Reporter: Rashif Usman | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas manufaktur Indonesia semakin bergairah pada periode Februari 2026.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia berada di level 53,8 pada Februari 2026, meningkat dari posisi Januari 2026 yang tercatat 52,6.
Capaian ini menjadi yang tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir dan mencerminkan ekspansi sektor manufaktur yang kian kuat.
Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya mengatakan, penguatan PMI manufaktur seperti saat ini umumnya menjadi katalis positif bagi saham-saham sektor manufaktur, setidaknya hingga Semester I-2026. Menurutnya, ada sejumlah sektor yang berpotensi terdorong.
Pertama, sektor otomotif. Sektor ini biasanya paling cepat merasakan dampak peningkatan aktivitas produksi. Ketika output manufaktur meningkat, penjualan mobil dan motor cenderung ikut terkerek. Kenaikan volume produksi dan penjualan pada akhirnya berpeluang mendongkrak laba emiten otomotif.
Baca Juga: IPO 2026 Masih Seret, Begini Prospeknya di Tengah Kenaikan Free Float
Kedua, sektor barang konsumsi atau fast moving consumer goods (FMCG). Saat aktivitas ekonomi membaik, daya beli masyarakat umumnya ikut meningkat sehingga volume penjualan produk kebutuhan sehari-hari terdorong. Meski pergerakannya relatif stabil dan tidak terlalu agresif, sektor ini tetap berpotensi tumbuh lebih cepat di tengah fase pemulihan ekonomi.
Ketiga, sektor kesehatan dan farmasi. Peningkatan aktivitas industri dapat mendorong produksi dan distribusi. Namun, sektor ini masih sensitif terhadap kenaikan harga bahan baku impor dan pelemahan rupiah. Apalagi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz berpotensi meningkatkan biaya distribusi dan produksi.
Keempat, sektor industri dan bahan baku. Ketika pabrik beroperasi lebih intensif, kebutuhan bahan baku dan kemasan ikut meningkat. Sektor ini kerap menjadi penerima manfaat awal saat siklus industri mulai membaik.
“Apabila PMI manufaktur lagi kuat, biasanya pelaku pasar melihat ini sebagai sinyal awal perbaikan laba emiten industri. Namun respons pasar bisa berbeda tergantung pada fase pergerakan market,” ujar Hendry kepada Kontan, Selasa (3/3/2026).
Baca Juga: IHSG Rawan Lanjutkan Koreksi pada Rabu (4/3), Ini Kata Analis
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menambahkan, kenaikan indeks mengindikasikan peningkatan pesanan baru, output, serta kepercayaan pelaku industri. Sehingga prospek saham sektor manufaktur mulai dari otomotif, kesehatan, hingga consumer goods dinilai tetap positif setidaknya hingga Semester I-2026.
"Momentum ini berpotensi mendukung pertumbuhan pendapatan dan perbaikan margin emiten yang memiliki eksposur kuat pada pasar domestik," ucap Abida.
Selain itu, pelaku pasar umumnya memandang data PMI sebagai indikator awal arah pertumbuhan ekonomi riil, sehingga kenaikan signifikan ini memperkuat sentimen terhadap sektor siklikal.
Meski demikian, investor tetap mencermati faktor eksternal seperti kondisi global, nilai tukar, dan harga komoditas yang dapat memengaruhi biaya produksi. Pendekatan selektif dengan fokus pada emiten berfundamental kuat dan memiliki rekam jejak kinerja stabil tetap menjadi strategi yang relevan.
Sementara itu, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati mengingatkan bahwa prospek sektor otomotif, konsumer, dan kesehatan di 2026 masih dibayangi sejumlah tantangan.
Di sektor otomotif, penjualan kendaraan masih menghadapi risiko suku bunga yang berpotensi lebih tinggi. Adapun sektor consumer goods dinilai belum menunjukkan pertumbuhan signifikan, sementara sektor kesehatan tetap sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar.
"Dengan dinamika yang terjadi saat ini, kami justru melihat peluang di sektor pertambangan seperti batubara, minyak mentah dan emas. Hal ini sejalan dengan dinamika global saat ini," ungkap Ike.
Pilihan Saham
Secara selektif, Hendry menjagokan saham PT Astra International Tbk (ASII). Menurutnya, emiten ini merupakan pemimpin pasar otomotif nasional dengan bisnis terdiversifikasi, mulai dari mobil, sepeda motor, pembiayaan hingga tambang. Kenaikan produksi dan penjualan kendaraan dinilai akan cepat tercermin pada kinerja ASII, ditopang arus kas yang kuat serta rekam jejak pembagian dividen yang konsisten.
Dari sektor konsumer, ia memilih PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Emiten ini memiliki merek yang kuat dan jaringan distribusi nasional. Ketika konsumsi rumah tangga membaik, volume penjualan dinilai berpotensi langsung meningkat. Selain itu, kinerjanya relatif lebih stabil dibandingkan sektor siklikal berat.
Selain itu, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) juga dinilai menarik. Emiten ini memiliki kinerja ekspor yang kuat dengan pasar domestik yang tetap solid. Ketika aktivitas manufaktur meningkat, volume ekspor umumnya turut terdorong.
Baca Juga: Resiliensi Pasar Modal Indonesia di Tengah Gejolak Harga Minyak Global
Bagi investor, Hendry menyarankan untuk tetap mencermati aliran dana dan tren pergerakan harga saham, khususnya bagi trader. Pasar, kata dia, tidak hanya merespons satu angka, tetapi menunggu konsistensi kinerja dan konfirmasi dari laporan keuangan emiten.
Adapun Abida memilih saham ASII yang dapat dijadikan pertimbangan investor. Alasannya, ASII memiliki eksposur yang luas di sektor otomotif dan manufaktur komponen, serta dukungan diversifikasi bisnis yang kuat. Pemulihan daya beli dan peningkatan produksi industri dapat menopang volume penjualan kendaraan dan kontribusi lini bisnis terkait.
"Dengan fundamental yang relatif solid dan posisi pasar yang dominan, ASII dinilai berada dalam posisi yang baik untuk memanfaatkan momentum ekspansi manufaktur," tambah Abida.
Sementara Hendry menyarankan investor untuk mencermati saham ASII, ICBP dan MYOR di target harga masing-masing Rp 6.900-Rp 7.200, Rp 8.400-Rp 8.600 dan Rp 2.250-Rp 2.400 per saham. Sementara itu, Abida merekomendasikan buy saham ASII di target harga Rp 7.450 per saham.
Adapun Ike mengimbau investor untuk lebih peka dan fleksibel dalam mengevaluasi serta menyusun portofolio saham, mengingat dinamika ekonomi yang berubah dengan cepat. Menurut dia, pelaku pasar perlu sigap beradaptasi dan melakukan rotasi ke sektor-sektor yang tengah memiliki momentum.
Untuk jangka pendek, Ike melihat peluang pada saham batubara seperti PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Ia mematok target harga masing-masing di level Rp 27.400 dan Rp 3.240.
Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah ke 7.939,7 Hari Ini (3/3), Top Losers LQ45: UNVR, MDKA, AMMN
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













