pasar domestik serta pemulihan harga komoditas global.
Kendati demikian, bayang-bayang efisiensi operasional dan dinamika kuota masih menjadi tantangan utama yang harus dihadapi para produsen batubara.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai bahwa penguatan harga batubara global memberikan angin segar bagi kinerja keuangan emiten di sektor ini.
Selain itu, kenaikan rata-rata harga jual atau average selling price menjadi sentimen positif tambahan yang memperkuat margin usaha.
Disiplin pasokan melalui skema Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang diterapkan pemerintah Indonesia juga turut menjaga keseimbangan pasokan di pasar.
Baca Juga: Harga Batubara Menguat, Kinerja Emiten Tambang Diproyeksi Tetap Positif
Rangkaian faktor positif tersebut menjadi dasar fundamental bagi pergerakan saham emiten batubara seperti PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
"Hingga akhir 2026, prospek emiten batu bara masih ditopang oleh kombinasi harga batu bara yang relatif lebih kuat, pengetatan pasokan Indonesia, serta permintaan listrik Asia yang masih solid," terang Nafan kepada Kontan, Jumat (2/10/2026)
Penguatan harga indeks batubara Newcastle ke kisaran US$136 hingga US$146 per ton terbukti efektif menjaga kestabilan margin laba produsen.
Tren kenaikan harga ini sekaligus memberikan ketahanan tambahan terhadap lonjakan beban operasional tambang.
Dari sisi kinerja operasional, masing-masing emiten memperlihatkan variasi strategi dan ketahanan margin yang cukup beragam.
ITMG mencatatkan kenaikan volume penjualan sebesar 5 persen menjadi 12,3 juta ton pada semester pertama tahun 2026.
Pencapaian penjualan tersebut berhasil diraih perusahaan meskipun volume produksi secara tahunan mengalami penurunan sekitar 5 persen.
Melihat perkembangan positif ini, Analis UBS Global Research Timothy Handerson memilih untuk merevisi naik proyeksi volume produksi ITMG untuk keseluruhan tahun 2026.
Baca Juga: Lonjakan Harga Komoditas Memoles Kinerja Emiten Batubara
Target volume produksi ITMG direvisi naik menjadi sekitar 23 juta ton setelah persetujuan revisi kuota tambang diterbitkan oleh Kementerian ESDM.
Kinerja impresif juga ditunjukkan oleh PTBA yang membukukan lonjakan laba bersih secara signifikan.
Laba bersih PTBA pada semester pertama tahun 2026 melonjak hingga 218% secara tahunan menjadi sekitar Rp 2,7 triliun.
Lonjakan laba PTBA terutama disokong oleh efek operating leverage dari kenaikan rata-rata harga jual sebesar 20% serta efisiensi akibat penurunan stripping ratio.
Pertumbuhan kinerja yang tak kalah cemerlang turut diperlihatkan oleh AADI selama enam bulan pertama tahun ini.
AADI berhasil mencetak laba bersih semester pertama tahun 2026 sebesar US$474 juta atau setara dengan Rp 8,48 triliun.
Angka laba bersih AADI tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 11% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pendorong utama kinerja AADI adalah keberhasilan menekan cash cost menjadi US$49 per ton serta lonjakan volume penjualan sebesar 22% secara kuartalan pada kuartal kedua.
Di sisi lain, BUMI juga memetik manfaat dari pemulihan operasional yang berlangsung sejak awal tahun.
BUMI mencatatkan kenaikan tingkat produksi sebesar 12% yang diimbangi dengan pertumbuhan volume penjualan sebesar 14%.
Kinerja operasional BUMI tersebut terakselerasi seiring dengan perbaikan stripping ratio yang terjaga pada level 7,7 kali.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham dan Prospek Kinerja Emiten Batubara di Paruh Kedua 2026
Managing Director PT Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su memberikan catatan khusus mengenai prospek saham AADI.
"AADI relatif menarik karena volume pengiriman tetap berjalan dan mulai memperoleh tambahan kontribusi dari proyek power Kaltara pada 2H26," kata Harry kepada Kontan, Jumat (2/10/2026).
Meski peluang pemulihan laba terbuka lebar pada semester kedua tahun 2026, para pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi risiko.
Potensi peningkatan biaya bahan bakar atau fuel cost serta risiko kenaikan stripping ratio menjadi perhatian utama para investor.
Selain itu, efisiensi biaya operasional, volatilitas harga komoditas, dan kepastian alokasi kuota produksi RKAB menjadi tantangan struktural yang berpotensi menggerus margin produsen batubara yang kurang efisien.
Berdasarkan pertimbangan dinamika sektor tersebut, para analis memberikan rekomendasi positif bagi emiten batubara.
Analis UBS Global Research Timothy Handerson merekomendasikan buy untuk ITMG dengan target harga Rp 30.000 per saham.
Sementara itu, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas menyarankan buy untuk PTBA dengan target harga Rp 3.320 per saham.
Sedangkan Analis KB Valbury Sekuritas Adolf Setiadi menetapkan rekomendasi buy untuk AADI pada target harga Rp 12.800 per saham.
Adapun untuk saham BUMI, Analis Sinarmas Sekuritas Kenny Shan turut menyematkan rekomendasi buy dengan target harga Rp 290 per saham.
Baca Juga: Emiten Non-Tambang Gencar Akuisisi Perusahaan Batubara, Bagaimana Prospeknya?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














