Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga minyak dunia menimbulkan tekanan terhadap harga domestik, termasuk bahan bakar minyak (BBM), sekaligus meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.
Namun, dari sisi pasar modal, Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif kuat.
Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah menjelaskan, gejolak global saat ini tidak serta-merta mendorong investor untuk keluar dari pasar domestik.
Baca Juga: IHSG Rawan Lanjutkan Koreksi pada Rabu (4/3), Ini Kata Analis
Sebaliknya, volatilitas dapat menjadi momentum bagi sebagian investor untuk masuk dan mengoleksi aset keuangan Indonesia.
“Gejolak seperti ini tidak otomatis membuat investor keluar. Justru bagi sebagian pihak, ini bisa menjadi timing untuk masuk dan mengoleksi aset-aset keuangan kita,” ujar Piter dalam keterangannya Selasa (3/3/2026).
Ia menambahkan, meski ada potensi arus keluar modal (capital outflow), skala pergerakannya diperkirakan tidak besar.
Posisi kepemilikan asing di pasar domestik dalam beberapa waktu terakhir sudah mengalami penyesuaian, sehingga ruang bagi arus keluar lanjutan relatif terbatas.
“Untuk aliran capital outflow, saya tidak terlalu khawatir. Dalam beberapa waktu terakhir memang sudah terjadi penyesuaian, sehingga kalaupun masih ada yang keluar, jumlahnya tidak banyak,” jelasnya.
Piter menekankan bahwa seluruh negara terdampak oleh eskalasi geopolitik global, tetapi ukuran resiliensi terletak pada kemampuan bertahan menghadapi tekanan tersebut.
Indonesia, menurutnya, relatif lebih tahan dibandingkan negara-negara dengan ketergantungan ekspor jauh lebih besar, karena struktur ekonomi yang lebih berbasis pasar domestik menjadi bantalan bagi pasar modal.
Baca Juga: Otoritas Jasa Keuangan Selidiki 32 Dugaan Pelanggaran Pasar Modal
Meski demikian, Piter mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak berpotensi menekan inflasi melalui dampak pada BBM dan biaya produksi, yang tetap perlu diantisipasi oleh investor.
“Investor perlu memperhitungkan efek inflasi dan volatilitas nilai tukar, tetapi struktur pasar domestik memberikan ruang relatif untuk bertahan,” ujarnya.
Secara keseluruhan, Piter menilai bahwa kondisi pasar modal Indonesia saat ini menunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian global, dengan peluang tetap terbuka bagi investor yang cermat dan adaptif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












