kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.956.000   -17.000   -0,57%
  • USD/IDR 16.845   66,00   0,39%
  • IDX 8.104   -42,84   -0,53%
  • KOMPAS100 1.140   -5,81   -0,51%
  • LQ45 829   -3,44   -0,41%
  • ISSI 285   -2,28   -0,79%
  • IDX30 433   -0,67   -0,15%
  • IDXHIDIV20 521   1,04   0,20%
  • IDX80 127   -0,56   -0,44%
  • IDXV30 142   0,14   0,10%
  • IDXQ30 140   0,20   0,14%

Permintaan Gas Diproyeksi Meningkat, Analis Kompak Rekomendasi Saham PGN (PGAS)


Kamis, 05 Februari 2026 / 16:57 WIB
Permintaan Gas Diproyeksi Meningkat, Analis Kompak Rekomendasi Saham PGN (PGAS)
ILUSTRASI. PGN LNG Regasifikasi 30 Kargo di FSRU Lampung pada 2026. (DOK/PGN)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatat penurunan laba bersih sepanjang Januari – September 2025. Meski begitu, faktor permintaan industri diproyeksi menjadi katalis pendorong kinerja di tahun 2026. 

PGAS membukukan pendapatan sebesar US$ 2,9 miliar per September 2025, naik 3,8% secara year on year (yoy). Sedangkan laba bersih tercatat sebesar US$ 237,9 juta, turun 9,68% secara yoy. 

Rizal Rafly, Analis Ajaib Sekuritas Asia mengatakan, di tengah percepatan penetrasi energi terbarukan, gas tetap diposisikan sebagai bahan bakar jembatan kritis untuk menjaga keandalan sistem dan stabilitas beban dasar. Ini memperkuat pentingnya peran strategis PGAS sebagai operator transmisi dan distribusi gas yang dominan di Indonesia. 

Baca Juga: BEI Ubah Aturan Free Float, Ini Draft Perubahannya

Penurunan produksi hulu dari ladang yang sudah matang diperkirakan akan memperlebar kesenjangan pasokan domestik, dengan permintaan gas pelanggan PGAS diproyeksikan tumbuh sekitar 2% sampai 3% per tahun. 

“Akibatnya, pangsa Liquefied Natural Gas (LNG) dalam campuran pasokan gas ditetapkan untuk meningkat dari dari sekitar 10% pada tahun 2024 menjadi sekitar 18% - 20% pada tahun 2026, didukung oleh hingga 19 kargo LNG sambil menunggu proyek hulu baru seperti Masela, Andaman, dan Pengembangan Perairan Dalam Indonesia (IDD) menjelang akhir tahun 2020-an,” ujar Rizal dalam risetnya pada 3 Februari 2026.  

Rizal melihat pergeseran ini terjadi dalam kerangka harga yang diatur, di mana harga gas nasional rata-rata dibatasi sekitar US$ 8,3 per Million Metric British Thermal Units (MMBTU), dengan pengguna industri membayar US$ 3 – US$ 6 per MMBTU. Sehingga keterjangkauan LNG dan strategi pencampuran yang efektif sangat penting untuk mencegah peralihan bahan bakar ke alternatif seperti Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan bensin yang tidak disubsidi. 

Secara operasional, PGAS memandu pertumbuhan volume yang tangguh pada tahun 2026, dengan volume perdagangan gas ditargetkan pada 877 Billion British Thermal Units per Day (BBTUD), naik 4% yoy dan transmisi gas meningkat menjadi 1.620 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD), naik 4% yoy. Proyeksi peningkatan itu didorong oleh permintaan industri dan perluasan jaringan di Jawa dan Sumatra. Volume regasifikasi dipandu sedikit lebih rendah pada 219 BBTUD dibanding 227 BBTUD di 2025. Ini seiring dengan optimalisasi pemanfaatan LNG, dengan LNG menyumbang 20% dari pasokan (vs 80% gas pipa). 

Lifting minyak dan gas hulu diproyeksikan meningkat menjadi 19.162 Barrel of Oil Equivalent Per Day (BOEPD), naik 16% yoy, didukung oleh kegiatan pengeboran dan perbaikan sumur. Sementara volume transportasi minyak secara umum tetap stabil di 175.011 BOEPD dan volume pengolahan LPG menurun menjadi 100 Ton Per Day (TPD) (turun 12% yoy) sebagai bagian dari rasionalisasi portofolio. 

Selain prospek pasokan gas yang lebih baik pada tahun 2026 dengan lebih banyak kargo LNG yang diamankan, PGAS juga mengungkapkan bahwa mereka mampu mengamankan persyaratan yang lebih menguntungkan pada harga. Menurut Timothy Handerson, Analis UBS Sekuritas Indonesia, hal itu menunjukkan harga gas yang lebih rendah dan keterjangkauan yang lebih baik bagi pelanggan akhir mereka. 

Baca Juga: BEI: Revisi Aturan IPO Tak Hambat Minat Perusahaan Go Public

Bersamaan dengan itu, PGAS juga memandu spread distribusi gas tahun 2026 berada di US$ 1,65 – US$ 1,85 per MMBTU. Secara umum sejalan dengan ekspektasi UBS Sekuritas Indonesia sebesar US$ 1,9 per MMBTU untuk tahun 2026/2027. Timothy percaya peningkatan kontribusi LNG yang diharapkan mendukung tantangan struktural dalam mengamankan pasokan gas. Terutama untuk pasar gas yang diatur, dan membatasi penurunan margin distribusi gasnya. 

Selain itu, PGAS menetapkan target belanja modal alias capital expenditure (capex) tahun 2026 sebesar US$ 353 juta naik 14% dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar US$ 311 juta. Ini sedikit di bawah ekspektasi UBS Sekuritas sebesar US$ 384 juta pada tahun 2026. 

“Kami memperkirakan rasio pembayaran dividen yang lebih tinggi sekitar 90% pada tahun 2026 dan 100% pada tahun 2027 (dibandingkan 80% pada tahun 2025), yang diterjemahkan menjadi imbal hasil dividen sekitar 10% - 12% per tahun, meskipun panduan manajemen yang konservatif memperkirakan rasio pembayaran dividen sekitar 60% - 80% untuk tahun 2026,” jelas Timothy. 

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas mengatakan, risiko utama yang perlu dicermati terkait PGAS berasal dari ketatnya pasokan gas akibat penurunan lifting upstream, potensi tekanan margin dari regulasi harga, serta kenaikan biaya operasional.

“Fokus pasar pada kebijakan harga dan alokasi gas, realisasi volume niaga gas industri, serta dividen yield yang tetap menarik,” ujar Sukarno kepada Kontan, Kamis (5/2/2026). 

Rizal memproyeksikan pendapatan dan laba bersih PGAS tahun 2025 masing – masing mencapai US$ 3,79 miliar dan US$ 320 juta. Pendapatan dan laba bersih PGAS tahun 2026 diprediksi mencapai US$ 3,91 miliar dan US$ 361 juta. Adapun pada tahun 2024, PGAS mengantongi pendapatan US$ 3,78 miliar dan laba bersih US$ 339 juta. 

Rizal dan Timothy merekomendasikan Buy saham PGAS dengan target harga masing-masing Rp 2.500 per saham dan Rp 2.400 per saham. Sementara Sukarno merekomendasikan Trading Buy saham PGAS dengan target harga Rp 2.310 – Rp 2.500 per saham.   

Baca Juga: Minna Padi Investama (PADI) Sebut Dirut Tak Pernah Jadi Tersangka

Adapun risiko utama yang perlu dicermati investor terkait PGAS adalah ketergantungan yang berkepanjangan pada LNG berbiaya tinggi yang menekan margin, penundaan infrastruktur dan pelaksanaan proyek LNG, serta ketidakpastian regulasi seputar penetapan harga gas dan kebijakan transisi energi.

Selanjutnya: Kemenperin: Insentif Mobil Listrik 2026 Masih Dibahas, Belum Diputuskan

Menarik Dibaca: Hasil BATC 2026: Kalah dari Jepang, Tim Putri Indonesia Runner-Up Grup X

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×