Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. 2026 sudah berjalan dua bulan, tetapi sampai awal Maret belum ada satu pun perusahaan yang menggelar penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO).
Dari jumlah antrean di pipeline pun masih tergolong sepi. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hanya ada tujuh perusahaan yang sedang mempersiapkan diri untuk IPO dengan nilai Rp 2,21 triliun per 27 Februari 2026.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2026, total pipeline penghimpunan dana via IPO di OJK mencapai 97 perusahaan dengan total dana yang berpotensi dihimpun mencapai Rp 14,87 triliun.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Sentimen Risk-Off, Ini Proyeksi Kurs Besok Rabu (4/3)
Kalau dibandingkan dengan data per 30 Januari 2026, jumlah perusahaan yang berada di pipeline IPO OJK mengalami penyusutan. Hingga akhir 2026, ada 11 perusahaan yang berencana IPO dengan total nilai Rp 2,72 triliun.
Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pasar Modal, Derivatif Keuangan, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi menjelaskan semua perusahaan yang ada di pipeline OJK sedang berproses sesuai dengan prosedur tanpa menunggu aturan baru.
“Semua sedang kami proses, tetapi kebanyakan kalau di awal tahun ada masa peralihan penggunaan dari laporan keuangan,” jelasnya usai konferensi pers Hasil RDKB OJK Februari 2025, Selasa (3/3/2026).
Hasan menjelaskan dari tujuh perusahaan yang saat ini berada di pipeline, ketika diberikan pernyataan efektif dan mendapatkan persetujuan untuk tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) belum akan terkena kewajiban minimal free float yang baru.
“Karena pada saat peraturan Bursa I-A terbaru, misalnya terbit di Maret ini, makan yang akan terkena nanti adalah calon perusahaan tercatat baru yang memproses persetujuan pernyataan efektif maupun tercatat setelahnya,” katanya.
Hasan menegaskan OJK tidak mengarahkan para calon emiten untuk menunggu perubahan peraturan Bursa I-A diberlakukan. Dia masih optimistis target penghimpunan dana di pasar modal sebesar Rp 250 triliun bisa tercapai.
Baca Juga: Resiliensi Pasar Modal Indonesia di Tengah Gejolak Harga Minyak Global
Pejabat Sementara Bursa Efek Indonesia Jeffrey Jendrik menyampaikan pihaknya tidak masalah jika belum ada perusahaan baru yang tercatat di BEI sampai Maret ini karena fokus utama BEI beralih kepada kualitas.
“Listing merupakan keputusan strategis masing-masing perusahaan, tetapi kami mengundang perusahaan yang punya fundamental baik untuk bertumbuh lebih lanjut di bursa dan berbagi value dengan investor atau publik,” katanya belum lama ini.
Oki Ramadhana, Direktur Utama Mandiri Sekuritas menilai aksi IPO dengan nilai jumbo cenderung lebih sulit terealisasi di tengah dinamika pasar modal akibat pengumuman dari MSCI dan Moody’s.
Dia memastikan dalam pipeline IPO di Mandiri Sekuritas, tidak ada calon emiten yang menunda atau membatalkan rencana. Bahkan, Mandiri Sekuritas akan membawa lebih banyak perusahaan tahun ini.
Oki memandang penerapan batas minimal free float 15% akan meningkatkan kualitas dan fundamental perusahaan yang bakal melantai di BEI sehingga diharapkan dapat menarik minat investor besar.
“Kalau misalkan yang masuk (IPO) cuma sedikit, kan masalah tradability-nya itu kan jadi berisik. Investor tidak bisa transaksi nantinya di aftermarket, di pasar sekunder,” katanya.
Baca Juga: Otoritas Jasa Keuangan Selidiki 32 Dugaan Pelanggaran Pasar Modal
Setali tiga uang, Presiden Direktur KISI Kyoung Hun Nam ketidakpastian pasar akibat sentimen global dan isu indeks MSCI hanya memicu sikap wait and see di kalangan investor.
“Namun kami optimistis aktivitas penghimpunan dana di pasar modal akan berlanjut. Saat ini, kami sekitar tujuh hingga delapan pipeline IPO dan semuanya masih berjalan dengan baik,” ucapnya.
Dia menjelaskan umumnya membutuhkan waktu enam hingga tujuh bulan sehingga sentimen pasar jangka pendek belum berdampak signifikan. Nam memastikan eksekusi IPO di pipeline KISI masih berjalan sesuai dengan rencana.
“Setiap proyek IPO biasanya telah kami bangun lebih dari enam bulan hingga satu tahun, sehingga dampaknya belum signifikan sampai sekarang,” tutur Nam.
Nam menambahkan, proyek IPO yang sedang ditangani berasal dari sejumlah sektor strategis. Sektor tersebut meliputi perbankan, pariwisata, pertambangan, dan infrastruktur.
Dari delapan perusahaan yang ada di pipeline KISI, beberapa diantaranya merupakan perusahaan dengan nilai emisi di kisaran Rp 2 triliun–Rp 3 triliun. Ini tergolong sebagai perusahaan lighthouse.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













